Oleh: Sulaeman, S.H
Tiga Dekade Menautkan Kampus, Pesantren, dan Masjid
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Kabar duka menyelimuti Kota Bogor pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Buya Dr. H. Ibdalsyah, M.A.—ulama, akademisi, dan pendidik yang puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah—berpulang ke rahmatullah. Kabar wafatnya diterima sekitar pukul 22.00 WIB.
Menurut informasi keluarga, jenazah almarhum dibawa dari Rumah Sakit Islam Bogor ke rumah duka. Jenazah direncanakan disalatkan bakda subuh di Masjid Baitussalam, Perumahan Bogor Raya Permai, kemudian disalatkan kembali di Masjid Ibn Khaldun Bogor selepas kajian Ahad pagi, 4 Oktober 2026. Almarhum selanjutnya dimakamkan di TPU Cilung, Kelurahan Curug, di belakang RSAU dr. M. Hassan Toto.
Duka itu tidak hanya dirasakan keluarga dan sivitas akademika Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor. Kehilangan yang sama dirasakan para mahasiswa, santri, jamaah, dan masyarakat yang selama ini mengenal beliau sebagai guru yang hadir dengan ilmu, adab, dan keteladanan. Sebab, seorang guru tidak hanya meninggalkan jabatan, karya, atau nama. Ia meninggalkan manusia-manusia yang pernah belajar darinya, dan di sanalah jejak Buya Ibdalsyah akan terus hidup.
Tiga Dekade Mengabdi di UIKA
Buya Ibdalsyah diangkat menjadi dosen tetap UIKA Bogor pada 1996. Pada tahun yang sama, namanya tercatat sebagai penulis karya akademik berbahasa Arab di International Islamic University Malaysia tentang kehujahan ijmak, sebuah studi perbandingan antara Ahlusunah dan Syiah Imamiyah. Delapan tahun kemudian, pada 2004, beliau menulis kajian tentang gagasan dakwah Syaikh Muhammad al-Ghazali di Universitas Islam Negeri Jakarta. Dua karya awal itu seolah menjadi peta bagi perjalanan keilmuannya: fikih di satu sisi, dakwah di sisi lain.
Sejak pengangkatan itu, tiga puluh tahun beliau lalui di kampus yang sama. Beliau menyandang jabatan akademik lektor kepala. Profil resmi Fakultas Agama Islam UIKA mencatat beliau sebagai dosen Program Studi Ekonomi Syariah, sedangkan pangkalan data SINTA mencatat home base beliau pada Program Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam dengan bidang kepakaran dakwah dan ekonomi Islam.
Amanah struktural pun silih berganti beliau emban di Sekolah Pascasarjana. Pada 19 Februari 2018, beliau dilantik sebagai Ketua Program Magister Ekonomi Syariah untuk periode 2018–2022. Pada 21 Maret 2022, beliau dipercaya menjadi Wakil Direktur Bidang Sumber Daya, Kerja Sama, dan Dakwah periode 2022–2026. Beliau juga pernah ditugasi sebagai Pelaksana Tugas Ketua Program Studi Magister Teknologi Pendidikan. Pada struktur baru periode 2026–2030, beliau mengemban amanah sebagai Kepala Pusat Studi Dakwah dan Kajian Kitab Turats.
Jabatan-jabatan tersebut merupakan bagian dari perjalanan profesionalnya. Namun, bagi mereka yang pernah duduk di hadapannya, ada sebutan yang lebih sederhana sekaligus lebih bermakna: guru. Sebutan itu lahir karena ilmu beliau tidak berhenti di ruang kuliah. Ilmu itu beliau bawa ke pesantren, ke masjid, ke majelis taklim, dan ke tengah masyarakat.
