BOGOR (Lead.co.id) Lapangan Telaga Inspirasi IPB University, Dramaga, menjadi ruang perjumpaan berbagai identitas budaya, pada Minggu (27/9/2026). Mahasiswa dari berbagai daerah hadir membawa pakaian adat, kesenian, kuliner, cerita, dan tradisi yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dalam satu ruang, berbagai ekspresi tersebut bertemu dan membentuk sebuah gambaran kecil tentang Indonesia yang hidup di lingkungan kampus.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari Gebyar Nusantara (Genus) IPB 2026, agenda kebudayaan mahasiswa yang diselenggarakan oleh Kementerian Seni dan Budaya BEM KM IPB 2026. Mengangkat tema “Luaskan Potensi Budaya dalam Kreativitas Anak Muda”, rangkaian Genus berlangsung pada 5–27 September 2026 dengan melibatkan puluhan organisasi mahasiswa daerah (OMDA) yang berada di lingkungan IPB University.
Rangkaian kegiatan Genus 2026 diisi dengan berbagai agenda yang mempertemukan mahasiswa melalui perlombaan, penampilan seni dan budaya, stan kebudayaan, kuliner Nusantara, Jelajah Nusantara, serta berbagai aktivitas yang melibatkan organisasi mahasiswa daerah. Puncak kegiatan kemudian ditutup melalui malam puncak di Lapangan Telaga Inspirasi IPB University dengan menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon.
Bagi Menteri Koordinator Pengembangan Potensi Mahasiswa BEM KM IPB, Ludgerus Mashur Basana Manik, keberadaan Gebyar Nusantara memperlihatkan bahwa pengembangan mahasiswa tidak dapat dibatasi pada ruang akademik maupun pencapaian prestasi yang dapat diukur secara konvensional.
Mahasiswa, menurutnya, membutuhkan ruang yang beragam untuk menemukan kemampuan dan membangun pengalaman yang kelak menjadi modal ketika mereka memasuki kehidupan profesional dan masyarakat.
“Kalau kita berbicara tentang potensi mahasiswa, kita tidak boleh hanya melihat mahasiswa dari nilai akademiknya atau dari prestasi yang berhasil dibawa pulang. Ada potensi kepemimpinan, kreativitas, kemampuan membangun jejaring, kemampuan bekerja dalam keberagaman, dan kemampuan mengelola sebuah proses. Semua itu tumbuh ketika mahasiswa mendapatkan ruang untuk mencoba dan mengalami secara langsung,” ujar Ludgerus.
Bagi IPB University, keberadaan Gebyar Nusantara bukan sekadar agenda hiburan mahasiswa. Kegiatan yang telah berlangsung selama lebih dari dua dekade tersebut menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengenal keberagaman Indonesia melalui pengalaman langsung. Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan IPB University, Deni Noviana, menilai kegiatan seperti Gebyar Nusantara memiliki arti penting dalam membangun pengalaman mahasiswa di luar ruang akademik.
Menurut Deni, pendidikan mahasiswa tidak berhenti pada proses pembelajaran di dalam kelas. Kemampuan berjejaring, berkolaborasi, berkreasi, dan memahami keberagaman juga menjadi bagian penting dari proses pembentukan mahasiswa.
Pandangan tersebut menjadi semakin relevan karena mahasiswa yang terlibat dalam Genus tidak hanya hadir sebagai penonton. Mereka menjadi bagian dari proses penyelenggaraan kegiatan, mulai dari mempersiapkan konsep, mengelola organisasi, menampilkan kebudayaan daerah, hingga membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Ketua Pelaksana Gebyar Nusantara 2026, Jonathan Fabian, mengatakan tema tahun ini sengaja diarahkan untuk menempatkan budaya sebagai sumber kreativitas generasi muda. Menurutnya, kebudayaan tidak cukup hanya dikenalkan dalam bentuk simbol, tetapi perlu diberi ruang agar dapat diterjemahkan menjadi karya yang relevan dengan kehidupan anak muda.
