Oleh: Risa Aulia
Belakangan ini, media sosial ramai oleh cerita anak muda yang mengaku mendatangi psikolog atau psikiater bukan hanya karena persoalan pribadi, melainkan karena kecemasan melihat kondisi negara. Mulai dari sulitnya mencari pekerjaan, tekanan ekonomi yang semakin berat, hingga arah kebijakan publik yang dianggap tidak memberi kepastian, semua itu menumpuk menjadi kegelisahan yang nyata. Fenomena ini menunjukkan bahwa kecemasan generasi muda hari ini tidak lagi berdiri sendiri, tetapi berkaitan erat dengan situasi sosial dan kenegaraan.
Generasi muda hidup dalam tekanan yang kompleks. Di satu sisi, mereka dituntut untuk cepat mandiri, sukses, dan produktif. Namun di sisi lain, realitas yang dihadapi justru penuh ketidakpastian. Harga kebutuhan pokok terus naik, persaingan kerja semakin ketat, dan kesempatan hidup layak terasa semakin jauh. Kondisi ini membuat masa depan tampak seperti sesuatu yang sulit direncanakan, bahkan untuk sekadar dibayangkan.
Media sosial ikut memperkuat kegelisahan tersebut. Setiap hari, anak muda terpapar berbagai informasi tentang kondisi negara, baik ekonomi, politik, maupun sosial. Sayangnya, tidak sedikit informasi yang disajikan dengan nada negatif dan berulang. Tanpa disadari, paparan semacam ini membentuk suasana batin yang penuh kecemasan. Media sosial akhirnya bukan hanya menjadi ruang berbagi informasi, tetapi juga ruang akumulasi rasa takut dan ketidakpastian.
Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang memicu emosi kuat, seperti kemarahan, kekecewaan, dan kecemasan. Akibatnya, isu-isu tentang negara terus hadir dalam bentuk yang melelahkan secara mental. Bagi generasi muda yang masih mencari arah hidup, kondisi ini bisa memicu rasa tidak aman, kehilangan harapan, bahkan stres berkepanjangan.
Fenomena anak muda yang membawa kegelisahan tentang negara ke ruang konseling menjadi potret yang patut direnungkan. Psikolog dan psikiater tidak lagi hanya mendengar keluhan soal hubungan personal atau masalah keluarga, tetapi juga kecemasan tentang masa depan di negeri sendiri. Hal ini menegaskan bahwa kondisi negara dan kebijakan publik memiliki dampak langsung terhadap kesehatan mental masyarakat, terutama generasi muda.
Sayangnya, kegelisahan ini kerap dianggap berlebihan atau dicap sebagai bentuk pesimisme. Padahal, kecemasan tersebut justru menunjukkan adanya kepedulian. Anak muda tidak sedang apatis, melainkan resah karena merasa masa depan mereka dipertaruhkan dalam situasi yang serba tidak pasti. Mereka ingin hidup layak, merasa aman, dan memiliki harapan di negaranya sendiri.
Dalam konteks ini, negara dan media memiliki peran penting. Negara perlu lebih peka terhadap dampak psikologis dari setiap kebijakan yang diambil. Sementara itu, media diharapkan mampu menyajikan informasi secara lebih berimbang dan konstruktif, tanpa mengabaikan kritik, namun juga tidak memperparah kecemasan publik.
Pada akhirnya, kegelisahan generasi muda terhadap kondisi negara adalah sinyal sosial yang tidak boleh diabaikan. Jika dibiarkan, kecemasan ini bisa berkembang menjadi krisis kepercayaan yang lebih besar. Mendengarkan suara anak muda bukan hanya soal empati, tetapi juga tentang menjaga harapan dan masa depan bangsa agar tetap hidup.