Kampus, Pesantren, dan Masjid dalam Satu Tarikan Napas
Di luar kampus, Buya Ibdalsyah adalah pimpinan Pondok Pesantren Yatim dan Dhuafa Al Baitul Makmur Al Usmani di Cijahe, Bogor. Di pesantren itulah ilmu yang beliau ajarkan menemukan bentuknya yang paling nyata: mengasuh dan mendidik anak-anak yatim serta kaum duafa.
Di lingkungan UIKA sendiri, pada 2018 beliau tercatat sebagai salah satu pembina Pondok Pesantren Mahasiswa dan Sarjana (PPMS) Ulil Albaab bersama Prof. K.H. Didin Hafidhuddin dan Dr. K.H. Ahmad Alim. Pesantren tersebut dirancang bukan sekadar sebagai tempat tinggal mahasiswa, melainkan sebagai ruang kaderisasi. Pada Ta’aruf dan Seminar Pendidikan PPMS Ulil Albaab 2023, beliau membawakan materi “Adab dan Akhlak Menuntut Ilmu”, tema yang mencerminkan keyakinannya bahwa pendidikan tidak cukup melahirkan manusia berilmu, tetapi juga manusia beradab.
Dari pesantren, jejak beliau berlanjut ke masjid. Di Masjid As-Sofia Kota Bogor, beliau mengasuh kajian Fiqh Manhaji dan Riyadhush Shalihin yang terbuka untuk umum dan disiarkan melalui kanal digital. Di PPMS Ulil Albaab dan Masjid Ibn Khaldun, beliau mengampu kajian Mukhtarul Ahadits. Beliau juga menjadi bagian dari tradisi Kajian Rutin Sabtu Pagi Sekolah Pascasarjana.
Ada satu kebiasaan yang lekat dalam ingatan jamaah Masjid Ibn Khaldun UIKA. Setiap kali kajian Jumat pagi yang beliau asuh selesai, Buya biasa menutupnya dengan melantunkan Selawat Tibbil Qulub, selawat yang memohonkan kesembuhan hati dan kesehatan badan. Lantunan itu menjadi penanda khas majelisnya: ilmu yang baru saja disampaikan diantar pulang dengan selawat. Kini, selawat yang sama akan terdengar sebagai kenangan tentang beliau.
Keterhubungan itu bukan kebetulan. Sebuah penelitian tentang penerapan konsep tiga pilar dakwah Mohammad Natsir di UIKA, yang turut mencantumkan nama beliau sebagai penulis, menempatkan kampus, pesantren, dan masjid sebagai satu kesatuan. Pada diri Buya Ibdalsyah, konsep itu tidak tinggal sebagai rumusan penelitian. Ilmu diajarkan di kelas, diperkuat di pesantren, dihidupkan di masjid, lalu dikembalikan kepada masyarakat.
Ilmu yang Tidak Berhenti di Mimbar
Pengabdian itu berjalan seiring dengan produktivitas ilmiah. SINTA (ID 6116183) mencatat 111 artikel beliau di Google Scholar dengan 591 sitasi, h-index 12, i10-index 15, dan skor SINTA keseluruhan 1.322. Di luar itu tercatat sepuluh buku, sejumlah hak cipta, serta penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang terus berjalan hingga 2026. Tema-temanya konsisten bergerak pada dua poros yang beliau tekuni sejak awal, yaitu ekonomi Islam dan dakwah, dengan pendidikan Islam sebagai jembatan di antara keduanya.
Pada poros ekonomi Islam, sejumlah penelitian terbit di Kasaba: Jurnal Ekonomi Islam. Di antaranya kajian tentang pemberdayaan masyarakat miskin melalui Baitul Maal wa Tamwil (2017), kebijakan pengelolaan zakat Umar bin Abdul Aziz dan relevansinya di Indonesia (2017), pemikiran Imam al-Ghazali mengenai mekanisme dan etika perilaku pasar (2018), serta analisis maqashid syariah pada Indeks Pembangunan Manusia (2018). Perhatian beliau kemudian meluas ke persoalan kontemporer: strategi digital fundraising zakat (2022), wakaf produktif untuk ketahanan pangan (2022), pengembangan wakaf produktif di pesantren (2023), hingga konsep zakat dan filantropi Islam untuk Palestina dalam perspektif maqashid syariah (2024).
