LEAD.co.id | Ribuan warga Israel kembali turun ke jalan Yerusalem, pada Sabtu (5/9/2020). Mereka berdemonstrasi menuntut pengunduran diri Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu.
Para pengunjuk rasa berkumpul di luar kediaman resmi PM Israel Benjamin Netanyahu, mengecam dugaan korupsi dan penanganan pandemi virus korona.
“Saya datang ke sini untuk membuat Bibi Netanyahu pergi,” kata Shlomit Cohen, seorang pengunjuk rasa dari Galilea, seperti dikutip VOA News.
Demonstrasi terhadap Netanyahu telah berlanjut selama lebih dari sebulan, dan unjuk rasa hari Sabtu terjadi ketika Israel menangani rekor jumlah infeksi virus corona.
“Sekarang ini adalah protes terhadap pemerintah, dan banyak orang datang ke sini untuk alasan yang berbeda,” kata pengunjuk rasa, Reut Peretz.
Dia mengatakan, beberapa orang datang untuk memprotes kekerasan polisi, dan korupsi. Namun demikian, kata dia, semua orang ingin pemerintah berubah, karena banyaknya pengangguran di negara tersebut akibat penanganan Covid-19.
Seperti dilaporkan VOA, Netanyahu membantah telah melakukan kesalahan dan menuding para pengunjuk rasa sebagai “kiri” dan “anarkis”, menuduh media telah mendorong mereka.
Polisi turun tangan untuk membersihkan dan menangka para pengunjuk rasa di dekat kediaman resmi perdana menteri. Menurut Pollisi, sedikitnya belasan dari mereka ditangkap, termasuk seorang pria yang “berpakaian seperti wanita dengan cara yang provokatif.”
Menurut data Universitas Johns Hopkins, Israel memiliki lebih dari 129.000 kasus virus korona dan lebih dari 1.000 kematian akibat COVID-19. Negara dengan populasi 9 juta orang ini berada dalam resesi dan pengangguran melonjak hingga di atas 20%.
Sumber: VOA News
Editor: Aru Prayogi

