Site icon LEAD.co.id

UIKA Melawan: Pemerintah Diminta Berhenti Jualan Janji

BOGOR (Lead.co.id) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor kembali menggelar aksi unjuk rasa jilid II, Senin (29/6/2026). Aksi yang dikoordinatori Muhammad Alfadly Ridwan itu mengusung tema “Indonesia Krisis, Rakyat Butuh Solusi Bukan Seremoni, Tuntaskan Reformasi”.

Semula massa berencana menggelar aksi di Pintu 1 Istana Bogor, namun setelah dilakukan pengaturan oleh aparat kepolisian, lokasi penyampaian aspirasi dipindahkan ke depan Starbucks Coffee, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Tampak puluhan mahasiswa memadati lokasi aksi sambil bergantian menyampaikan orasi dan membentangkan spanduk berisi kritik serta tuntutan kepada pemerintah. Aksi tersebut menjadi penegasan bahwa mahasiswa tidak akan tinggal diam melihat berbagai kebijakan yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan rakyat. Dengan pekikan “Hidup Mahasiswa!”, “Hidup Rakyat Indonesia!”, dan “Tuntaskan Reformasi!”, massa menegaskan komitmennya untuk terus mengawal jalannya pemerintahan hingga tuntutan mereka mendapat respons yang nyata.

Dalam aksinya, mahasiswa mendesak pemerintah mencabut Undang-Undang Polri yang dinilai mengancam demokrasi dan supremasi sipil, menghentikan pelemahan demokrasi, pembungkaman kebebasan berpendapat, serta kriminalisasi aktivis. Massa juga menuntut stabilisasi harga BBM dan kebutuhan pokok, penghentian pemborosan APBN dengan mengembalikan prioritas anggaran pada sektor pendidikan dan kesehatan, evaluasi total Program Makan Bergizi Gratis (MBG), penegakan sistem meritokrasi disertai pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme tanpa pandang bulu, serta mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel.

Ketua BEM Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Muhammad Alfadly Ridwan, menegaskan aksi jilid II digelar sebagai bentuk penagihan atas komitmen Pemerintah Kota Bogor yang hingga kini dinilai belum menunjukkan realisasi atas aspirasi mahasiswa yang sebelumnya dijanjikan akan dikawal ke pemerintah pusat.

“Bagaimana kami harus percaya kepada pemerintah kalau janji yang diucapkan di hadapan mahasiswa saja tidak pernah ditepati? Pada aksi pertama, Wakil Wali Kota Bogor dan Ketua DPRD Kota Bogor berjanji akan mengawal serta menyampaikan aspirasi kami ke pemerintah pusat. Sampai hari ini kami tidak melihat hasil apa pun. Bagi kami, janji tanpa bukti hanyalah omong kosong. Kami sudah memberikan ultimatum 3×24 jam, tetapi tidak ada jawaban yang jelas. Hari ini kami datang untuk menagih, bukan mendengar janji baru,” tegas Alfadly.

Ia menegaskan, aksi jilid II bukan akhir dari perjuangan mahasiswa. Menurutnya, apabila pemerintah tetap memilih bungkam dan tidak menunjukkan langkah konkret atas tuntutan yang telah disampaikan, BEM UIKA Bogor siap menggelar aksi lanjutan dengan kekuatan massa yang lebih besar.

“Kalau setelah aksi ini pemerintah masih tetap diam dan tidak memberikan respons nyata, kami akan kembali turun ke jalan dengan massa yang jauh lebih besar. Ini bukan ancaman, melainkan komitmen mahasiswa untuk terus mengawal kepentingan rakyat. Kami tidak akan berhenti sampai pemerintah membuktikan bahwa janji kepada rakyat bukan sekadar retorika politik. Jika perlu, gelombang aksi berikutnya akan lebih besar dari hari ini,” pungkas Ketua BEM UIKA Bogor.

Aksi ditutup dengan pekikan “Hidup Mahasiswa!”, “Hidup Rakyat Indonesia!”, dan “Tuntaskan Reformasi!” yang menggema di lokasi aksi sebagai penegasan bahwa BEM UIKA Bogor akan terus mengawal setiap kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

Surya SP

Exit mobile version