Demo Bela Uyghur, OIC Minta Hubungan Bilateral China Ditinjau Ulang

oleh -451 views

LEAD.co.id | Ratusan massa aksi dari Youth on Organization of Islamic Cooperation (OIC) Indonesia berunjuk rasa di depan Kantor Kedutaan Besar Tiongkok, Jakarta, Senin (23/2/2019). Mereka meminta dihentikannya penindasan oleh pemerintah China terhadap umat muslim di Uighur yang terjadi sejak lama.

Dalam orasinya, Sekretaris Jenderal OIC Youth Indonesia, Astrid Nadya Rizqita menegasakan China telah melanggar Universal Declaration of Human Rights (UDHR), ditambah lagi terkini sebanyak 22 negara di PBB, termasuk Amerika  mengecam kejahatan HAM yang terjadi di provinsi Xianjiang tersebut. 

“Kami mengecam keras penindasan secara sistematis yang dilakukan China, karena ini masuk dalam kategori upaya genosida. Saat ini warga Uighur sudah masuk tahap kronis, bukan hanya isolasi, tetapi juga indoktrinasi. Diduga pemuka agama di sana dibunuh, tempat ibadah dirusak, dan warganya tidak boleh menampilkan simbol agama di ruang publik,” ujar Astrid yang juga mahasiswa Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta ini. 

Baca :  Kongres AS Setujui Sanksi China atas Penindasan Uyghur

Upaya genosida itu, sejak 1949 dapat dilihat dari ras HAN membajiri Xianjiang sudah mencapai 1000 persen, bahkan warga Uighur kini hanya 49 persen kurang dari jumlah semula. Astrid menyayangkan sikap pemerintah yang mengaku menggunakan soft diplomacy secara pendekatan kultural dalam merespon kasus tersebut. Ia melihat justru yang terjadi week diplomacy. Padahal Amerika telah mengeluarkan Uighur Policy Act tahun 2018 dan 2019 yang mengatur akan menghukum pejabat China yang terlihat kejahatan HAM di Uighur. 

“Kami menyerukan agar Indonesia meninjau ulang hubungan bilateral dengan China, apalagi jika kasus Uighur tidak segera dihentikan. Selanjutnya menuntut Indonesia bersikap tegas atas kasus ini,” katanya. 

Baca :  Parlemen China Setujui RUU Keamanan Nasional Hong Kong

Sementara, Wasejend PB HMI Riyanda Barmawi juga mengecam kejahatan pemerintah China, dan meminta untuk segera diakhiri. Menurutnya, pemerintahan Indonesia harus mengambil sikap tegas, bijak dan berpihak kepada kemanusiaan. Apabila ada yangg bungkam atas Uighur patut dipertanyakan, sama artinya melecehkan kemanusiaan umat Islam. 

“China telah melakukan kejahatan hebat, kita menangis melihatnya. Kebebasan beragam diberangus, sementara di Indonesia meskipun mayoritas Islam namun tidak pernah diskriminatif, dan kita menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman,” katanya dalam orasinya dalam kesempatan yang sama.  

“Kita berharap adanya sebuah sikap heroik yang arif terhadap masalah di sana. Kita tidak ingin masalah seperti di Uighur kelak terulang di sejumlah tempat,” tambahnya.

Baca :  Demonstrasi Hong Kong Muncul Kembali, China Sebut 'Virus Politik'

Seperti diketahui, Provinsi Xianjiang terbesar di China, dan diprediksi terkandung kekayaan gas, tambang dan minyak bumi yang komposisinya 40 persen dari total keseluruhan yang ada di China. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *