Tingkat Literasi Media dalam Pemanfaatan Internet

oleh -500 views
Di "Pasar Shadaqah" juga terdapat lapak baca gratis yang disediakan Compok Literasi

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin pesat, menyebabkan semakin bervariasinya pola pemanfaatan terhadap internet, baik untuk tujuan positif maupun negatif. Agar dapat terhindar dari dampak negatif internet, maka dibutuhkan literasi media bagi para pengguna internet.

Tujuan dari penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh karakteristik responden terhadap tingkat literasi media remaja desa dan menganalisis hubungan antara tingkat literasi media remaja desa dengan pemanfaatan internet dengan menjadikan 45 pengurus Karang Taruna Desa Cibanteng sebagai responden. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif.

Hasil dari penelitian ini adalah terdapat karakteristik responden yang berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat literasi media remaja desa dan tingkat literasi media remaja desa memiliki hubungan yang nyata dengan pemanfaatan internet yang dilakukan.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang semakin pesat menyebabkan aktivitas komunikasi antar manusia menjadi semakin mudah. Seiring semakin berkembangnyateknologi digital, bentuk media massa pun mengalami perubahan bentuk digitalisasi, salah satunya adalah internet.

Internet menawarkan berbagai fasilitas yang murah dan bermanfaat sehingga masyarakat pun menerima kehadiran internet dengan tangan terbuka. Melalui internet, masyarakat dapat memperoleh informasi dari seluruh penjuru dunia dengan hanya hitungan detik dan biaya yang murah.

Selain cepatnya informasi, internet juga dapat digunakan oleh masyarakat dari berbagai usia, mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak-anak. Kini internet tidak lagi hanya menjadi medium untuk menyampaikan surel ataupun sekedar mencari berita saja, tetapi kini dengan internet masyarakat mulai mengenal yang dinamakan media sosial (Twitter, Instagram, Facebook, YouTube, dsb) dan pesan instan (WhatsApp, LINE, Blackberry Messenger, dsb). Fasilitas dan konten internet yang semakin berkembang berarti semakin banyak menyediakan pilihan sehingga menghasilkan pemanfaatan internet yang semakin beragam pada masing-masing individu.

Pemanfaatan internet tersebut tidak hanya tergambar dari durasi dan frekuensi mengakses internet, tetapi juga fasilitas apa yang dimanfaatkan oleh pengguna internet saat menggunakan internet. Semakin banyaknya fasilitas dan semakin luasnya pemanfaatan internet tidak selalu memberikan dampak positif bagi penggunanya.

Rendahnya Literasi Media
Zikria Dzatil, perempuan 43 tahun yang menghina Wali Kota Surabaya akibat postingan di Facebook-nya, akhirnya ditangkap. Sambil terisak tangis, ibu tiga anak asal Bogor ini mengaku menyesal atas perbuatannya. Ia meminta maaf kepada Ibu Risma sang wali kota. Katanya, ujarannya di media sosial itu hanya sekadar emosi dan terbawa situasi di media sosial.

Dia tentu hanya salah satu dari ribuan contoh orang yang gagal bermedia sosial. Bukti rendahnya literasi media sosial di kalangan masyarakat. Media sosial dipakai hanya untuk menebar kebencian yang akut, menyebarluaskan berita bohong. Bahkan tidak jarang di dekat kita sekarang, mereka yang masih saja menggunakan media sosial tanpa adab. Sekali lagi, ini bukti rendahnya literasi media sosial. Walau di saat yang lain, mengaku berpendidikan.

Baca :  Mapa Foundation Adakan Gerakan Literasi #4 di Kampung Tajurhalang

Agak aneh. Zikria Dzatil itu warga Bogor, tapi berani menghina Wali Kota Surabaya yang jauh secara geografis dengannya. Konon, dia emosi dan ingin membela Gubernur DKI Jakarta yang juga bukan wilayahnya untuk dibela. Jadi, apa sebenarnya yang dibela? Lalu kenapa pula harus membenci orang yang tidak dia kenal dan jauh dari lingkungannya? Sungguh, jawabnya hanya kebencian yang akut ada pada dirinya. Termasuk rendahnya literasi media sosial yang dia miliki. Itu fakta.

Tentu, bukan hanya Zikria Dzatil yang harus belajar dari kondisi ini. Namun, semua yang bermedia sosial pun harus mengambil hikmah dari apa yang terjadi. Untuk apa bermedia sosial, bila akhirnya menyengsarakan diri sendiri dan bahkan keluarga? Apa dalil yang membenarkan kebencian layak diumbar di media sosial?

Sungguh, tidak ada urusan siapa membela siapa. Bahkan siapa membenci siapa. Silakan dan itu hak masing-masing. Tapi penting di kedepankan, mengapa kebencian harus diumbar di media sosial? Lalu, mengapa banyak orang gemar menebar kebencian via media sosial? Kenapa dan kenapa?

Literasi media sosial sejatinya adalah kesadaran masyarakat untuk memahami fungsi media sosial. Bukan hanya mampu memilih informasi yang baik. Tapi setiap pengguna media sosial pun harus mampu melibatkan akal budi pada setiap unggahannya. Bermedia sosial tidak cukup hanya akal, tapi budi pekerti atau akhlak pun harus diikutsertakan.

Maka dibutuhkan kehati-hatian dalam bermedia sosial. Sehingga jangan ada lagi Zikria Dzatil yang lainnya di masa yang akan datang. Cukuplah media sosial digunakan sebagai alat ekspresi yang berkonten positif. Atau kritikan yang sifatnya membangun dan solutif. Bukan soal remeh-temeh yang akhirnya menjadi “boomerang” bagi penggunanya. Akibat gemar menebar kebencian dan berita bohong di media sosial

Rendahnya Literasi Berujung Maut
Aksi menantang maut untuk membuat sebuah konten di media sosial (medsos) marak akhir-akhir ini. Salah satu konten yang viral belakangan ini adalah challenge malaikat maut. Konten ini menantang warganet untuk menghadang truk yang sedang melaju di jalanan. Aksi nekat ini berulang kali dilakukan sejumlah remaja dan memakan korban jiwa di berbagai tempat.

Minimnya literasi dalam menggunakan media sosial menjadi salah satu pemicunya. Hal itu terungkap dalam diskusi bertajuk “Obrol-obrol Literasi Digital” yang digelar secara daring oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo).

Baca :  Sedekah Buku untuk Kemajuan Bangsa

Dalam diskusi tersebut dibahas mengenai perkembangan teknologi dan informasi serta populernya media sosial ternyata memicu banyak penyimpangan. Hal itu diakibatkan minimnya etika bersosial bermedia oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat media sosial sebenarnya sangat bermanfaat asal para penggunanya terliterasi dalam berkegiatan di media sosial.

Untuk mencegah terulangnya kasus tersebut, Kemenkominfo lewat Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) mengajak kepada semua kalangan untuk mencegah pembuatan konten yang berujung maut. Pesan ini penting disampaikan mengingat saat ini media digital menjadi salah satu sarana atau ruang bagi semua kalangan untuk berkomunikasi dan mengenal dunia lebih luas.

Salah seorang konten kreator Agnes Tasia mengatakan, fenomena banyaknya konten negatif di media sosial ini bisa diredam oleh para konten kreator lainnya. Sebagai figur publik dunia maya konten kreator memiliki tanggung jawab sosial untuk melahirkan masyarakat Indonesia yang berliterasi digital.

Menurut dia, bagi yang tidak memiliki banyak pengikut juga tetap bisa meredam fenomena ini dengan peduli terhadap orang-orang terdekat. “Aku biasanya membuat konten positif di media sosial dan tentunya memberikan edukasi. Dan bukan hanya konten kreator yang memiliki banyak pengikut untuk memberikan edukasi ini. Bisa kita mulai dari orang-orang terdekat,” ujarnya, pada Jumat (17/3/2023).

Senada, Creatif Director and Head of Content Satu Persen Danang Cikal Andaru menambahkan salah satu strategi lain agar meredam beredarnya konten negatif adalah dengan cara berhenti membagikan atau menyebarluaskan konten-konten tersebut.