Pada poros dakwah, beliau menulis tentang strategi dakwah Walisongo yang berpijak pada tradisi dan budaya lokal (2023), paradigma baru dakwah mengenai pangan dan produk halal (2022), serta pemanfaatan teknologi informasi era 4.0 dalam pengembangan strategi dakwah (2024). Adapun di bidang pendidikan, beliau meneliti pengaruh media sosial terhadap kesadaran beragama (2019) serta terhadap kesehatan mental dan kecerdasan spiritual di lembaga pendidikan Islam (2023).
Sebagian besar artikel itu ditulis bersama mahasiswa bimbingannya. Dengan demikian, daftar publikasi tersebut sesungguhnya juga merupakan daftar nama murid yang beliau antar menyelesaikan penelitiannya.
Sepuluh Buku: dari Zikir hingga Fikih Muamalah
Jika jurnal adalah cara beliau berbicara kepada sesama akademisi, buku adalah cara beliau berbicara kepada jamaah. Sebagian buku itu terbit dengan nama pena H. Ibdalsyah Intan Marajo. Rangkaiannya dimulai dengan Doa dan Dzikir Munajat (2011), disusul Tazkiyatun Nafs: Jalan Meraih Maghfirah Allah (2012), Al-Munjiyat: Jalan Menuju Selamat Dunia Akhirat (2013), Baiti Jannati (2014), Muraqabatullah: Bersama Allah Siang dan Malam (2016), dan Ath-Thariq ilal Jannah: Jalan ke Surga (2018). Judul-judul itu membentuk satu garis yang utuh: menyucikan jiwa, merasa diawasi Allah, membangun keluarga, lalu menempuh jalan menuju surga.
Di samping buku-buku pembinaan ruhani tersebut, beliau menulis karya untuk ruang kuliah. Fiqh Muamalah (2014), yang disusun bersama Hendri Tanjung, menjadi buku ajar. Pembelajaran Berbasis Lingkungan dan Sociopreneur (2018) ditulis bersama Maemunah Sa’diyah dan Salati Asmahasanah. Pada 2022, UIKA Press menerbitkan dua bukunya sekaligus: Metode Dakwah Syaikh Muhammad Al-Ghazali dan Ghazwul Fikri dalam Dakwah, yang melanjutkan kajian beliau sejak 2004, serta Materi Dakwah Islamiyah dalam Pembelajaran Agama Islam yang ditulis bersama Aria Mardiah.
Catatan SINTA juga menunjukkan bahwa meja kerja beliau belum kosong. Pada 2026, beliau masih memimpin penelitian tentang peran Mama Abdullah bin Nuh dalam dakwah bil hal sebagai agen perubahan sosial, serta tentang pelatihan manajemen salat khusyuk di Dewan Dakwah Islamiyah Kota Bogor. Pada 2022, beliau memimpin dua program pengabdian masyarakat di desa, salah satunya optimalisasi potensi desa dan ekonomi kreatif di Desa Cijeruk.
Gagasan itu pun beliau terjemahkan menjadi amal. Pada peletakan batu pertama Student Lounge Sekolah Pascasarjana UIKA, Juni 2024, beliau menyampaikan laporan selaku wakil direktur, menyerahkan sertifikat wakaf secara simbolis, dan mengajak pimpinan, dosen, serta alumni ikut berwakaf. Wakaf yang beliau teliti di jurnal, beliau gerakkan pula di kampusnya sendiri.
