Site icon LEAD.co.id

Cerita Perjuangan Aktivis 98

Cerita, Perjuangan, Aktivis 98, Anto Kusumayuda

Aktivis 98, alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Anto Kusumayuda

LEAD.co.id | Kalau mendengar kata aktivis atau pergerakan, sudah pastinya Mahasiswa yang duduk di universitas, mereka pahlawan masyarakat, aspirasi demi aspirasi selalu dilontarkan. Aktivis 1998, mereka berjuang ketika pemerintah tidak sejalan dengan masyarakat.

Yah, suka dukanya bergelut di aktivis memang menjadi jalan cerita, ketika sebagai orang pergerakan, apalagi ketika mengkaji sebuah permasalahan yang harus di kritisi oleh mahasiswa. Sebagai aktivis senior di tahun 1998 ini, membentuk kader-kader aktivis militan.

“Sebagai senior, kami membentuk kader-kader, kasus demi kasus kami tangani, misalnya, banyak tokoh mahasiswa yang di culik, dan hilang tanpa jejak,” kata alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Anto Kusumayuda kepada tim Lead.co.id, Rabu (16/12/2020).

Bercerita waktu masih duduk di bangku kuliah, kata Anto, pernah menangani sebuah kasus sutet di Wilayah Ciseeng, Kabupaten Bogor, bahkan, sampai anak yang pertama melahirkan dirinya tidak menemani istri tercintanya. “Disinilah suatu perjuangan, hingga keluarga sering ditinggal demi menangani sebuah kasus yang harus ditangani oleh kami, anak saya yang lulus di Universitas Pakuan, saya tidak menemani istri ketika melahirkan,” kata Anto, yang menjabat, Ketua Umum Perhimpunan Pergerakan Jejaring Nasional Aktivis 98.

Kader Aktivis 98, tersebar di mana-mana, khususnya di pulau jawa, dirinya selalu bertemu dan konsolidasi, bahkan, sekalian temu kangen juga kalau lama tak bertemu. Kalau aktivis sebenarnya style hidup, berbicara sampai kapan, yang dirinya terus bergelut dengan dunia aktivis.

“Aktivis ini, bagi saya style hidup, kalau untuk usia yang kita tetap terus begerak, karena tidak batasan usia, hingga saat ini, saya tetap terus begerak, kalau memang adanya kebijakan yang tidak sejalan, kami akan kritisi dengan kawan-kawan, ” kata anto, yang saat ini berusia 53 tahun.

Banyak kader aktivis, yang duduk di Pemerintah, karena, ada darahnya dunia pegerakan, tetap, ketika harus turun aksi, mereka kompak dan di kritisi juga kebijakan demi kebijakan yang tak masuk akal. Alhasilnya, ilmu aktivisnya, turun ke anak yang kuliah di Universitas Pakuan Bogor.

Sebagai orang pergerakan, dirinya, tidak pernah menerapkan ilmu pergerakan kepada anaknya, karena, pergaulan di kampus akhirnya, anak yang kuliah di Universitas Pakuan menjadi aktivis.

“Kalau di rumah saya bersama keluarga tidak pernah cerita masa dulu saya, namun, mendengar ayahnya dari mulut ke mulut, saya dengar anak saya jadi aktivis juga,” ujar dia.

Reporter: Jhonie
Editor: Aru Prayogi

Exit mobile version