BOGOR (LEAD.co.id) – Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Se- Jabodetabek Banten menggelar demonstrasi bertajuk “September Hitam”, di Tugu Kujang, Kota Bogor, pada Rabu (22/9/2021).
Aksi unjuk rasa ini mengangkat permasalahan-permasalahan yg terjadi pada bulan September, antara lain tragedi 1965 – 1966, tragedi Tanjung Priok (1984), tragedi Semanggi II (1998), pembunuhan Munir (2004), kasus Salim Kancil, hingga brutalitas aparat dalam aksi Reformasi Dikorupsi (2019).
Koordinator Lapangan (Korlap), Rizky Al Farizie dalam orasinya mengatakan bahwa, September hitam merupakan bulan yang menyedihkan dan menyeramkan karena banyak sudah pelanggaran HAM yang sampai saat ini belum terungkap.
“Selama pimpinan Presiden Jokowi dan Maruf Amin dua Periode tidak ada kemajuan malah kemunduran,” tambah Rizky.
Aksi ini diikuti oleh BEM UNIDA, BEM UNPAK, BEM Paramadina, BEM Yarsi, BEM UI, BEM Veteran, BEM Tanri Abeng, dan BEM IBS. Para peserta aksi menggunakan Megaphone, spanduk dan pamplet yang bertulis September Hitam, HAM? PA!, Pembunuhan Munir, Membiarkan kesalahan adalah kejahatan, Ketidakpastian lebih kejam dari pembunuhan.
Rizky mengatakan bahwa, kita harus menolak lupa, harus merawat dan jangan sampai ada lagi Munir dan Kancil yang tertindas. “Kita sudah dipertemukan dan merawat supaya diingatan kembali baik lewat jalanan tapi hasilnya sia – sia seperti kata Gusdur kalau ada dalam koridor kebenaran harus di lawan,” lanjutnya.
Reporter: Jhonie

