Site icon LEAD.co.id

Demonstran Iraq Disebut Dekat dengan Pejabat AS

Demonstrasi di Iraq (doc. FNA)

LEAD.co.id | Pemimpin Demonstran yang menggelar protes di negara Iraq akhir akhir ini dituding mempunyai kedekatan dengan pihak Amerika Serikat.

Media Iran, Fars pada Jumat (7/2/2020) mengutip Media Iraq, Boratha mengungkap foto kedekatan pimpinan demonstran bernama Steven Nabil dengan mantan Menlu AS Colin Powell dan mantan Dubes AS untuk Irak John Dimitri Negroponte pada 30 Juli 2004, setahun setelah invasi AS ke Irak.

Sementara itu, Nabil sendiri telah mengkonfirmasi pertemuannya dengan pejabat AS. Dia mengaku mendapat kehormatan untuk mewakili Irak dan Asyur di beberapa forum dan seminar politik di Amerika Serikat.

“Sebagai seorang aktivis dan mahasiswa politik, saya berkesempatan untuk bertemu dengan sejumlah tokoh terkemuka di bidang politik sebagai Sekretaris Negara AS. Colin Powell, Senator John McCain, serta mantan duta besar Amerika untuk Irak John Dimitri Negroponte,” tulisnya di website pribadi, Steven Nabil.

Nabil saat ini dituduh sebagai agen AS yang memainkan peran penting dalam mengatur dan memimpin protes baru-baru ini bersama para mahasiswa dan pemuda Iraq. Mereka disebut berada di bawah program pelatihan pemimpin muda yang disponsori AS beberapa tahun terakhir ini.

Foto yang disebut sebagai kedekatan Aktivis Iraq, Steven Nabil dengan Pejabat AS pada 30 Juli 2004 (doc. FNA)

Kantor berita Fars juga mengungkapkan bahwa, sebelumnya media massa Libanon pernah menyebut peran yang dimainkan oleh kedutaan AS dalam demonstrasi di Irak yang berubah menjadi kekerasan.

Media al-Akhbar ini menyebut mereka telah mendapatkan akses ke dokumen keamanan yang menunjukkan peran “kedutaan besar AS dalam mengatur formasi rahasia untuk menambah bahan bakar ke dalam api kerusuhan di Irak”.

Menurut media itu, kedutaan besar AS telah membentuk komite protes yang tinggi, yang mengoordinasikan kegiatan lapangan selama protes dan kedutaan menyediakannya dengan intelijen dan sejumlah politisi dan pekerja pemerintah mendukungnya.

Diungkapnya, tim operasi psikologis untuk memandu media dan menyebarkan desas-desus, tim mobilisasi elektronik untuk memimpin orang melalui media sosial. Tim yang disebut dilatih di Erbil dan Amman ini juga untuk melaporkan kesalahan layanan keamanan dan menghasilkan berita palsu tentang protes.

Selain itu, juga terdapat tim untuk memberikan tekanan internasional pada pemerintah Iraq, untuk mengatur protes di depan kedutaan besar Irak di negara-negara asing, tim untuk merilis laporan tentang aksi unjuk rasa yang bekerja sama dengan berbagai media.

Masih sebut al-Akhbar, terdapat juga tim IT untuk menyelesaikan masalah terkait dengan penyaringan internet dan media sosial, tim medis yang ditempatkan dekat para demonstran dan rumah sakit untuk membantu yang terluka dan tim untuk memberikan dukungan logistik, termasuk makanan, air dan bantuan awal kepada para demonstran, juga dibentuk oleh komite rahasia kedubes AS untuk mengobarkan kerusuhan di Iraq. (FNA/Red)

Exit mobile version