BOGOR (Lead.co.id) — Upaya memperkuat persatuan di tengah keberagaman kembali ditegaskan melalui Dialog Toleransi Lintas Agama yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kota Bogor dalam rangka memperingati Hari Toleransi Sedunia.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Mari Merawat Kebhinnekaan, Membangun Harmoni Bogor sebagai Kota Toleransi,” sebagai ruang perjumpaan lintas iman untuk meneguhkan komitmen bersama menjaga kerukunan sosial.
Dialog dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Wali Kota Bogor yang diwakili oleh H. Eko Prabowo sebagai Asisten Sekda Kota Bogor, Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Kepala Kementerian Agama (Kemenag), Kepala Bakesbangpol Kota Bogor, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Bogor, serta para tokoh pemuka agama Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Katolik, dan Protestan.
Apresiasi dan permohonan maaf disampaikan oleh Ketua Pelaksana Kegiatan, Zulfikar. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran seluruh elemen serta memberikan catatan reflektif atas penyelenggaraan acara.
“Kami menyadari bahwa dalam pelaksanaan agenda besar ini tentu masih terdapat kekurangan, baik dari segi teknis maupun kenyamanan fasilitas bagi para tamu undangan. Atas nama panitia, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada hal-hal yang kurang berkenan selama acara berlangsung. Namun, kami berharap esensi dari dialog ini tetap tersampaikan dengan baik sebagai langkah nyata merawat kerukunan di Kota Bogor,” ungkap Zulfikar.
Ketua Umum HMI Cabang Kota Bogor, Moletazam, dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini merupakan manifestasi dari peran mahasiswa dalam menjaga keutuhan bangsa. Ia menegaskan bahwa menghargai perbedaan adalah kunci utama kemajuan sebuah daerah.
“HMI menyadari bahwa keberagaman adalah takdir bangsa Indonesia, dan Kota Bogor adalah miniatur dari kemajemukan tersebut. Kami menyelenggarakan dialog ini sebagai ikhtiar agar kita semua, tanpa memandang latar belakang suku, ras, maupun agama, dapat saling menghargai satu sama lain. Kita ingin memastikan bahwa harmoni di Bogor bukan sekadar slogan, melainkan napas kehidupan sehari-hari,” tegas Moletazam.
Senada dengan hal tersebut, Aurora Jilena Meliala, akademisi dari UPN Jakarta yang hadir sebagai narasumber, menyoroti pentingnya nilai toleransi yang mengakar kuat di level akar rumput.
“Toleransi itu ibarat akar pohon di Kebun Raya Bogor; meski tidak selalu terlihat di permukaan, ia menjadi fondasi utama yang menopang kehidupan. Toleransi harus hidup di tengah masyarakat bawah. Tugas kita adalah memastikan kebijakan publik dan kesadaran sosial berjalan beriringan untuk merawat akar tersebut agar pohon kebhinekaan kita tetap kokoh,” ujar Aurora.
Kegiatan dialog toleransi lintas agama ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh para tokoh pemuka agama Protestan, Katolik, Buddha, dan Konghucu secara bergantian. Doa lintas iman tersebut menjadi simbol kuat persatuan serta komitmen bersama untuk memperkuat posisi Bogor sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan.





