Oleh: Khotimi Bahri
Pendekar 212 balas menyeringai. “Jadi begini tampang manusia bernama Supit Jagal. Tadinya kukira masih muda dan ganteng, Tidak tahunya mirip-mirip kodok bengkak, bermata sipit! Pakaianmu bagus amat banyak tambalan. Dekil dan bau. Paling tidak kau tak pernah mandi selama dua tahun! Betul?” Tampang hitam Supit Jagal jadi berubah merah.
Sebaliknya murid Sinto Gendeng tertawa gelak-gelak. “Bangsat bosan hidup! Katakan apa keperluanmu mencariku?! Atau kau ingin mati saat ini juga?!” hardik Supit Jagal. “Aku mewakili seorang tua bernama Empu Pamenang dari Danau Merak Biru. Kau telah membunuh tiga orang muridnya tanpa sebab dan secara keji!” “Hemm….begitu? jadi kau kacung Empu Pamenang rupanya. Berapa upah yang diberikan tua bangka itu padamu? Jika kau mau jadi kacungku, aku bersedia membayardua kali lipat!” Wiro menyengir. “Membeli baju yang bagus saja kau tidak punya. Mau membayar aku pula! Tua bangka keblinger!”, ejek Wiro.
Pendekar 212 Wiro Sableng melompat sambil menyergap Lor Paregreg dengan satu tabasan. Kapak Naga Geni 212 berkiblat menyambar batok kepala Lor Paregreg. Namun saat itu pula dari samping kiri kana dua pukulan tangan kosong mengandung tenaga dalam tinggi menyerangnya dalam waktu yang bersamaan. Wiro bersuit keras. Tubuhnya berkelebat lenyap. Kini yang terlihat hanya kilauan cahaya senjata mustikanya disertai deru keras dan tebaran hawa panas. Itulah cuplikan cerita Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut 212 diambil dari serial cerita Ki Ageng Tunggul Akhirat.
Berikut berapa cuitan Faizal Assegaf :
“Ah, ternyata @aniesbaswedan
tdk sebatas berwatak Arab Jahiliyah, tp jg mirip kucing gurun, nanti saya akn buka kedok busukmu yg menipu ulama, habaib & umat. (Warta Kota, 15-03-2019). Pada Senin (11/3/2019), Faizal Assegaf berkicau melalui akun Twitter pribadinya menuduh Sandi tidak sekedar doyan pakai pelembab bibir, namun juga berwatak homo.
“Kepada seluruh rakyat Indonesia, perlu dipahami @sandiuno tidak sekedar doyan pakai pelembab bibir. Tapi secara filsafat, perilaku norak tersebut, esensinya mempertegas dia masih berwatak homo. Butuh waktu berevolusi menjadi binatang berakal. Makanya tidak pantas jadi cawapres. Itu Fakta! *FA*,” tulis Faizal dalam akun Twitter miliknya, @faizalassegaf.
“Saya ingatkan kalian dedengkot NU dan loyalisnya, Islam hadir sebagai ajaran yang melepaskan segala bentuk perbudakan. Fanatisme dan asabiah pada Hasyim Asy’ari dan Gus Dur, adalah bentuk nyata perbudakan akal yang menyesatkan!. Islam tidak butuh NU, Gus Dur dan embel-embel Hasyim Asy’ari. Kualat kalian!” ucapnya. Seperti dikutip NetralNews.Com, 24-10-2021 “Gus Dur, Hasyim Muzadi, Aqil Siradj s/d Gus Baha yang kini dijagokan utk mimpin PBNU, mrk bkn ULAMA tapi POLITISI. Itu-itu aja, orgnya! Segelintir orang klaim mereka ‘Wali’, jelas konyol. Keluar dari tempurung, agar eksistensiu & sumber daya NU tdk merosot, cari ulama yang bkn politisi!”
Dari dua gambaran aktor kehidupan, baik Faizal Assegaf yang riel, maupun Wiro Sableng tokoh fiktif tapi melegenda, ada persamaan dan perbedaan.
Persamaannya :
1. Keduanya selalu hadir dalam moment-moment tertentu dengan tujuan tertentu. Baik Faizal maupun Wiro hadir dalam situasi yang tidak terduga
2. Bahasa komunikasi keduanya memiliki kemiripan yaitu penggunaan bahasa yang sarkas dan tidak ada patokan kaidah yang dipakai.
3. Nyeleneh, unik dan nyentrik memjadi karakter yang melekat dari kedua aktor ini.
Namun ada perbedaan yang tajam antara Faizal Assegaf dan Wiro Sableng, diantaranya:
1. Wiro Sableng konsisten atau bahasa agamanya istiqomah membela yang benar. Biarpun bepenanpilan unik, bahkan dipersonifikasi kumuh dan semraut, tapi hatinya lurus, bersih dan berorientasi kebenaran.
