oleh : Rendy Dwi Maulana
Pergantian tongkat kepemimpinan nasional telah memberi dampak terhadap konsep pendidikan di Indonesia. Upaya peningkatan kualitas pendidikan dicoba dengan mengganti kurikulum serta program terobosan. Hasilnya, sejauh ini pendidikan Indonesia tidak bergerak dari posisinya. Kondisi ini terlihat dari hasil PISA Indonesia tahun 2022 yang mengalami penurunan skor walaupun posisinya naik 5-6 peringkat. Akan tetapi masih jauh dari harapan karena hasil Indonesia berada di posisi 3 besar dari bawah di tingkat Asean. Situasi ini menggambarkan dampak berbagai perubahan tidak melahirkan kebaruan dalam pendidikan Indonesia.
Anggaran yang tidak sedikit dihabiskan untuk perubahan. Perubahan yang melahirkan keadaan yang masih jauh dari harapan atau rencana, kita bisa bayangkan ongkos mahal perubahan tidak membawa pendidikan Indonesia pada tujuannya. Permasalahan macam apa yang menjadi penghalang perubahan. Tampaknya banyak guru akan menjawab kesejahteraan. Tidak hanya itu kurikulum yang memberi efek administrasi yang menumpuk pun jadi faktor yang dianggap berpengaruh terhadap hasil pendidikan di Indonesia. Apakah itu benar?
Guru Tidak Memahami Alasan Adanya Perubahan
Guru tidak pernah tuntas memahami alasan perubahan itu itu diperlukan. Kita harus terima bahwa realitas bahwa tujuan perubahan tidak pernah tercapai sesuai dengan rencana. Jangan bicara perihal peningkatan tetapi kita lihat apakah pendidikan Indonesia telah sampai pada tujuan perubahan itu sendiri. Misal perubahan Kurikulum 2013 menjadi Kurikulum Merdeka tidak pernah ada data yang akurat menggambarkan bahwa perubahan tersebut telah membawa satuan pendidikan kearah yang lebih baik.
Guru menjadi faktor utama agar tujuan dari perubahan dapat tercapai sesuai dengan harapan. Kondisi ini telah memberi satu gambaran kondisi jika guru belum memahami tujuan perubahan secara mendalam. Tentu pemahaman yang dalam akan berpengaruh besar terhadap implementasi guru dalam proses pembelajaran. Dan proses belajar yang baik dan dalam akan menjadikan hasil belajar yang maksimal.
Keadaaan ini benarkah salah guru? Sementara tidak semua guru berada di jalan yang nyaman. Masih ada di antara guru yang upahnya di bawah standar kebutuhan pokok. Berbagai macam warna masih menghiasi kehidupan profesinya. Ada pula penggolongan guru dalam beberapa tipe, ada guru ASN, PPPK, honorer, bahkan ada guru terkesan illegal karena belum tercatat di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sementara perannya tidak kalah penting dengan guru yang berstatus ASN. Perbedaan ini membuat Guru Indonesia belum tenang di jalan profesinya.
Ketiadaan Dukungan
Tidak adanya dukungan terhadap proses yang sedang dilakukan guru jadi penyebab kegagalan perubahan, perubahan kurikulum yang tidak menentu searah dengan pergantian menteri yang memimpin pendidikan telah berdampak terhadap hasil kerja guru. Perubahan yang terjadi malah menjadi beban tambahan bagi guru karena mereka belum sempat tuntas memahami kurikulum sebelumnya tetapi harus mulai dengan konsep baru. Seakan guru terus berada pada tahap adaptasi dengan kebaruan yang tidak konsisten. Santoso dan Lestari (2020), penyesuaian yang berulang kali ini dapat mempengaruhi kualitas penyampaian materi oleh guru karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk menguasai metode baru yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pembelajaran yang diberikan.
Penelitian terbaru oleh Amalia et al. (2023) menemukan bahwa guru yang merasa tidak siap dalam menghadapi perubahan kurikulum cenderung menunjukkan kinerja yang lebih rendah dibandingkan dengan guru yang memiliki waktu adaptasi yang cukup. Dalam
kasus ini, guru merasa terbebani oleh ekspektasi untuk segera mengimplementasikan kurikulum
baru tanpa dukungan yang memadai. Temuan ini mengindikasikan bahwa perubahan kurikulum yang dilakukan secara mendadak tanpa pelatihan yang tepat dapat menurunkan kinerja guru secara keseluruhan, khususnya dalam hal kesiapan mengajar dan fleksibilitas dalam merespons kebutuhan siswa.
Kualitas pembelajaran di kelas dipengaruhi oleh sejauh mana kurikulum dapat diimplementasikan. Ini penyebabnya guru perlu dukungan baik secara waktu dan ruang untuk memahami secara mendalam tentang konsep yang ditawarkan dalam kurikulum baru. Sedangkan kenyataanya tidak ada waktu yang cukup untuk mereka mempelajari semua secara utuh dan mendalam. Maka tuntutan implementasi baru hanya menjadi beban serta stress berkepanjangan bagi guru.
Mungkin para pemangku kebijakan punya keyakinan dengan mendorong implementasi kurikulum dengan menyediakan berbagai latihan baik skala nasional, regional, maupun internal sekolah. Akan tetapi pelatihan yang dilaksanakan begitu sempit karena beriringan dengan penerapan yang sedang dilakukan. Mungkin sengaja agar praktik bisa langsung dalam waktu yang beriringan tersebut. Hasilnya, efektifkah? Kita perlu melihat kenyataan.
Kualitas pembelajaran sangat bergantung pada seberapa baik kurikulum diterapkan di
kelas. Ketika kurikulum sering berubah dan tidak ada dukungan yang cukup untuk guru,
kualitas pembelajaran yang diterima siswa dapat menurun. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa siswa mungkin mengalami kebingungan atau kehilangan minat belajar ketika perubahan kurikulum tidak diiringi dengan kejelasan dalam tujuan pembelajaran. Sebagai contoh, studi
oleh Rahmawati (2022) menemukan bahwa dalam kasus kurikulum baru yang diperkenalkan tanpa penjelasan yang jelas, banyak siswa yang merasa kurang memahami materi dan merasa kesulitan dalam mengikuti pembelajaran.
Penjelasan yang mendalam merupakan bentuk dukungan terhadap guru sebagai aktor utama penyelenggara pendidikan. Sehingga guru memiliki pemahaman yang kuat tentang alasan kebutuhan perubahan itu diperlukan untuk siswa. Sementara kita lihat saat ini waktu untuk guru belajar leluasa. Selain itu pelatihan yang tersedia tampak sebatas teknis agar guru mampu menyusun administrasi yang optimal. Paradigm perubahan luput dari rencana perubahan itu sendiri. Hasilnya? Mari berkaca pada jejak yang ada.
Penulis saat ini berprofesi sebagai Guru di SMP Negeri 1 Rancabungur dan Penulis Rubrik Literasi LEAD.co.id

