Oleh: Gumelar A. Wijaya, S.T
Berkerja adalah sebuah aktivitas yang tidak bisa kita tinggalkan di jaman dewasa ini, karena mindset/pola fikir manusia zaman sekarang yaitu jika tidak bekerja maka tidak akan mendapatkan penghasilan, dalam pernyataan tersebut memang tidak ada yang salah dan memang sesuai dengan realita pada zaman sekarang, namun sangat disanyangkan sekali ada orang yang seperti menuhankan pekerjaan nya, sehingga waktu nya berlalu dihabiskan untuk bekerja, bahkan ada yang rela bekerja sampai larut malam hanya untuk mendapatkan penghasilan dan itu pun sedikit sekali penghasilan yang ia dapatkan.
Bekerja bisa mengantarkan kita kedalam kebahagiaan dan bisa juga mengantarkan kita kepada kesedihan. Sedih tidak punya waktu untuk kumpul dengan keluarga, sedih tidak punya waktu untuk bersilaturahmi dan sedih tidak punya waktu untuk beribadah, padahal rizki itu sudah Allah tentukan takarannya, maka yakinlah tidak akan tertukan dan pasti akan datang kepada kita.
Nah, Bagaimana agar aktivitas bekerja kita bisa mengantarkan kedalam kebahagiaan di dunia maupun di akhirat, jawaban nya yaitu kita butuh manajemen untuk mengatur semua aktivitas kita agar terarah dan terukur, pengaturan yang bisa mengantarkan kita kedalam kebahagiaan di dunia maupun di akhirat yaitu dengan menerapkan manajemen syariah didalam aktivitas bekerja kita, mari kita ulas bagaimana penerpan manajemen syariah didalam aktivitas bekerja kita.
Hal pertama yang harus kita perhatikan adalah niat kita bekerja, karena niat sangat menentukan hasil dari pekerjaan kita, jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan maka niatkan semata-mata karena Allah SWT. Kenapa, karena bekerja menjemput rezeki merupakan amal shaleh yang pahalanya sangat besar dan nilainya sama dengan shodaqoh, seperti yang sudah dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW yaitu dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:
“Satu dinar yang engkau keluarkan di jalan Allah, lalu satu dinar yang engkau keluarkan untuk memerdekakan seorang budak, lalu satu dinar yang engkau yang engkau keluarkan untuk satu orang miskin, dibandingkan dengan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu maka pahalanya lebih besar (dari amalan kebaikan yang disebutkan tadi)” (HR. Muslim no. 995)
Jika bekerja atau menjemput rezeki dengan ikhlas maka akan menuai pahala yang besar, dari Sa’ad bin abi Waqqosh, Nabi SAW, bersabda:
“Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti) kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sampai pun makanan yang kamu berikan kepada istrimu.” (HR. Bukhari no. 56).
Maka penting sekali di permulaan beraktivitas kita niatkan hanya karena Allah SWT dengan selalu membaca Basmallah atau mengingat Allah SWT dalam setiap apapun yang kita kerjakan
Hal selanjutnya adalah etos kerja, didalam pandangan Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib dan teratur, proses-prosesnya harus diikuti dengan baik, sesuatu tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Hal ini merupakan prinsip utama dalam ajaran islam. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang di riwayatkan Imam Thabrani:
“sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melakukan pekerjaan, dilakukan secara Itqan (tepat, terarah, jelas dan tuntas)”
Arah pekerjaan yang jelas, landasan yang mantap dan cara-cara mendapatkannya yang transparan merupakan amal perbuatan yang dicintai oleh Allah SWt. Jadi mengatur segala pekerjaan atau aktivitas kita dengan baik, tepat dan tuntas merupakan hal yang di syariatkan dalam ajaran islam. Demikian pula dalam hadist riwayat Imam Muslim dari Abi Ya’la, rasulullah SAW bersabda:
“Allah SWT, mewajibkan kita untuk berlaku ihsan dalam segala sesuatu” (HR Muslim)
Kata ikhsan bermakna melakukan sesuatu secara maksimal dan optimal, tidak boleh seorang muslim melakukan sesuatu tanpa perencanaan, tanpa adanya pemikiran dan tanpa adanya penelitian, jadi setiap aktivitas kita harus dikerjakan secara ihsan atau secara optimal, secara baik, benar dan tuntas.
Hal tersbut di perkuat oleh hadist Nabi SAW
“Diantara baiknya, indahnya keislaman seseorang adalah yang selalu meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat” (HR Tirmidzi)
Dalam hadis di atas mengajarkan kepada kita, jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat maka kita harus meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. waktu bekerja, bekerjalah dengan professional. Waktu ibadah, beribadahlah dengan professional.
Semoga kita dapat menajemen diri kita sehingga waktu yang singkat ini bisa bermanfaat bagi kita dan orang lain.