“Melalui tema ‘Luaskan Potensi Budaya dalam Kreativitas Anak Muda’, kami ingin menunjukkan bahwa budaya bukan sesuatu yang berhenti pada warisan masa lalu. Budaya dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan kreativitas dan karya baru dari generasi muda,” ujar Jonathan.
Menurut Jonathan, proses penyelenggaraan Genus juga menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa yang terlibat di dalam kepanitiaan. Mereka dituntut untuk bekerja dalam tim, mengelola berbagai kebutuhan kegiatan, berkoordinasi dengan organisasi daerah, dan memastikan seluruh rangkaian berjalan sesuai dengan konsep yang telah disusun.
“Bagi kami, Genus bukan hanya tentang bagaimana acara ini terlihat pada saat malam puncak. Proses yang dijalani teman-teman sejak persiapan juga menjadi bagian penting. Banyak mahasiswa yang belajar mengelola kegiatan, berkomunikasi, bekerja sama, dan menyelesaikan persoalan selama proses tersebut,” katanya.
Ketika Kampus Menjadi Miniatur Indonesia
Presiden Mahasiswa BEM KM IPB University, Muhammad Abdan Rofi, melihat keberadaan organisasi mahasiswa daerah sebagai salah satu kekuatan penting dalam kehidupan kemahasiswaan IPB. Puluhan OMDA yang ada di kampus memperlihatkan bahwa mahasiswa IPB datang dari latar belakang budaya yang beragam.
Menurut Abdan, keberagaman tersebut menjadi modal sosial yang perlu dirawat. Kampus tidak hanya menjadi tempat mahasiswa dari berbagai daerah bertemu dalam kegiatan akademik, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun relasi dan memahami perspektif yang berbeda.
“IPB merupakan salah satu ruang di mana mahasiswa dari berbagai daerah bertemu. Masing-masing membawa latar belakang, pengalaman, dan budaya yang berbeda. Gebyar Nusantara menjadi ruang yang mempertemukan semua itu sehingga keberagaman tidak hanya kita bicarakan, tetapi benar-benar kita alami bersama,” ujar Abdan.
Ia menilai pengalaman tersebut penting karena mahasiswa pada akhirnya akan kembali ke berbagai daerah dengan membawa pengalaman yang mereka dapatkan selama berada di kampus.
“Ketika mahasiswa dari Papua bertemu dengan mahasiswa dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan daerah lainnya, ada proses saling belajar yang terjadi. Itu adalah pengalaman yang sangat berharga karena mereka tidak hanya mengenal daerahnya sendiri, tetapi juga belajar memahami Indonesia dari perspektif orang lain,” katanya.
Dalam konteks tersebut, Gebyar Nusantara menjadi lebih dari sekadar festival. Ia menjadi ruang sosial tempat mahasiswa belajar hidup dalam keberagaman.
Budaya sebagai Bagian dari Pengembangan Potensi Mahasiswa
Makna tersebut juga menjadi perhatian Kementerian Koordinator Pengembangan Potensi Mahasiswa BEM KM IPB 2026. Di bawah koordinasi Menteri Koordinator Pengembangan Potensi Mahasiswa, Ludgerus Mashur Basana Manik, Kemenkoan PPM melihat kegiatan seni dan budaya sebagai salah satu instrumen penting dalam pengembangan kapasitas mahasiswa.
Ludgerus menilai potensi mahasiswa tidak dapat dilihat hanya dari prestasi akademik maupun capaian yang bersifat formal. Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam organisasi, seni, budaya, olahraga, kreativitas, dan berbagai aktivitas lainnya juga menjadi bagian dari proses pembentukan kapasitas.
“Kalau kita berbicara tentang potensi mahasiswa, kita tidak boleh hanya melihat dari nilai akademik atau prestasi yang mendapatkan penghargaan. Banyak kemampuan mahasiswa justru tumbuh ketika mereka mendapatkan ruang untuk mencoba, memimpin, berkarya, dan bekerja bersama orang lain,” ujar Ludgerus.
