Masyarakat Non Ideologis

oleh -591 views
Bambang Wahyu, Ideologi, Masyarakat Non Ideologis

Philosophy Corner by: Dr Bambang Wahyu

Bukan preferensi politik yang menata sikap dan perilaku masyarakat. Bukan pula tindakan politik yang mampu mengubah orientasi kolektif. Politik bahkan menjadi “ruang sesak” kekuasaan yang berjalan sendiri tanpa legitimasi ideologis. Alih-alih moral. Pada masyarakat global hari ini, ada transmutasi ideologi yang berkelindan dengan banyak sebab dan mengubah persepsi masyarakat tentang politik. Pergeseran makna ideologi dalam artikulasi filsafat politik pun mempengaruhi nalar publik tentang banyak hal: relasi kuasa, kesejahteraan, bahkan keseharian.

Secara konseptual, ideologi adalah sistem pemikiran/ide. Pemahaman atau pengalaman terhadap satu realitas sosial (misalnya segregasi sosial) melahirkan ideologi (misalnya keadilan sosial).

Penjelasan awal Hannah Arendt tentang vita contemplativa lebih cenderung ke konsepsi ini. Ideologi pada awalnya merupakan konsepsi teoritis tentang satu fenomena sosial. Sementara politik adalah sistem aksi/tindakan, yang kemudian dikaitkan dengan upaya merealisasikan ideologi tersebut. Maka Arendt menyebutkan dengan vita activa .

Arendt menyebutkan politik sebagai state of appearance (penampakan identitas warga negara). Identitas warga negara hanya mungkin terjadi di ranah polis (ruang publik) karena identitas kolektif menjadi tindakan untuk menyusun formula kebaikan umum bagi warga negara.

Di ranah privat, seperti oikos (rumah tangga) tidak memungkinkan munculnya identitas politik karena tidak ada kesetaraan dan kebebasan. Ranah oikos berisi relasi kuasa, disparitas sosial, serta dominasi. Kolonisasi ruang publik oleh ruang privat mengakibatkan politik kehilangan otentisitasnya.

Pemahaman awal tentang konsep ideologi dan politik ini yang berkembang sehingga politik dan ideologi laiknya dua sisi dari kepingan mata uang yang sama. Maka istilah “ideologi politik” menjadi paradigma dalam memahami konseptualisasi politik dan ideologi.

Baca :  Demokrasi Elektoral dan Keadilan Prosedural

Pergeseran Makna Ideologi

Banyak pihak menyematkan berbagai konseptualisasi yang politik. Salah satunya “bio-politik”. Zizek dalam Violence (2008:40) menyebutkan bio-politik adalah efisiensi administrasi hidup yang memobilisir kecemasan atau ketakutan manusia. Bio-politik adalah “politik ketakutan” yang bekerja pada ranah kecemasan atau ketakutan manusia pada situasi sosialnya: takut miskin, takut gemuk, cemas terhadap penyakit, takut nganggur, dan lain-lain.

Dengan kata lain, bio-politik mendesain bagaimana ranah kehidupan mengalami depolitisasi bukan oleh tindakan politik melainkan oleh fetisisme komoditas atau oleh suatu pengaturan strategis ruang sosial dan aktivitas di dalamnya. Bio-politik menggeser artikulasi ideologis bukan semata urusan politik tapi ke arah diskursus keseharian manusia (kesejahteraan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain).

Karl Marx merupakan orang pertama yang melihat persoalan utama disparitas sosial bukan lah kepentingan politik tapi relasi ekonomi. Faktor kepemilikan alat produksi memicu segregasi sosial antara pemilik modal/alat produksi (borjuis) dengan pekerja (proletar).

Ideologi lahir dari relasi kausalitas antara kepentingan borjuis yang mengatur proyeksi ideologis kaum proletar dengan false consciousness (kesadaran palsu) kaum proletar tentang realitas sosial. Determinasi ekonomi menentukan proyeksi ideologisnya, yaitu ketimpangan ekonomi. Persoalan ekonomi lebih konkrit dari ideologi politik. Dan Marx mengubah haluan ideologi menjadi lebih konkrit, yaitu disparitas kekayaan.

Kesadaran palsu tentang realitas sosial mengakibatkan kaum proletar berada pada posisi dirugikan secara politik. Mereka mengalami “alienasi” (terasing) dari alat produksi yang seharusnya mereka miliki. Borjuis yang menentukan bagaimana proletar memaknai hidupnya. Untuk itu, tindakan politik menjadi cara mengubah relasi kausalitas tadi atau mengubah kepemilikan alat produksi.

