ACEH – Memasuki pekan terakhir Desember 2025, dinamika penanganan bencana di Serambi Mekkah kembali diuji. Di tengah upaya pemulihan infrastruktur besar-besaran oleh pemerintah pusat, laporan banjir susulan di Kabupaten Pidie Jaya menuntut kesiapsiagaan ekstra. Menanggapi hal ini, tokoh muda Aceh, Wanda, menegaskan komitmennya untuk terus mengawal jalannya pemerintahan agar bantuan tetap mengalir tepat sasaran hingga ke pelosok.
Wanda menilai bahwa transparansi dan kecepatan respons pemerintah saat ini patut diapresiasi, namun tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama agar masa transisi dari tanggap darurat ke rehabilitasi tidak terhambat oleh sekat-sekat birokrasi maupun kepentingan jangka pendek.
“Kami melihat komitmen pemerintah dalam memperbaiki akses jalan dan listrik sudah berjalan di jalur yang benar. Namun, adanya banjir susulan di Pidie Jaya hari ini adalah alarm bagi kita semua. Negara harus tetap hadir secara fisik dan logistik di lapangan tanpa jeda,” ujar Wanda kepada wartawan, Rabu (24/12/2025).
Wanda juga menyoroti adanya rencana aksi massa pada 29 Desember mendatang. Baginya, rencana tersebut tidak perlu dipandang sebagai ancaman stabilitas, melainkan sebagai bentuk kepedulian masyarakat untuk memastikan proses pemulihan dan rekonstruksi berjalan sesuai harapan warga terdampak.
“Rencana aksi 29 Desember adalah ekspresi demokrasi dari rakyat yang rindu akan rasa aman. Kami sebagai pemuda siap menjembatani komunikasi agar aspirasi warga tersampaikan dengan baik. Jangan ada jarak antara negara dan masyarakat yang hingga hari ini masih berjuang memulihkan kehidupannya,” tegas Wanda dengan nada optimis.
Sebagai tokoh muda yang aktif memantau laporan masyarakat terdampak, Wanda menegaskan bahwa dirinya akan terus mengirimkan “laporan harian” dari akar rumput kepada para pemangku kebijakan. Ia ingin memastikan bahwa data kerusakan lahan seluas 4,9 juta hektar yang dirilis Kementerian Lingkungan Hidup segera ditindaklanjuti dengan langkah reboisasi dan audit lingkungan yang ketat.
“Pemerintah butuh penguatan, bukan sekadar kritik hampa. Kami memberikan dukungan penuh pada langkah-langkah strategis pemerintah. Pengawalan ini sifatnya konstruktif demi Aceh yang lebih tangguh,” kata Wanda.
Harapan besar disampaikannya agar rilis evaluasi akhir tahun yang akan dikeluarkan pemerintah mampu menjawab keresahan warga secara komprehensif, terutama bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat banjir berulang.
“Harus ada solusi jangka panjang, bukan sekadar mie instan dan beras. Kita bicara soal pembangunan tanggul, pemulihan ekonomi kreatif, dan perlindungan hutan di hulu. Inilah yang kami kawal bersama pemerintah,” tambahnya.
Mengakhiri keterangannya, Wanda mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh narasi-narasi negatif yang dapat memecah belah persatuan. Ia yakin, dengan modal solidaritas yang kuat dan pengawalan yang konsisten dari pemuda, Aceh akan bangkit lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
“Aceh adalah bangsa yang kuat. Kita sudah membuktikannya berkali-kali. Hari ini, mari kita buktikan sekali lagi bahwa dengan sinergi antara pemuda, rakyat, dan pemerintah, duka di Pidie Jaya dan seluruh Aceh akan segera berganti dengan harapan baru di tahun 2026,” pungkas Wanda.





