JAKARTA (LEAD.co.id) – Narkoba sebagai salah satu bentuk Transnational Organized Crime (TOC) merupakan ancaman bagi seluruh dunia. Untuk mengatasinya pun membutuhkan kerja sama antar semua komponen masyarakat.
Itu sebabnya, tidak bisa penangan kejahatan luar biasa yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir seperti transaksi narkotika ini diserahkan seluruhnya pada Badan Narkotika Nasional (BNN).
Melalui pesan WhatsApp, Pj Ketum PB HMI, Romadhon Jasn menyampaikan, peran pemuda seperi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) siap bersinergi dengan BNN untuk turut terlibat aktif dalam memerangi persoalan narkoba di Indonesia.
“Kami di PB HMI selalu resah dengan penyebaran narkoba yang semakin masif terjadi. Hal ini ada relevansinya dengan semkin canggihnya pelaku dalam melakukan operasi jahat tersebut,” sampainya (29/11/21).
Menurut Romadhon, BNN sebagai lembaga resmi yang cukup berpartisipasi dalam penanggulangan narkoba dan perlu melibatkan semakin banyak pihak.
“Salah satunya adalah kelompok Pemuda yang memiliki peran yang krusial dalam penanganan permasalahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Semakin banyak kelompok pemuda akan terjalin koordinasi antara aparat penegak hukum dan organisasi kemahasiswaan (OKP),” sampainya.
“Orientasinya adalah melaksanakan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan peredaran Gelap Narkoba (P4GN) sesuai dengan amanat UU No. 35 Tahun 2009,” imbuh Romadhon.
Lebih lanjut, Ancaman Narkoba terhadap tumbuh kembang para pemuda yang menjadi harapan bangsa sudah semakin mengkhawatirkan. Sehingga perlu dicegah sedini mungkin guna berpengaruh terhadap pembangunan bangsa dan negara.
“Startegi penanganan permasalahan Narkoba harus seimbang dilakukan antara strategi hard power approach, soft power approach, dan smart power approach. Penanganan kasus Narkoba harus dapat menekan dan mencegah penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba dengan berupaya mengurangi indeks prevalensi penyalahgunaan Narkoba,” paparnya.
Sebelumnya, dalam kajian PB HMI, menilai yang menjadi korban terbesar ada pada kalangan generasi muda bangsa ini. Serta dirasa BNN perlu memikirkan penambahan “agen” dalam pencegahan.
“Narkoba sebagai senjata pemusnah masal sangat berpotensi menyebabkan hilangnya generasi penerus bangsa (lost generation). Hal ini tentu bertentangan dengan prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo dalam hal pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas,” jelasnya.
Diakhir, pihaknya siap bermitra kapanpun jika diperlukan oleh BNN dalam memerangi penyebaran narkoba yang sudah semakin mengkhawatirkan.
“PB HMI juga terus menyuarakan agar pencalonan Indonesia dalam organisasi-organisasi dunia yang mengurusi permasalahan narkotika dapat diterima. Hal ini agar Indonesia memiliki pengaruh yang kuat dalam kebijakan internasional terkait narkotika,” pungkasnya.
Kontributor : Akril
Editor : Aru Prayogi

