In Memoriam KH Tb Agus Fauzan

oleh -43 views

Oleh Rommy Prasetya, SH

Selamat Jalan Kiai, Guru, dan Pengayom Kami..

Kabar duka itu datang pada dini hari, 19 September 2026, pukul 01.30 WIB. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. KH. Tb. Agus Fauzan, sosok kiai yang adem, teduh, dan kharismatik, telah dipanggil menghadap Sang Khaliq. Tak ada kata yang mampu terucap kecuali air mata yang menetes, mengiringi kepergian seorang guru yang telah membimbing perjalanan hidup saya selama bertahun-tahun.

Perjumpaan Pertama, 2006

Saya mengenal beliau pertama kali pada tahun 2006, saat berziarah ke makam Mama Falak Pagentongan. Dari pertemuan itu, kesan pertama yang tertanam adalah sosok kiai yang menyejukkan — tenang dalam tutur kata, teduh dalam sikap, namun memancarkan kharisma yang membuat siapa pun yang duduk di hadapannya merasa dihormati sekaligus diteduhkan.

Kiprah dalam Thoriqoh dan Amanah Menghidupkan NU

Sebagai penerus jejak Mama Falak, KH. Tb. Agus Fauzan tidak hanya menjaga warisan spiritual thoriqoh yang diwariskan, tetapi juga mengemban amanah besar menghidupkan dan menjalankan roda organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau adalah penjaga marwah, penghubung antara generasi ulama pendiri dengan generasi penerus yang harus terus digembleng agar tak kehilangan arah.

Semakin Dekat, 2009

Kedekatan saya dengan beliau semakin erat pada tahun 2009, ketika saya diamanahi sebagai Sekretaris GP Ansor Kota Bogor. Saat itu saya sowan meminta nasihat tentang cara menyebarkan dakwah ala Ansor untuk pemuda Kota Bogor. Di ruang tamu beliau, saya mendengar kisah tentang kiprah Abah Falak sebagai muassis Nahdlatul Ulama di Bogor — kisah yang disampaikan dengan penuh penghayatan, diselingi harapan besar agar kader Ansor kelak menjadi penerus kepemimpinan NU di masa depan.

Baca :  In Memoriam Alm Prof Aida Vitayala Sjafri

Perjuangan Nama Jalan Mama Falak

Tahun 2015 menjadi babak penting lainnya. Sahabat Zaenul Mutaqin, Ketua GP Ansor Kota Bogor periode 2009–2015, meminta saya menemui KH. Tb. Agus Fauzan untuk memohon izin dan restu keluarga Bani Falak, agar nama Mama Falak dapat diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Bogor. Alhamdulillah, izin dan restu itu diberikan dengan tulus.

Berkas demi berkas kami kumpulkan, hingga akhirnya Pimpinan Cabang GP Ansor yang dipimpin langsung Sahabat Zaenul Mutaqin menemui Wali Kota Bogor, Bapak Bima Arya Sugiarto, untuk menyampaikan usulan tersebut. Semua ini kami lakukan sebagai bagian dari jalan dakwah generasi muda NU di perkotaan — mengenalkan sosok ulama besar, mengenang jasanya, agar generasi berikutnya tak lupa akar perjuangan yang telah ditanamkan para pendahulu.

Prosesnya panjang dan tak sebentar. Namun pada tahun 2020, bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, Wali Kota Bogor akhirnya meresmikan nama Jalan Mama Falak. Keberhasilan ini tak lepas dari peran KH. Tb. Agus Fauzan, yang bahkan turut mengusulkan agar perjuangan serupa dilanjutkan untuk nama-nama kiai Bogor lain yang berjasa besar, agar generasi mendatang mengenal dan mengetahui kiprah perjuangan para ulama terdahulu.

Baca :  In Memoriam Kanda Mulyadi P. Tamsir

Pesan yang Menjadi Spirit

“Jangan jauh dari kiai dan pesantren.”

Pesan sederhana namun dalam itu selalu beliau sampaikan kepada kader GP Ansor. Sebuah pesan yang menjadi ruh dan semangat kami, anak-anak muda NU, untuk terus berkhidmat kepada kiai dan pesantren. Bagi beliau, GP Ansor adalah penerus kepemimpinan NU di masa depan — dan tugas kami adalah terus mengembangkan serta memajukan NU, dengan keyakinan bahwa keberkahan dunia dan akhirat akan menyertai.

Untuk mengejawantahkan pesan itu, pada tahun 2016 saat saya memimpin GP Ansor Kota Bogor menggelar berbagai kegiatan kaderisasi di pondok-pondok pesantren, serta mengadakan sholawatan keliling Kecamatan sebagai bentuk pengkhidmatan dan syiar faham Aswaja Annahdliyah, terus membumikan NU khususnya di Kota Bogor.

Wacana Pahlawan Nasional, 2023

Pada peringatan Haul Mama Falak ke-51 tahun 2023, saya memberanikan diri mewacanakan agar Mama Falak diperjuangkan sebagai Pahlawan Nasional. Ketika saya sowan menyampaikan wacana ini, meminta nasihat, masukan, sekaligus restu, beliau merespons dengan sangat positif dan mendoakan agar cita-cita ini terealisasi.

Baca :  Bung Taswin Husnul Khotimah

Beliau berkata, keluarga besar Bani Falak sesungguhnya tidak terlalu berharap gelar itu. Namun jika negara berkenan mengapresiasi peran dan kiprah Mama Falak dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini, keluarga tidak keberatan.

Sejak itu, saya bersama Sahabat Ubaidillah — yang juga merupakan keturunan Mama Falak — mulai mengumpulkan literasi dan jejak perjuangan Mama Falak, meski kami tahu jalan menuju pengakuan Pahlawan Nasional ini masih panjang.

Janji Seorang Santri

Namun ada satu amanah yang belum sempat tuntas kami perjuangkan: menjadikan Mama Falak sebagai Pahlawan Nasional — sebuah cita-cita yang kini menjadi warisan perjuangan bagi kami yang ditinggalkan.

Kini, di hadapan jenazah beliau, saya menyadari ada “tugas yang belum selesai” yang beliau titipkan. Insya Allah, tugas itu akan kami selesaikan. Ini janji saya sebagai seorang santri, yang saya ucapkan di hadapan jenazah Beliau.

Selamat jalan, Kiai…

Engkau tidak pergi, tapi pulang ke alam hakiki, di hadapan Allah SWT.

Doakan kami untuk bisa menyelesaikan “tugas yang belum selesai” itu.

Penulis adalah Sekretaris PC GP Ansor Kota Bogor 2009-2015, Ketua PC GP Ansor Kota Bogor 2015-2019