Ia melihat Gebyar Nusantara sebagai salah satu contoh bagaimana sebuah kegiatan kebudayaan dapat menjadi ruang pengembangan mahasiswa secara lebih luas.
“Ketika mahasiswa mengelola sebuah kegiatan seperti Genus, mereka sebenarnya sedang belajar banyak hal. Mereka belajar mengelola tim, berkomunikasi, mengambil keputusan, menghadapi masalah, membangun jejaring, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang mereka lakukan. Semua itu merupakan bagian dari pengembangan potensi,” katanya.
Menurut Ludgerus, pendekatan tersebut menjadi alasan mengapa Kemenkoan PPM mendorong agar kementerian-kementerian di bawah koordinasinya tidak melihat program kerja secara sektoral.
“Potensi mahasiswa itu tidak mengenal sekat kementerian. Seni dan budaya bisa bertemu dengan industri kreatif, kepemudaan, kewirausahaan, bahkan pengembangan karier. Karena itu, tugas kita bukan sekadar memastikan setiap kementerian menjalankan program, tetapi memastikan program-program tersebut saling terhubung dan memberikan pengalaman yang utuh bagi mahasiswa,” ujar Ludgerus.
Dari Pelestarian Menuju Kreativitas
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon mengapresiasi penyelenggaraan Gebyar Nusantara IPB 2026 yang dinilainya menjadi ruang penting bagi mahasiswa untuk mengenal, mengapresiasi, sekaligus mengembangkan kekayaan budaya Indonesia. Menurut Fadli, keberlanjutan Gebyar Nusantara selama lebih dari dua dekade menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem kebudayaan di tengah perubahan zaman.
“Gebyar Nusantara telah berlangsung selama 23 tahun dan menjadi ruang apresiasi, kreasi, serta ekspresi budaya bagi generasi muda. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kebudayaan Indonesia,” ujar Fadli Zon dalam momentum penutupan Gebyar Nusantara 2026.
Fadli menilai Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar dan beragam. Kondisi tersebut, menurutnya, merupakan kekuatan yang harus terus dirawat oleh generasi muda, termasuk melalui ruang-ruang pendidikan dan organisasi kemahasiswaan. Ia juga menekankan pentingnya membangun ekosistem kebudayaan yang memungkinkan generasi muda tidak hanya menjadi penikmat, tetapi juga pelaku dan pencipta karya budaya.
Dalam konteks tersebut, Fadli melihat kegiatan mahasiswa seperti Gebyar Nusantara memiliki arti strategis karena mempertemukan kebudayaan dengan kreativitas generasi muda. Menurutnya, kebudayaan harus terus dikembangkan agar dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap kehidupan sosial maupun ekonomi.
Fadli juga menyoroti potensi ekonomi budaya dan industri kreatif yang dapat dikembangkan dari kekayaan budaya Indonesia. Ia mengingatkan bahwa sumber daya alam memiliki keterbatasan, sementara kebudayaan dapat terus tumbuh apabila diwariskan, dikembangkan, dan dikelola secara berkelanjutan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, menurut Fadli, mahasiswa memiliki posisi penting dalam menjaga keberlanjutan kebudayaan Indonesia. Kampus dapat menjadi ruang untuk mempertemukan tradisi dengan inovasi, sehingga kekayaan budaya tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber kreativitas dan kekuatan baru bagi generasi muda.
Kehadiran Fadli Zon dalam penutupan Gebyar Nusantara 2026 sekaligus memberikan pesan bahwa gerakan kebudayaan tidak hanya berlangsung melalui institusi pemerintah. Organisasi mahasiswa, komunitas, perguruan tinggi, dan generasi muda memiliki peran yang sama penting dalam memastikan kebudayaan Indonesia tetap hidup dan berkembang.
“Budaya harus terus hidup dan berkembang. Generasi muda harus menjadi bagian penting dalam proses tersebut, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku yang menciptakan karya dan membawa kebudayaan Indonesia ke masa depan,” Ujar Fadli Zon Menteri Kebudayaan Republik Indonesia.