Beberapa Hari Sebelum Pulang
Ada yang menggetarkan ketika jejak terakhir Buya Ibdalsyah di ruang publik ditelusuri kembali. Pada 29 Agustus 2026, beliau menjadi salah satu narasumber Pelatihan Khatib Jumat yang diselenggarakan Korps Mubaligh ICMI Kota Bogor di Pondok Pesantren Baitul Makmur, Cijahe. Materinya meliputi fikih dakwah, retorika, teknik memilih tema khutbah, hadis, Al-Qur’an, hingga praktik menjadi khatib. Pada 24 September 2026, namanya masih tercatat sebagai pengisi Kajian Subuh pukul 05.00 WIB di Masjid Al-Muttaqin, Bogor.
Lalu pada Selasa, 29 September 2026, empat hari sebelum wafat, beliau menyampaikan kultum zuhur. Isinya kini terbaca seperti wasiat. Beliau mengingatkan empat perkara yang membuat seseorang celaka:
- Mata yang beku, yakni mata yang tidak pernah meneteskan air mata ketika berbuat salah dan dosa.
- Hati yang keras dan kasar, yang di dalamnya tidak ada sifat kasih sayang.
- Keserakahan dan ketamakan terhadap harta dan kekuasaan.
- Panjang angan-angan, yaitu keinginan yang memenuhi benak tetapi tidak mampu dicapai.
Nasihat tentang kematian memang bukan hal baru bagi beliau. Pada Kajian Rutin Sabtu Pagi, 19 November 2022, beliau membahas keutamaan mengingat kematian dan mengutip sebuah riwayat bahwa orang yang tidak bersedih atas wafatnya seorang alim tergolong munafik. Hari ini, kalimat itu kembali kepada murid-muridnya sebagai pengalaman, bukan lagi sebagai pelajaran.
Rangkaian jejak tersebut memperlihatkan sesuatu yang sederhana tetapi dalam. Hingga penghujung hidupnya, Buya tetap berada di jalan yang sama: mengajar dan membina. Tidak banyak orang yang dapat menutup perjalanan hidupnya dengan cara demikian. Beliau tidak meninggalkan dunia setelah berhenti mengabdi. Beliau berpulang ketika jejak pengabdiannya masih menyala.
Yang Pergi adalah Jasadnya, Bukan Ilmunya
Barangkali warisan Buya yang paling sulit diukur bukanlah jumlah publikasi, jabatan, atau majelis yang pernah diisinya, melainkan adab yang beliau tanamkan. Kesantunan seorang guru jarang tercatat dalam dokumen, tetapi tinggal sangat lama dalam ingatan murid: cara menyapa, cara menjelaskan, cara menasihati tanpa merendahkan, dan cara berbeda pendapat tanpa kehilangan adab.
Karena itulah ada kesedihan yang khas ketika seorang guru berpulang. Kita bukan hanya kehilangan seseorang yang kita kenal, melainkan seseorang yang pernah mengajari kita. Ada ruang yang tiba-tiba terasa kosong: kursi yang tidak lagi ditempati, suara yang tidak lagi terdengar, dan majelis yang terasa berbeda. Ada pula kalimat-kalimat nasihat yang baru terasa begitu berharga setelah sang guru tidak lagi berada di hadapan kita.
Namun, tradisi ilmu dalam Islam mengajarkan bahwa seorang guru tidak pernah benar-benar selesai mengajar hanya karena ia telah meninggalkan dunia. Ilmu yang telah disampaikan akan terus berjalan. Jika seorang murid mengamalkan satu nasihatnya, kebaikan itu terus bergerak. Jika seorang mahasiswa mengajarkan kembali ilmu yang pernah diterimanya, mata rantai itu berlanjut. Jika seorang jamaah meneruskan satu amal yang pernah dianjurkannya, jejak itu tetap hidup. Jika sebuah penelitian memberikan manfaat bagi masyarakat, ilmu itu kembali menjadi amal.
Maka, boleh jadi kematian seorang guru bukanlah akhir dari pengajarannya. Justru setelah ia berpulang, kita baru benar-benar menyadari betapa panjang jalan ilmu yang ia tinggalkan.
