LEAD.co.id | China secara resmi telah menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan fasilitas Covax yang dipimpin Organisasi Kesehatan Dunia. Covax merupakan proyek vaksin Covid-19 global untuk memastikan negara-negara miskin memiliki akses ke vaksin penyelamat jiwa.
China adalah ekonomi terbesar yang mendukung inisiatif tersebut sejauh ini. Baik Amerika Serikat maupun Rusia belum mendaftar.
“Langkah penting untuk menegakkan konsep komunitas kesehatan bersama untuk semua dan menghormati komitmennya untuk mengubah vaksin Covid-19 menjadi barang global,” Kata juru bicara kementerian luar negeri China, Hua Chunying, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (9/10/2020).
Fasilitas Akses Global Vaksin Covid-19 (Covax) dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI) dan Gavi, Aliansi Vaksin dan bertujuan untuk mengirimkan sekitar dua miliar dosis vaksin di seluruh dunia pada akhir tahun depan.
Covax akan mengumpulkan sumber daya keuangan dan ilmiah serta menyatukan 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Filipina dan Indonesia, yang memenuhi syarat untuk mendapatkan dukungan keuangan untuk pengadaan vaksin melalui Gavi Covax Advance Market Commitment (AMC).
COVAX bertujuan untuk mengembangkan setidaknya tiga vaksin yang aman dan efektif yang dapat tersedia bagi mereka yang berpartisipasi dalam skema tersebut.
Awal bulan ini, Antonio Guterres, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menyerukan untuk mendukung rencana vaksin global yang membutuhkan tambahan $ 15 miliar dalam pendanaan pada akhir tahun.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Al Jazeera





