India Kembali Buka Sekolah Setelah Protes Larangan Jilbab

oleh -516 views
India, Sekolah India, Protes India, Larangan Hijab, Hijab
Ayesha Imthiaz (21), mahasiswi Muslim berhijab saat berjalan melewati kampusnya di Udupi, negara bagian Karnataka, India, 11 Februari 2022 [File: Reuters/ Sunil Kataria]

INDIA (Lead.co.id) – Setelah aksi protes atas siswa perempuan yang tidak diizinkan mengenakan jilbab, kini negara bagian di India Selatan itu kembali membuka beberapa sekolah pada Senin (14/2/2022).

Komunitas Muslim India menilai masalah itu sebagai upaya untuk mengesampingkan dari pihak berwenang di negara yang didominasi agama Hindu, muncul ketika Partai Bharatiya Janata Party (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi bersiap untuk pemilihan di negara-negara bagian utama.

Langkah itu dilakukan setelah pengadilan negara bagian, yang menggelar sidang pada Senin, mengatakan kepada siswa untuk tidak mengenakan pakaian keagamaan apa pun, mulai dari selendang safron hingga syal atau jilbab, di ruang kelas hingga perintah lebih lanjut.

Baca :  Gelombang Kedua Covid-19 Melonjak, Rumah Sakit di India Kewalahan

“Apakah pemakaian jilbab di ruang kelas merupakan bagian dari praktik keagamaan yang penting dalam Islam berdasarkan jaminan konstitusional perlu pemeriksaan lebih dalam,” kata pengadilan pada pekan lalu.

Masalah ini menjadi sorotan menyusul protes pekan lalu setelah beberapa sekolah menolak masuknya siswa yang mengenakan pakaian tersebut, yang dianggap melanggar perintah 5 Februari tentang seragam oleh negara.

Ayesha Imthiaz, seorang siswa di Udupi mengatakan, sangat memalukan diminta melepas jilbab sebelum masuk kelas.

Dia merasa “agamanya telah dipertanyakan dan dihina oleh tempat yang saya anggap sebagai kuil pendidikan,” katanya kepada Reuters.

Baca :  Protes anti-India usai Terbunuhnya Lima Pejuang Kashmir

Seorang pejabat di distrik pesisir Udupi, Pradeep Kurudekar S mengatakan bahwa, pihak berwenang akan menunggu perintah lebih lanjut dari pengadilan atau pemerintah untuk melanjutkan semua kelas.

 

Reporter: Sally Sumeke
Editor: Aru Prayogi
Sumber: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *