Oleh: Kamil Mony
Dalam pusaran sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia Abdoel Moethalib Sangadji tercatat merupakan tokoh perintis kemerdekaan RI yang mana gerak, peran besar, beliau menjadi penting juga strategis menentukan arah kebijakan politik menuju kemerdekaan.
Lahir pada tanggal 3 Juni 1889 di rumah parentah atau rumah kediaman sang raja /reghent, dibangun pada tahun 1886 dan rampung 1887, Dua tahun kemudian Abdoel Moethalib Sangadji lahir. Menurut penuturan kakek saya Mohammad Sangadji keseluruhan infrastruktur didatangkan dari negeri Siri – Sori Islam. Rumah ini merupakan saksi sejarah bisu spirit juang nasionalisme kebangsaan A.M.Sangadji dimulai dari sini melawan tirani kolonialisme penjajah.
Abdoel Wahab Sangadji sang raja dan permaisuri Siti Sa’ad Pattisahusiwa dikaruniai empat orang anak. (tiga putra dan satu putri ) Yakni, Abdoullah Sangadji, Abdoel Moethalib Sangadji, Mohammad Djen Sangadji, Siti Nur Sa’ad Sangadji.
Abdoullah Sangadji adalah pegawai pada kantor pemerintah Belanda dengan jabatan Kontrolir (Controleur) Karesidenan Kutai Kertanegara tahun 1912.
Abdoel Moethalib Sangadji tahun 1909 setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah MULO di kota Ambon dan tak sempat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi terkendala ijin kedua orang tuanya. Beliau langsung menjadi Griffer Landraad (Panitera Pengadilan) Landraad Saparua, Landraad Amboina, kemudian pindah atas inisiatif sendiri ke Surabaya tahun 1919 serta melepaskan kenyamanan sebagai pegawai Belanda dan memilih berjuang membersamai Tjokroaminoto dan Agus Salim menuju Indonesia Merdeka tahun 1922.
Mohammad Djen Sangadji adalah Jaksa Hofd Amboina, sedangkan Siti Nur Sa’ad Sangadji memilih berjuang bersama abangnya AM Sangadji di tanah Jawa dan dataran Kalimantan. Di akhir hayatnya, Siti Nur Sa’ad Sangadji pernah didapuk menjadi Ketua Wanita Aisyiyah DKI Jakarta 1960 an.
Abdoel Moethalib Sangadji sosok hebat yang selama ini namanya bak terlupakan, Padahal jika kita research (telaah) lebih jauh literatur sejarah perjalanan peradaban bangsa beliau adalah pejuang teramat istimewa yang harus kita sama – sama gaungkan nama besar nya agar berdiri sejajar dengan para perintis kemerdekaan RI lain nya yang sudah dianugerahi gelar pahlawan nasional.
Pada momentum Hari Lahir Jago Toea 3 Juni 2022 lalu, saya mewakili keluarga besar Abdoel Moethalib Sangadji sekaligus Founder AMS INSTITUTE menyampaikan Terima Kasih yang tak terhingga atas dukungan dari berbagai pihak mulai dari tokoh – tokoh nasional dan daerah hingga masyarakat luas.
Alhamdulillah apresiasi tinggi dari publik Indonesia semakin memantik kami bahwa jago toea ini nantinya akan dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional oleh pemerintah republik Indonesia cepat atau lambat.
Meskipun proses /tahapan pengusulan Abdoel Moethalib Sangadji baru akan dimulai tahun depan 2023 karena TP2GD (Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah) Saat ini sedang melakukan riset ilmiah (verifikasi data dan fakta) dan akan dilaksanakan nya seminar nasional Tokoh AM Sangadji sesuai amanat dan perintah regulasi undang – undang.
Sudah barang tentu kami mengapresiasi apapun langkah bijaksana pemerintah provinsi melalui dinas sosial provinsi Maluku yang sedang melakukan giat baik itu, kami mengharapkan keseriusan tinggi dalam upaya positif ini. Tahun depan itu tidak ada lagi alasan lain. Kami akan terus memantau perkembangan up to date perihal proses pengusulan menuju gelar Pahlawan Nasional A.M.Sangadji di Istana Negara.
Sesuai teknis administrasi regulasi undang–undang nomor 20 Tahun 2009 (Gelar, Tanda Jasa, Tanda Kehormatan) keluarga telah menyerahkan dokumen rekam jejak beliau sebagai variabel pendukung kepada dinas terkait sebagai catatan awal pengusulan calon Pahlawan Nasional AM Sangadji.
Abdoel Moethalib Sangadji, aktivis Pejuang, Politisi, Ulama ini pernah menjadi peserta utama kongres Sumpah Pemuda 1928 di Jakarta, Sekretaris Menteri Kehakiman Kabinet Amir Syarifuddin, Penasihat Menteri Pertahanan Kabinet Mohammad Hatta, Penasihat delegasi Indonesia di atas kapal USS Renville, Pemimpin Laskar Hizbullah di Yogyakarta, Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam 1930 – 1942, Anggota BP – KNI.
Beliau diundang oleh Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno di istana Agung Yogyakarta tahun 1948 (peringatan 40 tahun Harkitnas) dan sederet geliat juang beliau lainnya di level nasional dan daerah semisal Maluku, Jakarta, Kalimantan, Yogyakarta, Solo, Sulawesi hingga Papua. Hal ini dapat dibuktikan dengan diabadikan nama beliau sebagai nama jalan di daerah – daerah tersebut.
Penting kami sampaikan bahwa rumah Peneleh No 29, 31, Surabaya sekarang menjadi Museum Sejarah H.O.S. Tjokroaminoto. Di resmikan oleh Walikota Surabaya tahun 2017 Ibu Tri Rismaharini ketika anda berkunjung ke rumah pencetak tokoh – tokoh pemimpin nasional ini yang dahulunya adalah tempat indekost para pemikir tercerahkan sebut saja l Semaun, Alimin, Tan Malaka, SM Kartosuwirjo, dan Ir. Soekarno. Persis di ruang tamu rumah tuan Tjokro terpampang foto A.M. Sangadji dan Sahabat pejuang Tjokroaminoto lainnya.
Harapan objektif kami keluarga besar Abdoel Moethalib Sangadji serta Rakyat Maluku. In Shaa Allah Jago Toea akan mengisi lembaran negara menjadi wacana identitas sejarah nasional dalam kurikulum pendidikan Indonesia maka sejatinya penyematan gelar Pahlawan Nasional kepada Abdoel Moethalib Sangadji adalah sebuah keniscayaan sebagai bentuk menghormati jasa besar beliau yang di darmabaktikan kepada Umat, Bangsa dan Negara.
Hingga menghembuskan nafas terakhir 8 Mei 1949 karena ditembak dua orang pria bersenjata tak dikenal di kediamannya jalan Jetisharjo sekarang jalan A.M. Sangadji, serta dikebumikan di taman pemakaman umum jalan Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman, Kota Yogyakarta.
Lahul Al Fatihah Pahlawan Nasional Abdoel Moethalib Sangadji
Penulis adalah Founder A.M Sangadji Institute

