Oleh: Khotimi Bahri
Arofah secara tekstual berarti mengetahui, mengenali, menyadari. Namun secara substansial bermakna memahami jati diri sendiri. Dengan memahami jati diri akan menjadi perantara untuk memahami kehidupan yang hakiki.
Dalam dunia tasawuf popular sebuah ungkapan “man arofah nafsah faqod arofah Robbah”. Untuk itulah maka secara seremonial, arofah identik dengan wujuf di Padang Arofah tanggal 9 Dzul Hijjah, sedangkan bagi yang tidak berhaji disunnatkan berpuasa juga pada 9 Dzul Hijjah tersebut.
Dalam kajian historis, arofah sangat lekat dengan peristiwa yang dilakoni tiga manusia pilihan, yaitu Abul Basyar Nabi Adam, kholilurrahman Nabi Ibrohim, dan Sayyidul Kholaiqi Rosullah SAW.
I. Nabi Adam AS
Ketika Nabi Adam memakan buah khuldi, maka Allah menurunkan abul basyar ini secara terpisah dengan ummul basyar Sitti Hawa.
Menurut sebagian riwayat, Nabi Adam diturunkan di kawasan India sedangkan Sitti Hawa di Jeddah. Keduanya berada dalam pencarian, kegelisahan, dan kesedihan yang mendalam. Sekian waktu keduanya saling mencari.
Pada titik tertentu keduanya menyadari bahwa semua yang dialami akibat dari kekhilafan, kealpaan, dan ketundukannya pada tipu daya musuh abadi manusia yaitu iblis.
Dalam puncak kesadaran inilah Nabi Adam dan Sitti Hawa bertaubat dan berdoa “Robbana dzalamna anfusan wa inlam taghfirlana wa tarhamna lanakunanna minal khosyirin”.
Kesadaran, pengakuan dan taubat inilah yang pada akhirnya mengantarkan Nabi Adam dan Sitti Hawa pada lingkaran ampunan dan rohmat Allah disimbolkan dipertemukannya keduanya disebuah bukit yang terletak di Padang Arofah yaitu jabal rahmah.
Itu lah tanah lapang (tempat) yang diabadikan dengan nama Padang Arofah, seakan-akan pesan moral yang ingin disampaikan adalah; ingatlah dan teladani lah Abul Basyar dan Ummul Basyar dalam mencapai titik tertinggi kesadaran spiritualnya.
Dalam rangka membangun kesadaran itu, diabadikan lah prasasti terbuka dalam bentuk hamparan luas Padang Kesadaran, Padang Pengakuan, Padang Pengenalan Jatidiri. Itulah Padang Arofah.
II. Nabi Ibrohim AS
Nabi Ibrohim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Saat pertama mendapatkan perintah, beliau mencari kepastian. Malam berikutnya datang perintah lagi, tepatnya malam 8 Dzul Hijjah.
Paginya Sang Kholilurrahman merenung, memikirkan, kontemplasi sambil bertanya dalam hati “benarkah ini perintah Allah, atau sekedar bunga tidur”. Merenung, memikirkan, kontemplasi dalam bahasa Arab disebut Tarwiyah.
Malam berikut 9 Dzul Hijjah perintah itu datang lagi. Nah, baru 9 Dzul Hijjah ini Nabi Ibrohim Sang Kholilurrahman atau yang lebih dikenal Kholilullah, sadar betul, yakin betul, dan tahu secara pasti bahwa ini memang perintah Allah.
Tujuannya untuk menguji apakah kecintaannya kepada Nabi Ismail, putra yang sekian tahun didambakan mengalahkan kecintaannya kepada Allah SWT. Dan beliau sadar, tahu, yakin (Arofah) bahwa hidup di dunia untuk menghamba kepada Allah.
Kecintaan kepada Allah harus di atas kecintaan kepada siapa pun dan kepada apa pun. Puncak kesadaran ini terjadi di hari ke 9 bulan Dzul Hijjah.
Di tanggal ini kita diajak meneladani bapak agama samawi untuk memahami, apa tujuan hidup ini dan apa misi suci kehidupan ini.
III. Rosulullah SAW
Saat Haji Wada’ di Padang Arofah (tempat yang disematkan pada peristiwa Nabi Adam), dimulai tergelincirnya matahari tanggal 9 Dzul Hijjah (waktu yang disematkan pada peristiwa Nabi Ibrohim) saat wukuf, Rosulullah menyampaikan khutbah yang sangat monomental.
Beliau menyampaikan pesan (intinya) “Tahukah kalian dimana, kapan (waktu) dan moment apa saat ini..?”. Sahabat menjawab “Allah dan Rosulnya lebih tahu (Allahu wa Rosuluhu A’lam)..!!”
Rosul melanjutkan “kalian ada di tempat yang suci (padang Arofah), waktu yang suci (hari arofah), dan dalam moment suci (wukuf). Sama sucinya dengan nilai-nilai kemanusiaan kalian.
Dengan mengutip ayat, beliau menegaskan, maka barang siapa yang membunuh satu jiwa (manusia) sama dengan membunuh seluruh jiwa manusia (nilai kemanusiaan). Maka menghargai nilai dasar kemanusiaan adalah misi profetik beragama.
Dalam misi profetik ini ada nilai “Allahu Shomad” ada nilai “La Haula wala Quwwata Illa Billah” ada nilai “Inna Akromakum ‘Indallahi Atqokum” dan tentu muaranya adalah : La Ilaha Illallahi….
Maka dengan merasakan, menikmati dan meresapi suasana bathin “Arofah” marilah kita bangun humanisme-etis sebagai prinsip kemanusiaan masa depan.
Menghargai nilai kemanusiaan, menghargai kenyamanan kehidupan, menciptakan nuansa surgawi dalam peradaban adalah pengabdian paripurna dan esensi kekholifahan manusian. Siapa yang mampu membangun nuansa surgawi di dunia, layak mendapatkan surga ukhrowi di akhirat.
Penulis adalah Ketua Komisi Ukhuwah MUI Kota Bogor dan Wk Katib Syuriah PCNU

