JAKARTA (Lead.co.id)– Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Jabodetabeka Banten menggelar aksi demonstrasi damai di depan Gedung Trans7, Jakarta Selatan, Selasa siang tadi. Aksi ini merupakan respons tegas atas tayangan Xpose Uncensored yang menghina Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dengan narasi provokatif yang merendahkan martabat kiai dan santri. Sebagai Sekretaris Umum Badko HMI Jabodetabek Banten, Safa, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar protes, melainkan panggilan moral untuk menegakkan etika jurnalisme dan melindungi marwah umat Islam, Selasa (21/10) di kantor Trans7 Jakarta.
Ratusan kader HMI dari berbagai cabang berkumpul sejak pukul 14:00 WIB, membawa spanduk bertuliskan “Bela Marwah Pesantren, Boikot Trans7!” dan “Stop Jurnalisme Sensasi!”. Aksi berlangsung tertib, diawali doa bersama dan orasi yang menggugah, dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Kami menyerukan lima tuntutan utama: permohonan maaf terbuka selama tujuh hari di prime time, penghapusan permanen konten bermasalah, pengungkapan tim produksi, boikot produk CT Corp, dan sanksi hukum melalui koordinasi dengan KPI serta Kementerian Agama.
Tayangan Trans7 telah mencoreng nilai-nilai luhur pesantren, yang selama ini menjadi benteng pendidikan dan moral bangsa. Narasi yang mempersamakan tradisi santri dengan perbudakan adalah pukulan telak terhadap kearifan budaya Islam. “Media yang mengklaim profesional justru menjadi agen distorsi, mengorbankan kebenaran demi rating,” demikian kritik yang menggema dalam orasi tadi. Ini bukan sekadar soal satu episode, tetapi cerminan krisis etika di industri media modern.
Kami menuntut Trans7 untuk tidak hanya meminta maaf, tetapi juga menunjukkan itikad baik dengan menayangkan program edukatif tentang peran pesantren dalam sejarah Indonesia. “Jurnalisme sejati harus mencerahkan, bukan memecah belah,” tegas Safa. Maaf yang tulus harus dibuktikan dengan tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan di media sosial atau surat formal yang terkesan ala kadarnya.
HMI menegaskan bahwa umat Islam, khususnya komunitas pesantren, bersedia menerima permohonan maaf asalkan disampaikan dengan sungguh-sungguh dan disiarkan secara masif. Namun, kami juga mengingatkan: jangan mengulangi kesalahan serupa. “Umat tidak akan tinggal diam jika media terus mempermainkan sentimen keagamaan,” begitu pesan yang disuarakan Sekretaris HMI Badko Jabodetabeka Banten. Boikot terhadap produk CT Corp akan berlanjut hingga tuntutan terpenuhi, sebagai bentuk tekanan ekonomi yang sah dan damai.
Aksi ini juga menjadi peringatan bagi seluruh media massa agar menghormati nilai-nilai agama dan budaya. Pesantren bukanlah institusi kuno yang bisa dieksploitasi demi konten sensasional. “Kami menuntut reformasi jurnalisme, di mana kebenaran dan etika menjadi pijakan utama,” seru massa dalam aksi tadi. HMI berkomitmen untuk terus mengawal isu ini hingga ada perubahan sistemik.
Kami juga mendesak KPI dan Dewan Pers untuk segera bertindak, mengevaluasi izin siar Trans7, dan memastikan sanksi tegas. “Jika media bebas menghina, lalu di mana keadilan bagi umat?” tanya seorang kader dengan nada penuh makna. Aksi ini bukan akhir, tetapi awal dari perjuangan panjang melawan narasi media yang merusak.
HMI Badko Jabodetabeka Banten akan terus memantau respons Trans7 dalam tujuh hari ke depan. Jika tuntutan tidak dipenuhi, aksi lebih masif akan digelar. “Kami tidak lelah memperjuangkan keadilan, karena ini adalah amanah umat,” tegas suara kolektif kami. Solidaritas dengan NU, alumni pesantren, dan masyarakat luas menjadi kekuatan kami.
Kepada umat Islam, kami serukan untuk tetap tenang namun teguh. Maaf dari Trans7 akan diterima, tetapi hanya jika dibarengi komitmen nyata untuk tidak mengulangi penghinaan. “Marwah pesantren adalah marwah bangsa, dan HMI akan selalu berada di garda terdepan untuk membelanya,” demikian penutup orasi Safa.