Organisasi sebagai Ruang Belajar
Di balik festival yang berlangsung selama beberapa pekan, terdapat pengalaman organisasi yang menjadi bagian penting dari Genus 2026. Jonathan Fabian mengatakan proses tersebut menjadi salah satu nilai yang ingin ditinggalkan dari penyelenggaraan tahun ini.
“Teman-teman yang terlibat tidak hanya belajar mengenai budaya, tetapi juga belajar mengenai organisasi. Ada target yang harus dicapai, ada pembagian kerja, ada masalah yang harus diselesaikan, dan ada banyak kepentingan yang harus dikomunikasikan. Itu semua menjadi proses pembelajaran,” ujar Jonathan.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bagian yang tidak kalah penting dibandingkan hasil akhir acara.
“Ketika acara selesai, yang kami harapkan bukan hanya orang mengingat bagaimana meriahnya Genus, tetapi juga bagaimana teman-teman panitia tumbuh selama menjalankan prosesnya,” katanya.
Perspektif tersebut mendapat perhatian dari Ludgerus. Menurutnya, organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan kegiatan, tetapi menjadi ruang pendidikan kepemimpinan.
“Mahasiswa belajar memimpin bukan hanya ketika mereka menjadi ketua. Mereka belajar memimpin ketika harus mengambil tanggung jawab, menyelesaikan konflik, memastikan pekerjaan tim berjalan, dan berani mengambil keputusan. Organisasi memberikan ruang yang sangat besar untuk proses tersebut,” ujar Ludgerus.
Karena itu, ia mendorong agar program kerja mahasiswa tidak hanya dilihat dari sisi output.
“Kalau ukurannya hanya acara selesai, kita akan kehilangan banyak hal. Kita harus melihat prosesnya. Berapa mahasiswa yang berkembang? Berapa jejaring yang terbentuk? Apa kemampuan baru yang mereka dapatkan? Dan apa yang bisa diteruskan setelah program selesai?” katanya.
Keberagaman yang Tidak Berhenti di Panggung
Bagi Abdan Rofi, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat keberagaman yang ditampilkan dalam Genus tidak berhenti ketika festival berakhir.
“Jangan sampai keberagaman hanya kita rayakan ketika ada acara. Yang lebih penting adalah bagaimana semangat itu menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa sehari-hari. Bagaimana mahasiswa bisa tetap berkolaborasi setelah Genus selesai, bagaimana OMDA bisa saling bekerja sama, dan bagaimana hubungan yang sudah terbentuk dapat dikembangkan menjadi sesuatu yang lebih besar,” ujarnya.
Menurutnya, hubungan antarmahasiswa daerah memiliki potensi untuk berkembang menjadi berbagai bentuk kolaborasi.
“Bisa saja setelah Genus ada kolaborasi antardaerah di bidang sosial, akademik, kewirausahaan, seni, atau bahkan pengabdian masyarakat. Itu yang menurut saya menjadi nilai lebih dari kegiatan seperti ini,” kata Abdan.
Ludgerus memiliki pandangan serupa. Ia menyebut keberlanjutan jejaring sebagai salah satu indikator penting dari keberhasilan program mahasiswa.
“Program boleh selesai, tetapi hubungan yang dibangun jangan selesai. Kalau setelah Genus ada mahasiswa dari berbagai daerah yang kemudian membuat kolaborasi baru, itu justru menjadi salah satu keberhasilan yang paling penting karena dampaknya bergerak di luar kegiatan awal,” ujar Ludgerus.
Peran Kampus dalam Membentuk Mahasiswa yang Utuh
Deni Noviana juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan akademik dan pengalaman mahasiswa di luar kelas. Menurutnya, aktivitas kemahasiswaan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan yang tidak selalu diperoleh melalui proses pembelajaran formal.
Dalam konteks tersebut, keberadaan agenda seperti Genus menjadi bagian dari ekosistem kehidupan mahasiswa IPB. Mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk berkreasi, membangun relasi, dan mengembangkan pengalaman organisasi dalam lingkungan yang mendukung.
