Site icon LEAD.co.id

Filsafat Buat Semua

Invisible hand, Dr. Bambang Wahyu

Komisioner KPU Kota Bogor, Dr. Bambang Wahyu

Oleh: Dr Bambang Wahyu

Sering terlontar pertanyaan bagaimana formula belajar filsafat yang efektif dan cepat? Atau bagaimana mengikuti diskusi filsafat dengan segala kerumitan pemahaman dan istilahnya?

Yang sering dilupakan adalah filsafat memiliki kesesuaian dengan gaya dan karakter masing-masing. Semuanya tidak selalu dan harus sama bagi setiap orang.

Jika kecenderungan berpikir imajinatif, pemikiran spekukatif filsafat berikut teori dan istilah teknisnya mungkin menarik. Begitu juga dengan mengidentifikasi dan mencari “benang merah” rangkaian pemikiran filsuf bisa memberi “keasyikan” tersendiri.

Bagi yang suka berpikir matematis, kepastian dari teori dan metode bisa menjadi lanskap berpikir. Pernak-pernik dalam teori dan metode yang dipahami biasanya menyediakan model berpikir yang sistematis dan terukur.

Secara umum, berpikir filsafat adalah berpikir logis, rasional, sistematis, dan radikal. Sebelum mempelajari filsafat, seseorang harus memiliki dasar logika yang baik. Logika menuntunnya untuk menempatkan “yang benar” adalah benar, “yang salah” adalah salah. Dengan kata lain, logika menuntun seseorang berpikir benar.

Rasional tidak harus dipahami dengan “serba masuk akal” karena selain ada realitas unspeakable juga ada prinsip “menyatukan dua hal yang saling tidak berhubungan”.

Filsafat yang rasional tidak dengan mudah menyatakan ketidaksesuaian antar elemen. Mungkin pada pandangan awal terjadi ketidaksesuaian tapi ketika dipahami lebih dalam ternyata ada “titik hubung” dari semua. Cara berpikir metafisik lebih mengarah pada pola seperti ini.

Rasionalitas juga berkenaan dengan kemampuan berpikir yang melampaui penampakan benda-benda (ta meta ta physica). Jika menemukan fenomena, seseorang melucuti citra yang melekat pada fenomena itu sehingga yang tersisa adalah eidos (esensi, hakikat) darinya. Seperti itulah Edmund Husserl, pencetus fenomenologi memberi cara berfilsafat yang rasional.

Setiap orang punya rasionalitas tapi tidak semua mampu menghubungkan apa yang dilihatnya dengan kategori-kategori ide yang terpatri dalam pikiran.

Immanuel Kant menyebutkan seseorang harus mampu mengikat sensorik penglihatan dengan ide-ide dalam pemikirannya. Semacam rekonsiliasi panca indera dengan pengetahuan sebelumnya (ide-ide bawaan, kata Descartes).

Mungkin terasa agak susah proses rekonsiliasi ini. Tapi selalu ada ruang yang memungkinkan seseorang memberi kaitan antara apa yang dilihat dengan memori ingatannya walaupun membutuhkan waktu untuk mengenalinya secara jelas.

Dalam berfilsafat biasanya ketika melihat satu fenomena dan mencari relevansinya dengan kerangka teori. Berdiskusi bisa menjadi solusi untuk hal seperti ini.

Sistematis bisa dipahami sebagai cara berpikir yang komprehensif dan berkesinambungan. Untuk mengetahui filsafat, sejarah pemikirannya tidak boleh dihilangkan. Rantai sejarah dari filsafat Yunani sampai hari ini merupakan kesatu-paduan yang utuh.

Beberapa filsuf mengulas pemikiran yang mendahuluinya untuk kemudian merumuskan teori filsafatnya. Minimal memberikan “catatan kaki” kritis atau mengambil inspirasi.

Slavoj Zizek mengulas terlebih dahulu pemikiran Descartes, Kant, Hegel, Lacan sebelum menyusun teori tentang subyek. Albert Camus mengambil inspirasi dari mitos Dewa Sisifus manakala melontarkan konsep absurditas.

Berpikir radikal adalah model berpikir yang melihat persoalan sampai ke intisarinya. Dengan memahami dan menguasai persoalan, seseorang mampu membuat kaitan persoalan itu dengan hal-hal lain.

Biasanya masing-masing filsuf menyusun istilah-istilah teknis filsafat yang unik. Pembacaan terhadap istilah itu menjadi salah satu syarat radikalitas berfilsafat.

Plato mengemukakan istilah pharmakon untuk menggambarkan dua sisi perspektif manusia. Husserl menyebutkan lebenswelt untuk dunia yang didiami manusia. Thomas Kuhn berbicara tentang paradigma untuk model pemikiran dan penelitian. Alan Badiou berbicara tentang atonal world untuk menunjukkan situasi hidup manusia dalam kepungan teknologi informasi.

Kesulitan yang membaca atau mendiskusikan pemikiran filsafat adalah menemukan istilah-istilah teknis ini. Pengertiannya sangat berbeda dengan yang dimaksudkan filsuf jika tidak dipahami secara radikal dan sistematis.

Misalnya konsep Nietzsche tentang will to power yang sering dimaknai sebagai syahwat untuk kekuasaan politik. Padahal Nietzsche memaksudkannya sebagai kategori etis yang melekat pada manusia untuk berkuasa penuh atas diri dan kebebasannya.

Ada dua model pendekatan filsafat, yaitu melalui: 1) pemikiran filsuf dan aliran pemikirannya, dan 2) tema pemikiran filsafat.

Pemikiran filsuf sangat menarik atensi pembacanya. Beragam istilah, kecerdasan menganalisis persoalan, serta kebaruan pemikiran menjadi daya tarik. Seseorang dapat memanfaatkannya untuk menganalisa satu persoalan.

Bacaan yang komprehensif menjadi kunci untuk mengurai labirin gagasannya. Menguasai satu pemikiran filsuf dapat menjadi “pisau analisis” membedah persoalan lain serta implikasinya. Inilah yang sangat menarik dari filsafat.

Menguasai pemikiran Juergen Habermas maka seseorang mampu melihat posisi manusia dan masyarakat hari ini, memahami kaitan ilmu pengetahuan sosial dan ideologi, bahasa dan hermeneutika, politik, dan komunikasi.

Dalam pendekatan tematik, seseorang harus menentukan terlebih dahulu satu tema. Baru kemudian dianalisa oleh beberapa pemikiran filsuf yang membahas tentang tema itu. Kelebihan pendekatan ini, seseorang dapat melihat nodal point dari sejumlah pemikiran. Terkadang istilah teknis yang digunakan filsuf pun berbeda termasuk pengertiannya.

Terlepas dari itu, filsafat membutuhkan konsentrasi untuk memahami dan menganalisa teori dan pemikiran filsafat. Membaca buku menjadi rutinitas. Pemahaman yang lengkap terhadap teori dan pemikiran filsafat membentuk mode of thought filosofis sehingga menjadi keseharian. Biasanya nalar filosofis ini mewarnai gaya bicara, pisau analisis, serta orientasi tindakan.

Pada tahap lanjutan, filsafat memberikan gagasan-gagasan baru pada cara melihat persoalan di sekililing. Fenomena hidup keseharian dapat menimbulkan perdebatan dan diskusi filsafat yang hangat. Membaca buku, walaupun hanya buku teks sekolah, atau nonton film kartun memberi inspirasi filosofis yang mendalam. Maka tidak salah manakala filsafat disebutkan sebagai “mother of science“.

Exit mobile version