Selamat Jalan, Buya
Bagi keluarga, beliau adalah suami, ayah, dan orang tua. Bagi UIKA, beliau adalah akademisi dan bagian dari perjalanan kelembagaan. Bagi mahasiswa, beliau adalah dosen dan pembimbing. Bagi santri, beliau adalah guru. Bagi jamaah, beliau adalah ustaz yang mengisi majelis ilmu. Bagi masyarakat, beliau adalah ulama yang hadir membina umat. Dan bagi kami yang pernah belajar kepada beliau, ada satu sebutan yang paling sederhana sekaligus paling dalam: Buya adalah guru kami.
Karena itu, hari ini kami tidak ingin hanya mengucapkan selamat jalan. Kami ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih atas ilmu, atas nasihat, atas kesabaran, dan atas keteladanan. Terima kasih karena telah mengajarkan bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memberi manfaat kepada manusia.
Semoga seluruh ilmu yang pernah Buya ajarkan menjadi cahaya, dan setiap nasihat yang keluar dari lisan beliau menjadi amal jariah. Semoga setiap mahasiswa yang pernah beliau bimbing menjadi bagian dari pahala yang terus mengalir, dan setiap jamaah yang pernah duduk di majelisnya menjadi saksi kebaikan. Semoga setiap penelitian dan karya ilmiahnya memberi manfaat bagi umat, dan seluruh amal pengabdiannya diterima oleh Allah Swt.
Allāhummaghfir lahu warḥamhu wa ‘āfihi wa‘fu ‘anhu.
Ya Allah, ampunilah Buya Dr. H. Ibdalsyah, M.A. dan rahmatilah beliau. Muliakan tempat peristirahatannya, lapangkan dan terangi alam kuburnya, dan jadikan kuburnya taman di antara taman-taman surga. Terimalah seluruh amal ibadah, ilmu, dakwah, pendidikan, penelitian, dan pengabdiannya. Jadikan ilmu yang beliau wariskan sebagai amal jariah yang terus mengalir, bahkan ketika namanya kelak hanya tinggal dalam ingatan generasi. Berikan kekuatan, kesabaran, dan keikhlasan kepada Umi, anak-anak, keluarga besar, sahabat, mahasiswa, santri, dan seluruh umat yang kehilangan beliau.
Selamat jalan, Buya. Guru boleh berpulang, tetapi ilmu yang ditanamkannya tidak akan pernah ikut dikuburkan. Ia akan hidup dalam murid-muridnya, mengalir dalam amalnya, dan tumbuh dalam generasi yang pernah disentuh ilmunya. Insyaallah, selama ilmu itu masih diamalkan, nama seorang guru tidak pernah benar-benar pergi.
Raḥimakallāhu raḥmatan wāsi‘ah, Buya Dr. H. Ibdalsyah. Al-Fātiḥah.
Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Jejak Karya
Buku
- Doa dan Dzikir Munajat. Bogor: Azam Dunya, 2011. ISBN 9789799898838.
- Tazkiyatun Nafs: Jalan Meraih Maghfirah Allah. Bogor: Azam Dunya, 2012. ISBN 9789799898845.
- Al-Munjiyat: Jalan Menuju Selamat Dunia Akhirat. Depok: Sinergi Publishing (Kelompok Gema Insani), 2013. ISBN 9789799898753.
- Baiti Jannati (penyunting Hendri Tanjung). Gresik: CV Al Qalam, 2014. ISBN 9786027769120.
- Fiqh Muamalah (bersama Hendri Tanjung). Bogor: Azam Dunya, 2014. ISBN 9789799898839.
- Muraqabatullah: Bersama Allah Siang dan Malam. Bogor: Azam Dunya, 2016. ISBN 9786027254275.
