Site icon LEAD.co.id

HMI, Gus Dur dan Kekuasaan

Abdul Hamid Al-Masury, HMI, Gusdur dan Kekuasaan

Pengurus BPL PB HMI 2018-2020, Abdul Hamid Al-Masury

Oleh: Abdul Hamid Al-masury

Sudah sepuluh tahun Alm. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya yang diperingati dengan acara haul di berbagai daerah. Tepat sepuluh tahun ini pula mendadak viral di media sosial seorang jurnalis bernama Virdika Rizky Utama menulis buku dengan judul “Mereka yang Menjerat Gus Dur”.

Dalam penjelasannya di sebuah akun youtube menyebutkan bahwa isi dari buku itu secara garis besar berisi tentang penggulingan Gus Dur dari jabatannya sebagai Presiden yang dilakukan oleh Golkar dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Connection dengan bukti dokumen yang dia dapatkan di kantor Golkar. Buku tersebut menuai kontroversi dan tanggapan pembelaan, kritik dan dukungan baik melalui media sosial maupun media massa online, baik dari kalangan HMI sendiri, Gusdurian, hingga masyarakat luas.

Penulis terhenyak ketika membaca dokumen yang didapatkan oleh saudara Virdi (sapaan akrabnya) tetapi sebagai seorang kader HMI yang sudah lama di Himpunan ini saya tidak kaget dengan apa yang temukannya. Mengapa? Sudah biasa, namanya juga “politik kekuasaan” apalagi keterlibatan alumni-alumni HMI yang memainkannya.

Sebuah tesis yang dibukukan dengan judul “HMI dan Kekuasaan” ditulis oleh Ketua umum HMI Cabang Malang 2000-2001 Sidratahta Mukhtar ketika menempuh studi pascasarjana Ilmu Politik, Konsentrasi Politik Indonesia di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, beliau menyimpulkan; “HMI dikenal sebagai organisasi kekuasaan. Orientasi ini telah meningkatkan partisipasi politik HMI dalam dunia birokrasi dan DPR di Indonesia”. Saya rasa setiap kader HMI yang sudah lama di Himpunan, dalam artian minimal kader tersebut secara kepengurusan sampai pengurus cabang, pasti merasakan hal yang sama.

Sebagai organisasi mahasiswa yang didirikan 18 bulan pasca-kemerdekaan, HMI sudah kenyang manis-pahitnya pengalaman dan tantangan. HMI ikut angkat senjata melawan agresi militer Belanda, vis a vis dengan PKI, melahirkan orde baru, menumbangakan orde baru hingga membidani lahirnya era reformasi. Ini tidak terlepas dari salah satu dari dua tujaun didirikannya HMI; “mempertahankan kemerdekaan NKRI dan meninggikan derajat rakyat Indoensia”.

HMI sebagai organisasi kader yang mengutamakan kualitas tanpa memandang sebelah mata terhadap kuantitas, sudah terbiasa dengan dinamika internalnya. Apalagi cuma penggulingan Gus Dur sebagai presiden yang tentu merupakan jabatan politik yang bisa didapatkan secara politik juga.

Teringat pesan pemrakarsa berdirinya HMI, Ayahanda Lafran Pane, dimana pun kamu berkiprah keislaman dan keindonesiaan kau tetap pegang teguh. Kader HMI dari mana-mana dan kemana-mana. HMI dalam perkaderannya menerima semua mahasiswa yang beragama Islam tanpa memandang dari mana mereka berasal dan setalah di kader sesuai dengan pedoman perkaderan mereka akan menyebar kemana-mana, mulai dari akademisi, peneliti, profesional, pengusaha, polisi, politisi diberbagai partai, menteri, wakil presiden, militer, birokrasi, ormas, LSM hingga buruh dan petani. Kenapa bisa demikian? Karena HMI bersifat independen, tidak menjadi underbouw suatu orgnisasi mana pun termasuk partai politik apa pun, sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar HMI pasal 6. Pertanyaan berikutnya; lalu bagaimana dengan Golkar dan HMI Connection? Apakah HMI sudah tidak independen lagi?

Diksi yang pakai oleh saudara Virdi dalam talk show tersebut adalah “Connection”. Sebagaimana kita ketahui artinya Connection adalah koneksi, hubungan atau relasi. Ketika kata koneksi disambungkan dengan HMI, maka maknanya adalah hubungan yang dibangun di HMI yang kebetulan satu “gerbong” dan mempunyai tujuan yang sama, yang dalam hal ini digunakan oleh Akbar Tanjung dkk untuk meruntuhkan kekuasaan Gus Dur, yang kita tahu Akbar Tanjung merupakan ketua umum PB HMI 1969-1971 dan mantan ketua umum DPP Golkar 1998-2004, tentu beliau “anak” Orde baru yang menua di era reformasi.

Namanya juga koneksi, artinya tidak semua elemen (kader dan alumni) HMI terkoneksikan dengan Akbar Tanjung dkk. Sesama elemen HMI terkadang saling “baku-sikut”, sebut saja diantaranya adalah mantan Presidium Majelis Nasional Korps Alumni HMI (MN KAHMI) 2012-2017 Mahfud MD yang kala itu memasang badan untuk Gus Dur dan didapuk sebagai Menteri Pertahanan, dan banyak lagi alumni HMI yang melawan Orde baru yaitu Judil Hery Justam hingga ke akar-akarnya yang diabadikan dalam sebuah buku “Anak Tentara Melawan Orba”. Jadi, jangan menggeneralisir semua elemen HMI ikut terlibat melengserkan Gus Dur.

Dalam teori modal sosial yang diungkapkan oleh John Field dalam bukunya “Organisasi modern dikendalikan oleh aturan. Ada prosedur-prosedur tertentu yang disepakati untuk mengajukan atau mengambil keputusan, dan tanggung jawab biasanya didefinisikan secara jelas berdasarkan posisi ketimbang berdasarkan pertimbangan pribadi. Namun ketika ingin mewujudkan sesuatu, banyak orang mengabaikan prosedur dan tanggung jawab formal ini, dan mulai berbicara dengan seseorang yang dikenalnya”. Lebih lanjut John Field menyebutkan “semakin banyak Anda mengenal orang dan semakin banyak Anda memiliki kesamaan cara pandang dengan mereka, maka semakin kaya modal sosial Anda”.

HMI adalah organisasi modern terbesar di Indonesia dan Golkar sebagai partai terkuat di era Orde baru tentu akan menjadi modal sosial yang kuat bagi yang bisa memanfaatkannya, termasuk bagi Akbar Tanjung dkk. Kembali ke dokumen, memang yang menjadi tokoh sentral disitu adalah Akbar Tanjung (tanpa menafikan mungkin ada tangan-tangan atau tokoh-tokoh tersembunyi di balik dokumen), sebagai politisi besar beliau sangat dikenal dan mungkin berpengaruh diberbagai lintas partai dan organisasi terutama kelompok Cipayung dan KNPI. Tentu cukup – mungkin mudah – untuk melengserkan Gus Dur.

Penulis adalah pengurus Badan Pengelola Latihan (BPL) PB HMI Periode 2018-2020

Exit mobile version