“Salah satu yang menyebabkan eksisnya konten-konten ini adalah adanya over sharing. Bisa jadi mereka itu kurang perhatian, jadi ada orang nekat buat konten hanya karena ingin diperhatikan. Karena kurang perhatian, akhirnya mencari perhatian lain di media sosial. Diskusi ini kita belajar untuk menyelamatkan orang-orang tersayang kita dari konten-konten buruk sebenarnya bisa dilakukan dari ruang lingkup yang kecil,” ujarnya.

Literasi Media
Literasi media merupakan konsep yang kompleks karena memiliki definisi dan penafsiran yang berbeda-beda sesuai dengan konteks dan sudut pandang penafsiran. Beberapa konsep literasi yang sering digunakan adalah literasi huruf dan angka, literasi teknologi, literasi informasi, literasi media, dan literasi digital. Pada penelitian ini, konsep literasi difokuskan pada konsep literasi media.

Tujuan dari literasi media menurut Rahmi (2013) ada tiga, yaitu: (1) Membantu pengguna media untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik; (2) Membantu pengguna untuk dapat mengendalikan pengaruh media dalam kehidupan sehari-hari; dan (3) Pengendalian dimulai dengan kemampuan untuk mengetahui perbedaan antara pesan media yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang dengan pesan media yang “merusak”.

Baca :  Menjaga Integrasi Nasional, KPI Gelar Literasi Media untuk Papua

Pemanfaatan Internet
Meskipun memiliki banyak manfaat dalam kehidupan masyarakat, tetapi internet juga memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatif internet bagi pengguna internet pada kalangan anak dan remaja adalah pornografi dan kejahatan online. Jumlah pengguna internet korban pencemaran nama baik dan kejahatan online di Indonesia diprediksi akan terus mengalami peningkatan.

Internet dapat memberikan dampak positif maupun negatif kepada para penggunanya. Dampak internet bagi para penggunanya bergantung dari pemanfaatan internet yang dilakukan oleh pengguna internet itu sendiri, sehingga pada penelitian ini penting untuk mengetahui pemanfaatan internet yang dilakukan oleh para responden.

Pemanfaatan internet pada penelitian ini akan dibatasi menjadi frekuensi mengakses internet, durasi mengakses internet, media mengakses internet, serta konten apa saja yang diakses internet.

Frekuensi mengakses internet adalah seberapa sering atau berapa kali responden mengakses internet dalam satu minggu terakhir, sedangkan durasi mengakses internet adalah lama waktu yang dihabiskan responden dalam setiap kali mengakses internet.

Berdasarkan data, terlihat bahwa mayoritas responden memiliki frekuensi mengakses internet yang tinggi dengan durasi mengakses yang tergolong sedang. Mayoritas responden mengaku paling sering hanya menggunakan ponsel pribadinya saja untuk mengakses internet. Untuk konten internet yang diakses, mayoritas responden mengaku paling sering mengakses dua konten internet saja, yaitu media sosial dan chatting.

Literasi media sosial sangat penting
Agar tiap unggahan bukan malah mengundang keributan baru. Atau malah memperkeruh keadaan. Apalagi saat ini, tidak kurang dari 5,5 jam sehari orang Indonesia berselancar di media sosial atau dunia maya. Maka literasi media sosial harus mampu mendeteksi: 1) dampak dari unggahan atau postingan, 2) reaksi pembacanya, 3) hindari emosi dan sentimen personal, dan 4) tetap bersikap empati dan hati-hati terhadap isu yang ditanggapi.

Berangkat dari realitas itu, literasi media sosial menjadi penting untuk diprioritaskan. Agar kehidupan berbangsa dan bermasyarakat tidak terkoyak akibat “salah pakai” media sosial. Maka penting dalam literasi media sosial untuk “saring sebelum sharing; gunting sebelum posting”.

Bila dulu ada pepatah “mulutmu harimaumu” maka kini di media sosial ada “jarimu harimaumu”. Maka, perkuatlah literasi media sosial agar jangan ada lagi “korban” akibat kebodohan yang tidak perlu dalam bermedia sosial.

Menurut penulis, berbijaklah dalam menggunakan social media, karna pasti banyak perspektif yang berbeda diantara audience lainnya, harus lebih hati hati lagi dan teliti dalam bersosial media.

Penulis: Aldian Pratama
Kelas: Humas 1
NPM: 044121427
Mata Kuliah: Industri Media Elektronik