BOGOR (Lead.co.id) – Sudah berbulan-bulan warga Kampung Cisasak, desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang harus berjuang menghadapi krisis air bersih karena air PAM sudah mati sejak beberapa bulan lalu.
Diketahui, air PAM yang menjadi sumber utama kebutuhan warga itu tidak lagi mengalir lancar. Kalaupun mengalir, debitnya sangat kecil, itupun hanya pada malam hari. Akibatnya, sekitar 50 rumah yang tersebar di satu RW dan tiga RT terdampak langsung oleh masalah ini.
Menurut penuturan warga, air PAM terakhir kali mengalir dengan baik siang dan malam sekitar satu tahun lalu. Kini, sebagian besar rumah tidak mendapat aliran sama sekali, sementara sebagian lainnya hanya mendapatkan air dalam jumlah sangat sedikit.
Warga pun terpaksa mencari sumber air alternatif demi memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak. Satu-satunya sumber air yang bisa dimanfaatkan warga adalah sumur tua di area Kampung Cisasak.
Meski tempatnya sudah terbengkalai dan jaraknya cukup jauh, warga rela panas-panasan demi mendapatkan air bersih. Aktivitas ini bahkan sudah menjadi rutinitas harian, terutama bagi para ibu rumah tangga dan anak-anak sekolah yang harus ikut membantu.
“Setiap pagi harus anti di sumur umum, kadang sampai kesiangan mau berangkat sekolah,” keluh salah satu warga.
Dirinya berharap, pihak terkait segera memperbaiki aliran air agar warga bisa kembali beraktivitas dengan normal tanpa harus repot mencari air ke tempat jauh.
Karena selain sulitnya akses, kualitas air di sumur pribadi warga juga memprihatinkan. Banyak sumur yang tercemar sampah, bahkan menyebabkan gangguan pada kulit.
“Air di rumah sudah nggak bisa dipakai, warnanya keruh dan bikin gatal,” ujar seorang ibu rumah tangga.
Warga berharap pihak pengelola air PAM segera turun tangan mengatasi masalah ini bagi mereka, air bukan sekadar kebutuhan dasar, tapi sumber kehidupan.
Karena, tanpa air maka aktivitas warga bisa lumpuh. Setiap hari terasa menjadi perjuangan panjang hanya untuk mendapatkan setimba air bersih.





