BOGOR (Lead.co.id) – Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (SV IPB) kembali mengadakan rangkaian Summer Course dengan Webinar yang kedua, bertema The Current Issues Facing in The Food System: Climate Change and Food Security Solutions, pada Jumat (1/7/2022).
Sebanyak tiga ratus lebih peserta yang berpartisipasi dalam webinar tersebut. Mereka berasal dari beberapa perguruan tinggi yaitu Guimaras State University, Tarlac Agricultural University, Iloilo Science and Technology University, Mariano Marcos State University, Kolej Komuniti Jerantut.
Selain itu, juga turut berpartisipasi Vietnam National University of Agriculture, Universitat de Girona, Simon Fraser University, Nagoya University, Kasetsart University, Kolej Komuniti Sungai Petani, Maritime University of Panama, Polbangtan Bogor, Politeknik Pangkep, Politeknik Banyuwangi dan Sungai Petani dalam Summer Course ini.
Direktur Kemahasiswaan, Dr Alim Setiawan Slamet memberikan opening speech dan Dr Bagus Priyo Purwanto selaku Wakil Dekan Bidang Akademik Kemahasiswaan juga turut memberikan welcoming speech yang mengapresiasi pelaksanaan Summer Course oleh SV IPB. Webinar itu dimoderatori oleh dosen Sekolah Vokasi IPB, Prima Gandhi.
Dr Zahoor Uddin dari Peshawar, Pakista berkesempatan menjadi narasumber pertama dalam webinar. Dia mempresentasikan tentang “Keamanan Pangan dan Perubahan Iklim”.
Menurutnya, diperkirakan 925 juta orang kelaparan di dunia. Pada tahun 2020, 17% penduduk berada di bawah garis kemiskinan pangan.
Dia juga mengatakan bahwa ada 3 fakta yang berhubungan dengan perubahan iklim, yaitu Gas rumah kaca, termasuk karbon dioksida, menurunkan transfer energi panas. Kedua, tingkat karbon dioksida telah meningkat secara signifikan di atmosfer sejak Revolusi Industri. Ketiga, rata-rata suhu global telah meningkat sejak Revolusi Industri.
Narasumber kedua, Marlisa Ayu Trisia dari University of Girona Spanyol menjelaskan tentang “Sistem Makanan Lokal di Catalonia, Spanyol”.
Dia mengatakan bahwa, sistem pangan terdiri dari semua elemen (sumber daya alam, manusia, input, proses, infrastruktur, institusi, produksi dan kegiatan yang terkait dengan produksi, pemrosesan, distribusi, penyiapan dan konsumsi makanan, serta keluaran dari kegiatan ini, termasuk hasil sosial-ekonomi dan lingkungan sistem pangan global.
Perubahan iklim dan guncangan yang tidak terduga (misalnya pandemi global) membuat sistem pangan global lebih rentan dari sebelumnya. Hal ini dapat mengancam ketahanan ekosistem serta menimbulkan limbah makanan.
Menurutnya, ke depan Negara berkembang harus merubah pola pertaniannya menjadi ramah lingkungan serta lebih ekologis.