Tidak bisa dipungkiri, realitas sosial menyatu dengan eksistensi manusia. Realitas mengandung banyak hal: segregasi, anomali, kohesi, bahkan konflik. Manusia adalah “yang sosial” itu sendiri, yang berpikir dan bertindak di dalamnya.

Baca :  Saintisme: Kebenaran Yang Mana?

Louis Althusser memahami kekayaan ekonomi hanya satu sub varian dari masalah ideologi. Baginya, ideologi menyangkut keseluruhan eksistensi manusia. Manusia adalah mahluk ideologis. Jika Marx memahami manusia dikepung oleh “kesadaran palsu” yang mengebiri, Althusser melihat manusia sama sekali tidak menyadari permainan ideologi dalam situasi sosialnya. Ideologi menjadi “profoundly unconscious” .

Sedari bayi, manusia telah “direnggut” oleh ideologi tanpa bisa menolak dan menyadarinya. Ia lahir sebagai mahluk ideologis dari rahim situasi sosialnya. Sebagai anak anu, dari suku dan agama anu, hidupnya dalam klas anu, menjadi bagian dari keluarga besar anu, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan Marx, Althusser membalikkan realitas sosial pada suprastruktur; pada gambaran realitas. Kondisi riil tidak melahirkan proyeksi ideologi. Cara situasi sosial berkorespondensi dengan manusia melalui imajinasi. Imajinasi mengangkat realitas menjadi berjarak supaya manusia bisa melakukan signifikasi.

Realitas sosial “diangkat” ke ranah konsepsi imajiner. Beragam fenomena sosial baru bisa dipahami ketika memberi jarak dengannya. Interpelasi manusia oleh ideologi merupakan bentuk relasi imajiner manusia dengan situasi sosialnya.

Melalui relasi imajiner, manusia melakukan pemaknaan baru (signifikasi) terhadap kondisi sosialnya. Proses signifikasi ini dilakukan di dalam dan melalui disposisi sosialnya. Althusser menggeser makna ideologis lebih jauh lagi. Persoalan ideologi bukan relasi kausal antara proletar dan borjuis, melainkan relasi imajiner antara manusia dengan situasi sosialnya.

Makna ideologi kontemporer memperoleh momentum pada Zizek. Ideologi bukan fakta sosial seperti pertentangan klas atau subjektivisme manusia tentang realitas sosialnya tapi lebih pada persoalan dalam diri manusia.

Baca :  Korem Suryakencana Perkuat Ideologi Pancasila bagi Masyarakat

Manusia adalah “persona yang retak”, the lackness subject (manusia kekurangan). Manusia mengalami masalah dalam dirinya karena efek traumatis yang dialami. Efek traumatis ini berkelindan dan muncul dari “hasrat tertunda”. Solusinya adalah berfantasi.

Bagi Zizek, fantasi bukan lah cara melarikan diri dari realitas. Alih-alih, fantasi menawarkan realitas itu dan menyusun skema untuk menikmatinya. Jika pada Freud, efek traumatis hasrat merupakan syndrome , pada Zizek (yang mengikuti Lacan), hasrat menjadi pemantik lahirnya ideologi dan budaya.

Lahirnya ideologi dan praktik politik karena manusia “membaca” artikulasi hasrat dalam dirinya. Zizek mengistilahkannya dengan “symptomic reading” . Membaca artikulasi hasrat ini yang menyebabkan manusia berusaha melangsungkan fantasi politiknya secara luas dalam berbagai aktivitas yang non-ideologis, seperti artikulasi bio-politik di atas.

Dalam skala besar, masyarakat menyusun skema pemenuhan hasrat melalui “politik kenikmatan”. Hasrat yang tertunda dilembagakan dalam berbagai institusi sosial. Masyarakat membentuk akumulasi hasrat itu dalam ruang sosial dan menyusun cara menikmatinya. Kafe, gym, sport center, rumah ibadah, supermarket, dan lain-lain adalah institusionalisasi hasrat tersebut. Maka beragam keseharian manusia adalah akumulasi dari “hasrat tertunda” yang berusaha dinikmati.

Politik kenikmatan adalah artikulasi aktivitas manusia dalam kesehariannya. Dalam politik kenikmatan, ideologi hadir bukan sebagai “yang politis” tapi upaya rasional menikmati permainan hasrat. Jika satu hasrat terpenuhi, manusia memindahkan koordinat pemenuhannya pada hasrat yang lain, dan begitu seterusnya.

Maka Zizek mengatakan hasrat adalah keseharian manusia. Hasrat menampilkan diri dalam aktivitas yang non-ideologis: makan, minum, berolahraga, belajar, dan lain sebagainya. Dalam semua aktivitas itu, ideologi masuk dalam proyeksi nalar manusia untuk dinikmati.