Site icon LEAD.co.id

WAG Wankar ICMI: Sebuah Harapan

WAG, Wankar ICMI, ICMI, Sebuah Harapan

Oleh: Apendi Arsyad

Syukron adinda Andi Irman, wabendum MPP ICMI. Sekedar informasi kemaren di arena Rakernas ICMI di ICC IPB, saya AA dengan Sekretaris kang Dr.Didin Mahfudin telah membicarakan dan mendiskusikan berbagai gagasan dan langka-langka Dewan Pakar (Wankar) MPP ICMI masa bakti 2021-2026, diantaranya membuat WAG Wankar ICMI Pusat ini.

Ya alhamdulillah sudah diinisiasi oleh add Andi Irman, semoga adanya WAG Wankar bermanfaat untuk memperlancar pelaksanaan Proker, tugas dan kegiatan-kegiatan unggulan ICMI terutama program ICMI yang bersifat reflektif, bukan praksis.

Rana praksis itu dibawa pengelolaan dan kendali serta tupoksi pengurus, komisi dan majelis-majelis serta Batom-batom yg ada di ICMI Wankar, jika kami boleh berpendapat tupoksinya fokus dan konsen sebagai “think tank” atau komite pengarah (steering commite) dari program-program dan kegiatan, serta juga proaktif merespon berbagai public policy yg muncul di NKRI.

Respon terhadap public policy spt regulasi dan legislasi, Wankar proaktif, memperioritaskan hal-hal yang menjadi kepentingan strategis dan urgen bagi umat dan bangsa Indonesia.

Wankar ICMI Pusat diharapkan mengambil peran dan fungsi terdepan (pionir) karena memang watak kecendikiawanannya (muslim) berupa keterpaduan imtaq-ipteks dan jejaringan sosial sbg social capital yang dimilikinya, mengharuskan “gesture dan style” demikian.

ICMI 5 tahun ke depan dgn visi dan misi besarnya Ketum MPP ICMI, Prof.ASA, menuntut peranan dan fungsi Wankar lebih proaktif, bukan reaktif, lebih responsip bukan “wait and see”, apalagi permisif, apatis, pragmatis dan opportunis, janganlah.!.kasihan umat dan bangsa, jika kaum cendekia “midle class”nya diam seribu bahasa.

Begitu banyak persoalan dan permasalahan-permasalahan yg melanda kehidupan umat dan bangsa Indonesia, yang bersifat “menghawatirkan” dan bahkan “merisaukan” karena public policy yang keluarannya berupa regulasi dan legislasi agak semakin menjauh dari sistem norma sila-sila Pancasila dan bahkan sistem norma dan akidah Al Quran dan Assunah (QnS).

Data dan informasi cukup banyak terungkap dalam berbagai pemberitaan buruk (bad news) di media massa dan lebih gencar terungkap dalam media sosial. Sebut saja hal2 yg ngetren seperti misalnya soal-soal atau issu strategis yaitu: Semakin membengkaknya utang negara, polemik kepindahan ibu kota negara (IKN), Cipta Kerja vs Cilaka, Minerba pro oligarky, sistem perekonomian bukan berbasis Badan Usaha Koperasi dan BUMN tapi bergeser ekonomi nasional berada dalam cengkraman oligarky, soal Intervensi political power dalam tugas R and D (BRIN), krisis ekologi dan pengelolaan SDA yang tidak ramah lingkungan dan sosial, maraknya bencana alam buatan manusia spt kebakaran hutan, perampasan / perampokan asset-2 publik dan masyarakat adat (communal property rights) menjadi private and coorporate property right), kesenjangan sosial dan ketidakadilan terus terjadi ditandai angka indeks gini ratio yang masih tinggi, demokrasi berbiaya tinggi, masih maraknya korupsi (KKN) dalam birokrasi dan dunia usaha, birokratisasi dan politisasi pengelolaan perguruan tinggi (exellence University) sehingga berdampak melemahnya otonomi kampus dan kebebasan mimbar akademik, distorsi pendidikan sejarah di lembaga Dikdasmen, dibuka ruang untuk berkembangnya perbuatan amoral LGBT, permapiaan hampir terjadi di banyak sektor kehidupan: hukum, perdagangan, pertambangan, proyek-proyek; tingginya angka stunting akibat kurang gizi dan dampak kemiskinan; etc, dll.