- Ath-Thariq ilal Jannah: Jalan ke Surga (editor Maimunah). Bogor: PT Azam Dunya, 2018. ISBN 9786025215704.
- Pembelajaran Berbasis Lingkungan dan Sociopreneur: Analisis Praktik Nilai Sosial, Entrepreneur, dan Religius (bersama Maemunah Sa’diyah dan Salati Asmahasanah). Bogor: UIKA Press, 2018. ISBN 9786026254511.
- Metode Dakwah Syaikh Muhammad Al-Ghazali dan Ghazwul Fikri dalam Dakwah: Kritik Muhammad Al-Ghazali terhadap Pemikiran Kontemporer (editor Abdu Rahmat Rosyadi). Bogor: UIKA Press, 2022. ISBN 9786236712672.
- Materi Dakwah Islamiyah dalam Pembelajaran Agama Islam (bersama Aria Mardiah). Bogor: UIKA Press, 2022. ISBN 9786236712757.
Karya akademik dan artikel jurnal (pilihan)
- Ḥujjiyyat al-Ijmā‘: Dirāsah Muqāranah bayna Ahl al-Sunnah wa al-Syī‘ah al-Imāmiyyah. International Islamic University Malaysia, 1996.
- Gagasan Syaikh Muhammad Al-Ghazali tentang Dakwah. Universitas Islam Negeri Jakarta, 2004.
- “Analisis Pemberdayaan Lembaga Keuangan Mikro pada Masyarakat Miskin melalui Baitul Maal wa Tamwil.” Kasaba: Jurnal Ekonomi Islam 10(1), 2017.
- “Analisis Kebijakan Pengelolaan Zakat Umar bin Abdul Aziz dan Relevansinya di Indonesia.” Kasaba 10(2), 2017.
- “Analisis Pemikiran Imam Al-Ghazali Mengenai Mekanisme dan Etika Perilaku Pasar.” Kasaba 11(1), 2018.
- “Analisis Maqashid Syariah pada Indeks Pembangunan Manusia.” Kasaba 11(1), 2018.
- “Media Sosial dan Pengaruhnya terhadap Kesadaran Beragama sebagai Akibat dari Pola Asuh Orang Tua dan Peran Guru di Sekolah.” Edukasi Islami 8(02), 2019.
- “Strategi Digital Fundraising dalam Penghimpunan Dana Zakat: Studi Kasus Lembaga Amil Zakat Global Zakat.” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 8(1), 2022.
- “Optimalisasi Wakaf Produktif untuk Memperkuat Sistem Ketahanan Pangan.” El-Mal 3(5), 2022.
- “A New Paradigm of Islamic Dakwah on Food and Halal Products for Non-Muslims.” Proceedings of The International Halal Science and Technology Conference, 2022.
- “Strategy of Walisongo’s Dakwah Islamiyah in East Java Region Based on Community Traditions and Local Culture.” Remittances Review 8(2), 2023.
- “Navigating the Digital Realm: The Impact of Social Media on Mental Health and Spiritual Intelligence in Islamic Educational Settings.” Jurnal Pendidikan Islam 12(1), 2023.
- “Tahfidz Scholarship Program in Coaching Generation of the Quran.” Abdi Dosen: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat 7(3), 2023.
- “Concept of Zakat and Islamic Philanthropy Organizing for Palestine in Maqashid Sharia Perspective.” Ad-Deenar 8(02), 2024.
- “Era 4.0 Information Technology Helps the Development of Da’wah Strategies.” Educational Administration: Theory and Practice 30(5), 2024.
Sumber: profil SINTA dan Google Scholar, diakses 4 Oktober 2026
Penulis adalah Dosen tetap Universitas Ibn Khaldun Bogor sejak 1996, penulis sepuluh buku, dan pengasuh pesantren yatim dan duafa itu wafat pada Sabtu malam, 3 Oktober 2026. Hingga pekan terakhir hidupnya, beliau masih mengajar dan membina

