JENEWA (Lead.co.id) – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan penyebaran cacar monyet sebagai “Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional”.
Direktur WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, saat ini ada 16.000 kasus cacar monyet yang tercatat di 75 negara dengan penyebaran yang sangat cepat.
Wabah cacar monyet, yang dimulai di antara pria gay di Eropa pada Mei, adalah wabah penyakit pertama yang diberi label darurat kesehatan masyarakat oleh WHO sejak Covid-19.
“Saya telah memutuskan bahwa wabah cacar monyet global merupakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional,” tegas Tedros usai berdiskusi dengan komite darurat WHO, pada Sabtu (23/7/2022).
Cacar monyet atau Monkeypox mirip dengan cacar manusia, yang diberantas pada tahun 1980, dan endemik di beberapa bagian Afrika barat dan tengah.
Gejala awalnya termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, kedinginan, dan kelelahan. Mereka yang menderita mengembangkan lesi kulit yang khas.
Kasus Eropa pertama terjadi hampir secara eksklusif pada pria gay dan biseksual, dengan pejabat kesehatan mencatat bahwa lesi muncul pada alat kelamin pasien.
“Ini adalah wabah yang terkonsentrasi di antara pria yang berhubungan seks dengan pria, terutama mereka yang memiliki banyak pasangan seksual,” kata Tedros.
Dirinya meminta kelompok-kelompok yang mewakili laki-laki gay untuk “mengadopsi langkah-langkah yang melindungi kesehatan, hak asasi manusia dan martabat masyarakat yang terkena dampak”.
Vaksin gabungan untuk cacar dan cacar monyet saat ini sedang diproduksi, dan telah didistribusikan di kota-kota besar di AS, Inggris, dan beberapa negara Eropa.
Meskipun beberapa jenis cacar monyet di Afrika dapat membunuh 3-6 persen dari mereka yang terinfeksi, saat ini tampak jauh lebih ringan. Menurut Tedros, sejauh ini penyakit tersebut hanya membunuh lima orang di seluruh dunia.
AS telah mencatat kasus pertamanya yang melibatkan anak-anak. Kedua kasus itu berasal dari komunitas gay. Sementara, di Eropa setidaknya lima anak juga telah terinfeksi.
“Dilacak kembali ke individu yang berasal dari … komunitas pria gay,” kata Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Rochelle Walensky kepada Washington Post yang dikutip RT.