Jika dibiarkan terus begini kondisinya oleh para cendekiawan dan pakar terkemuka Indonesia spt ICMI, barang tentu membahayakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam NKRI. Indonesia harus tegak berdiri kokoh, punya daya saing, di mana rakyatnya hidup sejahtera, adil dan makmur dalam wadah NKRI berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila serta nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Ada kecenderungan (trend setter) dewasa ini, dalam proses pengambilan keputusan urusan rakyat banyak (public), khususnya penyusunan rancangan dan persetujuan/penetapan Peraturan dan PerUndang-undangan sumir Naskah Akademik dan mengabaikan pelibatan masyarakat/ rakyat sebagai pemangku kepentingan utama (main stakeholders) secara utuh dan bahkan diproses dan ditetapkan begitu cepat (instan).

Dalam kondisi bias, “sesat dan menyesatkan” ini, para cendekiawan muslim Indonesia yang tergabung dalam Wankar ICMI pada semua level organisasi (Orpus, Orwil, Orda dan Orsat) hendaknya muncul eksistensinya, berbuat guna merespon berbagai fenomena sosial yang menyimpang (melanggar) dari sistem norma dan kaidah imtaq (QnS) dan ipteks (Science), yang faktanya banyak diberitakan di mass media yang terpercaya.

Kekuatan integrasi imtaq dan ipteks SDM ICMI adalah modal sosial yang sangat berharga dan bernilai tinggi serta berdaya guna besar, yang menghunjam (efisien dan efaktif) dalam mengarahkan perubahan-perubahan sosial dan budaya (social and culture changes) yang terencana dan diharapkan bagi kehidupan bersama, dalam makna kemakmuran bersama bukan kemakmuran orang perseorang sebagaimana kecenderungan buruk yang tengah berlangsung saat ini. Begitu bunyi pesan moral dan politik konstitusi UUD 1945 pasal 33 dan sila ke 5 Pancasila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia” (socialequity and social dignity).

Kita berharap dengan kesadaran berkonstusi tersebut, yang senantiasa diingatkan dan dikontrol oleh stakeholders seperti Wankar ICMI, paling tidak telah berkontribusi untuk memberikan rasa nyaman bagi umat dan bangsa ini di era “distrupsi” saat ini. Mereka tidak lagi khawatir dan risau serta galau mengamati perjalanan kehidupan bangsa dan negara ini.

Hendaknya amanah dan tugas yang diberikan kepada para pimpinan dan anggota Wankar ICMI Pusat periode tahun 2021-2026 tidaklah disia-siakan. Terlebih tantangan cukup.berat menghadapi pandemi Covid 19, climate change, masyarakat industri 4.0 dengan pesatnya kemajuan temuan dan penggunaan ITC, serta munculnya masyarakat “post true” yang tak percaya data dan fakta kehidupan.

Mandat dan tugas kepakaran tersebut, sesungguhnya merupakan ladang amal bagi kita para pengurus ICMI untuk menambang pahala dari Allah SWT sebagai bekal keselamatan hidup kita baik di dunia maupun akhirats. Juga kita dan ICMI bisa berkontribusi positif yang maslahat (rahmatulill alamin) bagi umat dan bangsa yang selalu berharap dan menunggu kehadiran ormas ICMI di era milenial, zaman Now.

InsyaAllah era kepemimpinan ICMI, Prof Dr Arif Satria SP MSi bisa ICMI bangkit kembali, mengulangi kejayaan kepemimpinan alm Bapak Prof.BJ Habibie, Ketum ICMI pertama, Amiin, yang merupakan sebuah harapan. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan menolong hamba-hambaNya yang beriman, bertaqwa dan gemar berbuat kebajikan Amiin3 YRA.

Syukron barakalah. Mohon maaf, apabila terdapat hal-hal atau pengungkapan yang tidak berkenan di hati terhadap tulisan ini.
Jayalah ICMI kita.

 

Penulis adalah Pendiri-Ketua Wankar ICMI Orwil Khusus Bogor dan Wasek Wankar ICMI Pusat; Pendiri-Dosen (Assosiate Profesor) Universitas Djuanda Bogor; Konsultan K/L negara; Pegiat dan Pengamat Sosial

Exit mobile version