Bagi Ludgerus, dukungan tersebut penting karena kampus merupakan salah satu ruang pembentukan generasi muda sebelum mereka terjun ke masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar teori. Mereka membutuhkan ruang untuk mengalami. Mereka perlu mengalami bagaimana bekerja dengan orang lain, bagaimana memimpin, bagaimana gagal dan memperbaiki kesalahan, bagaimana menyelesaikan persoalan, dan bagaimana mempertanggungjawabkan keputusan,” katanya.
Menurutnya, pengalaman semacam itu akan menjadi modal ketika mahasiswa memasuki dunia setelah kampus.
“Ketika lulus nanti, dunia tidak akan bertanya hanya berapa IPK kita. Dunia akan bertanya apakah kita bisa bekerja dalam tim, apakah kita bisa menyelesaikan masalah, apakah kita bisa berkomunikasi, apakah kita bisa memimpin, dan apakah kita mampu beradaptasi. Sebagian kemampuan itu dibentuk melalui pengalaman selama menjadi mahasiswa,” ujar Ludgerus.
Menjaga Apa yang Sudah Dibangun
Genus 2026 juga menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah program mahasiswa yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade. Bagi Jonathan, keberlanjutan tersebut menjadi tanggung jawab bersama generasi mahasiswa saat ini.
“Genus sudah ada jauh sebelum kami masuk sebagai mahasiswa. Karena itu, kami merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga apa yang sudah dibangun generasi sebelumnya dan memberikan sesuatu yang bisa dilanjutkan oleh generasi setelah kami,” katanya.
Ludgerus melihat keberlanjutan tersebut sebagai contoh penting tentang bagaimana sebuah program mahasiswa dapat menjadi bagian dari institusi sosial di dalam kampus.
“Ketika sebuah program bisa bertahan melewati banyak generasi, berarti program tersebut memiliki nilai yang dirasakan oleh mahasiswa. Tugas kita bukan hanya menjalankannya, tetapi membuatnya tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa hari ini,” ujar Ludgerus.
Menurutnya, setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, program yang sama tidak harus selalu dijalankan dengan cara yang sama.
“Yang harus dipertahankan adalah nilai dan semangatnya, bukan berarti semua bentuknya harus sama. Setiap generasi harus punya keberanian untuk melakukan inovasi. Kalau Genus ingin terus hidup, ia harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitasnya,” katanya.
Dari IPB untuk Indonesia
Gebyar Nusantara 2026 pada akhirnya memperlihatkan bagaimana ruang kebudayaan dapat berkembang menjadi ruang pengembangan manusia. Mahasiswa datang membawa identitas daerah masing-masing, kemudian bertemu dengan mahasiswa lain yang memiliki latar belakang berbeda. Dalam proses tersebut, mereka tidak hanya menunjukkan budaya, tetapi juga belajar berkomunikasi, bekerja sama, mengelola kegiatan, dan membangun jejaring.
Bagi Kemenkoan Pengembangan Potensi Mahasiswa BEM KM IPB, pengalaman tersebut menjadi bagian dari agenda yang lebih besar untuk membangun ekosistem kemahasiswaan yang memberikan ruang tumbuh bagi berbagai jenis potensi.
Ludgerus mengatakan bahwa ukuran keberhasilan kerja Kemenkoan PPM pada akhirnya bukan sekadar jumlah program yang dapat dikawal selama satu periode.
“Bagi saya, keberhasilan Kemenkoan bukan hanya ketika kita bisa mengatakan bahwa banyak program sudah selesai. Keberhasilan itu ketika mahasiswa merasakan bahwa ada ruang yang lebih luas untuk berkembang. Ketika mahasiswa yang tadinya tidak berani tampil menjadi berani, ketika jejaring antarmahasiswa semakin kuat, ketika ada karya yang lahir, atau ketika sebuah program bisa diteruskan oleh generasi berikutnya, di situ kita bisa melihat dampaknya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pengembangan potensi mahasiswa merupakan pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan dalam satu periode kepengurusan.
