BALI (LEAD.co.id) – Presiden Jokowi meninjau Mangrove Conservation Forest di Pemogan, Denpasar Selatan, pada Kamis (2/11/2021). Hutan mangrove ini disiapkan untuk dikunjungi para pemimpin delegasi Group of Twenty (G20) pada 2022 mendatang.
Jokowi menyampaikan bahwa, keseriusan dalam merestorasi dan merehabilitasi hutan mangrove serta hutan gambut dan lahan-lahan kritis tersebut menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki komitmen yang kuat dalam penanganan perubahan iklim.
“Saya kira komitmen itu yang ingin kita tunjukkan secara konkret, secara riil di lapangan. Nanti 20 kepala negara akan kita ajak semuanya ke sini,” tutur Jokowi.
Indonesia meneruskan estafet presidensi G20 dari Italia dan untuk pertama kalinya pada tahun 2022. Penyerahan presidensi tersebut dilakukan pada sesi penutupan KTT G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola, Roma, Italia, pada Minggu (31/10).
Dalam acara tersebut, Perdana Menteri Italia, Mario Draghi secara simbolis menyerahkan palu kepada Presiden Jokowi.
“Saya sampaikan selamat kepada Italia yang telah sukses menjalankan presidensi G20 di tahun 2021. Indonesia merasa terhormat untuk meneruskan presidensi G20 di tahun 2022,” ujar Jokowi.
Presidensi G20 Indonesia akan mendorong upaya bersama untuk pemulihan ekonomi dunia dengan tema besar “Recover Together, Recover Stronger”. Pertumbuhan yang inklusif, people-centered, serta ramah lingkungan dan berkelanjutan, menjadi komitmen utama kepemimpinan Indonesia di G20.
Dyah Murtiningsih dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) menyebutkan, rehabilitasi mangrove ini bekerja-sama dengan berbagai pihak. Dyah optimistis hutan mangrove tersebut akan siap dikunjungi para pemimpin delegasi G20.
“Kita optimistis, yakin karena dengan bersama-sama dengan kementerian yang lain juga kita akan bersama-sama membangun, sehingga pada saatnya pada bulan Oktober kita sudah akan siap untuk menerima kunjungan dari anggota G20,” ucapnya.
Dyah menyampaikan, upaya ini bertujuan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia bersungguh-sungguh dalam upaya rehabilitasi mangrove.
“Kalau kita melihat Tahura (Taman Hutan Raya) Ngurah Rai ini dulunya adalah tambak terbuka tahun 1992 dengan upaya yang sangat maksimal sehingga lokasi ini ataupun Tahura ini mangrovenya bisa terbangun dengan baik,” lanjutnya.
Turut mendampingi Presiden dan Ibu Negara antara lain Mensetneg Pratikno, Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Hartono dan Gubernur Bali Wayan Koster.
Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: BPMI Setpres