Tentu berbeda dengan Faisal Assegaf yang disinyalir membela yang bayar bukan yang benar. Makanya Habib Zein Assegaf seorang dzurriyah yang lurus, cerdas dan arif memnyindirnya dengan sebutan tikus got yang kutu loncat. Ini bukan tanpa alasan, karena rekam jejak Faizal Assegaf yang bicara.
Bergabung di 212 dengan sejuta harapan kemudian menyerang 212 ketika harapannya pupus. Mendukung Anies Baswedan sebagai Gubernur Muslim tentu dengan sejuta impian, tapi akhirnya menyerang Anes Baswedan ketipa impiannya berubah menjadi mimpi siang bolong. Menyerang PKS dan tokoh-tokoh PKS dan dilaporkan ke aparat, tapi akhirnya dengan konyol dan lucu mencalonkan Hidayat Nur Wahid tokoh PKS menjadi ketua NU. Lebih konyolnya HNW merespon dengan penegasan, dirinya dan PKS tidak mau menjadi ketua PBNU. Hmmm konyol kan, memang siapa yang mau mencalonkan HNW ketua PBNU? Sebuah degelan yang konyol.
2. Wiro Sableng wajar nyentrik dan unik karena dia seorang murid dari tokoh persilatan yang juga nyentrik dan unik yaitu Sinto Gendeng. Tapi dalam dunia persilatan, keduanya disegani dan diakui. Keduanya sangat populis dan pembela kebenaran.
Tentu berbeda jauh dengan Faizal. Namun ada yang tidak kalah uniknya dari Faizal sendiri yaitu serangan yang membabi buta terhada NU, bahkan tokoh NU. Tidak hanya sosok Hadratus Syech Hasyim Asy’ari yang fatwa jihadnya menggelorakan pertempuran 10 Nopember Surabaya, tapi sosok Gus Mus, Gus Baha yang sama sekali tidak kenal bahkan tidak pernah sekalipun bicara Faizal tidak luput dari serangannya.
Pada saat yang bersamaan, ditengah perhelatan menjelang Muktamar NU ke 34, Faizal mencalonkan Hidayat Nur Wahid menjadi ketua PBNU. Konyol bukan!!! Pengurus bukan, kader banom bukan, kader lembaga juga bukan tiba-tiba dicalonkan. Yang lebih konyol, yang mencalonkan juga bukan pengurus, bukan kader, bukan simpatisan apalagi punya hak suara. Yang mencalonkan — meminjam istilah Habib Zein–tikus got kutu loncat yang oportunis. Benar-benar degelan yang susah dicerna. Tapi, apakah mungkin hubungan Faizal Assegaf dan Hidayat Nurwahid layaknya hubungan Wiro Sableng dengan Sinto Gendeng. Hanya saja kalau Wiro Sableng mewakili aliran putih, lurus, sedangkan Faizal mewakili aliran hitam, oponturir dan cari panggung? Hanya mereka dan Partai Keadilan Sejahtera yang tahu, dan tentu Allah Yang Maha Tahu.
Degelan politik pencalonan ketua PBNU ala Faizal, HNW, dan PKS hanya bisa dilakukan oleh orang sang sakit jiwa. Atau memang ingin mendestorsi jam’iyah NU, dan jamaah NU, untuk kemudian mengambil keuntungan dengan dukungan besar warga NU kepada PKS. Partai Keadilan Sejahtera dapat menambah segment pemilih, dan Faizal Assegaf dapat menambah pundi-pundi kantong pribadinya. Sekali lagi hanya kepada Allah kita kembalikan segalanya, bukan ranah saya untuk menduga apalagi menuding. Ini hanya sebuah kontemplasi dengan analisa utak-atik-getuk, yang dikaitkan dengan alur kejadian yang ada. Wallahu a’lam. Selebihnya, biarlah semua ini terkuak sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu.
3. Wiro Sableng ada di dunia fiksi, tapi kisahnya sangat menginspirasi kita, terutama dalam menegakkan kebenaran.
Faizal Assegaf ada di dunia nyata, tapi kok orang-orang sakit jiwa seperti dia tidak hanya ada dalam cerita fiksi. ranah saya untuk menduga apalagi menuding. Ini hanya sebuah hasil dari kontemplasi dan dikaitkan dengan alur kejadian yang ada. Selebihnya, biarlah semua ini terkuak sedikit demi sedikit.
Penulis adalah Wakil Ketua Umum Barisan Kesatria Nasional (BKN) dan Eksponen 98