“Kita hanya mendapatkan satu periode untuk bekerja, tetapi mahasiswa yang kita layani akan terus berganti. Karena itu, jangan membangun sesuatu hanya untuk kepengurusan kita. Bangun sesuatu yang bisa dinikmati oleh mahasiswa setelah kita tidak lagi berada di dalam struktur,” kata Ludgerus.
Semangat tersebut menjadi relevan ketika melihat perjalanan Gebyar Nusantara. Festival yang telah melewati berbagai generasi tersebut menunjukkan bahwa sebuah kegiatan mahasiswa dapat berkembang menjadi ruang yang memiliki nilai sosial dan budaya bagi kampus.
Pada akhirnya, kemeriahan Gebyar Nusantara 2026 bukan hanya terletak pada panggung dan berbagai pertunjukan yang disajikan. Di baliknya terdapat cerita tentang mahasiswa yang belajar mengenal Indonesia melalui teman-temannya sendiri, organisasi yang belajar bekerja lintas latar belakang, serta generasi muda yang mencoba menerjemahkan warisan budaya menjadi kreativitas yang sesuai dengan zamannya.
Bagi Jonathan, pengalaman tersebut menjadi alasan mengapa Genus perlu terus dijaga.
“Harapannya, teman-teman tidak berhenti hanya sampai mengenal budaya daerah lain. Setelah Genus, kami ingin ada rasa ingin tahu yang lebih besar dan ada keberanian untuk terus berkolaborasi. Karena Indonesia terlalu besar kalau hanya kita kenal dari daerah kita sendiri,” ujarnya.
Abdan pun menilai pesan tersebut penting untuk terus dibawa setelah rangkaian kegiatan berakhir. “Kita ingin mahasiswa pulang dari Genus bukan hanya membawa foto atau pengalaman menonton pertunjukan, tetapi membawa pemahaman bahwa keberagaman adalah kekuatan yang harus dijaga,” katanya.
Sementara bagi Ludgerus, seluruh proses tersebut pada akhirnya kembali pada tujuan utama pengembangan potensi mahasiswa.
“Mahasiswa harus memiliki ruang untuk menjadi dirinya sendiri sekaligus belajar menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Kita ingin mahasiswa punya identitas, tetapi juga punya kemampuan untuk bekerja bersama orang yang berbeda. Kita ingin mereka punya kreativitas, tetapi juga punya tanggung jawab. Dan kita ingin mereka punya kemampuan untuk berkarya, tetapi juga memahami untuk siapa karya itu diberikan,” ujarnya.
Gebyar Nusantara 2026 mungkin telah berakhir bersama ditutupnya rangkaian kegiatan pada September lalu. Namun, perjumpaan yang terjadi di dalamnya meninggalkan pekerjaan yang jauh lebih panjang. Jejaring yang terbentuk perlu dirawat, kreativitas yang muncul perlu dikembangkan, dan pengalaman organisasi yang diperoleh mahasiswa perlu menjadi bekal untuk menghadapi ruang kehidupan yang lebih luas.
Dari IPB University, kebudayaan kembali menemukan tempatnya di tengah kehidupan generasi muda. Bukan hanya sebagai warisan yang harus dijaga, tetapi sebagai sumber pengetahuan, identitas, kreativitas, jejaring, bahkan peluang masa depan.
Dan bagi Kemenkoan Pengembangan Potensi Mahasiswa BEM KM IPB 2026, pengalaman tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa membangun mahasiswa berarti membangun ruang yang memungkinkan mereka bertumbuh dalam berbagai bentuk.
Sebab mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar. Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba, berkarya, memimpin, berkolaborasi, mengenal perbedaan, dan menemukan potensi dirinya sendiri.
Gebyar Nusantara 2026 menjadi salah satu ruang tersebut—sebuah panggung yang mempertemukan keberagaman Indonesia, sekaligus sebuah proses yang memperlihatkan bahwa di balik setiap kegiatan mahasiswa, selalu ada generasi yang sedang belajar mempersiapkan dirinya untuk Indonesia di masa depan.
Kementerian Koordinator Pengembangan Potensi Mahasiswa BEM KM IPB 2026

