TNI di Hati Rakyat: Kala Koramil Julok Menjadi Juru Selamat di Tengah Gelapnya Banjir

oleh -170 views

ACEH TIMUR – Rabu, 26 November 2025, menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh warga Desa Paya Pasi, Kecamatan Julok. Saat itu, langit seolah tumpah, mengirimkan banjir besar yang mengepung Dayah Bustanul Huda. Di tengah kegelapan karena listrik padam dan sinyal yang hilang total, ada aksi heroik yang terjadi dalam sunyi.

Komandan Koramil 07/Julok, Kapten Arh Syafari, bersama pasukannya menerjang air bah tanpa sempat memikirkan dokumentasi. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan ribuan santri pimpinan ulama kharismatik Abu Paya Pasi yang terjebak di dalam kompleks pesantren. Tanpa kamera, tanpa lampu sorot, mereka menjadi “juru selamat” bagi para santri yang dicekam ketakutan.

Evakuasi di Tengah Gelap Gulita

Kondisi saat itu benar-benar mencekam. Air sungai meluap dengan cepat, memutus semua akses darat. Menggunakan perahu seadanya, Kapten Syafari memimpin langsung operasi evakuasi. Ribuan santri yang terjebak mulai dievakuasi satu per satu. Sebagian dijemput orang tua, sementara sebagian besar lainnya dibantu personel Koramil untuk dibawa ke titik aman.

“Banjir, lampu mati, sinyal tidak ada. Tidak ada waktu buat ambil foto atau video laporan. Nyawa santri lebih penting daripada berita,” ujar Kapten Syafari mengenang saat-saat kritis tersebut. Meski banyak yang sudah dievakuasi, sebagian santri masih bertahan di Dayah dengan makanan seadanya, namun dalam pantauan dan perlindungan penuh TNI.

Beli Air Bersih Hingga ke Kota Idi
Kepedulian Kapten Syafari tak berhenti di evakuasi. Pasca-banjir, ancaman baru muncul: krisis air bersih. Sumur warga tercemar lumpur busuk. Memahami warga tak bisa menunggu lama, Kapten Syafari mengambil inisiatif mandiri. Ia mengerahkan anggotanya untuk mengambil, bahkan membeli air bersih hingga ke Kota Idi yang jaraknya cukup jauh.

Air bersih ini kemudian didistribusikan secara merata kepada warga dan para santri. Langkah ini menjadi bukti bahwa TNI tidak hanya hadir saat bencana melanda, tapi juga memastikan kebutuhan paling dasar masyarakat yakni air tetap terpenuhi meski harus bersusah payah menjemputnya dari kota lain.

TNI Selalu di Hati Rakyat

Aksi nyata ini memicu haru yang mendalam di kalangan masyarakat Aceh Timur. Warga tidak menyangka, di balik seragam loreng yang tegas, ada hati yang begitu lembut memikirkan nasib anak-anak santri dan kesulitan warga. “TNI benar-benar ada di hati kami. Kapten Syafari adalah yang terbaik. Beliau pahlawan kami yang bekerja tanpa pamrih,” ungkap salah satu wali santri dengan penuh emosional.

Hingga Minggu (21/12/2025), suasana di Dayah Bustanul Huda sudah mulai kembali normal. Para santri yang sempat pulang telah diimbau untuk kembali melanjutkan pengajian rutin. Bantuan sembako dan logistik dari Koramil pun tetap mengalir untuk memastikan pemulihan pasca-banjir berjalan maksimal.

Kisah Kapten Syafari dari pelosok Julok ini menjadi pengingat bagi kita semua. Bahwa pengabdian terbaik sering kali tidak memiliki foto yang bagus atau video yang jernih, melainkan terukir jelas dalam ingatan rakyat yang diselamatkan. Di bawah guyuran hujan dan genangan banjir Aceh, Kapten Syafari telah membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dan rakyat adalah kekuatan yang tak terkalahkan.