Site icon LEAD.co.id

Inspirasi Ngopi Pagi

Memaafkan, Kesalahan, Kunci Hidup Sehat, Bahagia

Oleh: Musawir Al Fayd 

Foto di atas menginspirasi saya untuk menulis bahwa kebersamaan itu memang sangat indah. Lihat dan perhatikan betapa senyum kebahagian terpancar dari wajah para penikmat kopi…. senyum merekah sebagai wujud kuatnya silaturahmi dan persaudaraan.

Kopi memang menyatukan. Orang bijak berkata hidup itu ibarat minum kopi, pahit dan manisnya kehidupan ini harus dinikmati.

Kita ketahui bahwa kehidupan ini merupakan rotasi waktu yang berbeda lakon dan masanya. Perbedaan dan persamaan dalam berfikir, sifat yang bertolak belakang namun tidak harus diartikan versus dalam realisasinya.

Kebersamaan memang indah. Banyak persoalan yang akan lebih mudah di selesaikan. Sebaliknya bila kebersamaan terkoyak akan pahit rasanya dan akan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk merajutnya kembali.

ungkapan merajut  mengandung pengertian menyatukan perca dengan cara menjahitnya hingga menjadi satu kesatuan yang utuh.

Pengertiannya yang lebih luas adalah menyatukan berbagai unsur atau pendapat dalam satu bentuk yang sekata.

Kita memang tercipta dengan membawa karakter dan sifat masing-masing individunya yang tentu saja berbeda satu sama lain.

Tetapi hendaknya perbedaan yang ada jangan dijadikan sebagai sesuatu yang dapat mengkandasnya sebuah hubungan.

Hendaknya kita untuk melihat sebuah perbedaan dari sudut pandang lain yang mana dengan adanya perbedaan kita bisa saling mendukung dan saling melengkapi kekurangan dengan kelebihan. Yang kaya membantu yang lemah, Yang punya jabatan  membantu dengan jabatannya , yang baik akhlaknya memberikan contoh dan seterusnya

Mempersatukan perbedaan dalam sebuah kebersamaan tidaklah mudah semudah membalik telapak tangan.

Namun ketika ada niat dan ditindaklanjuti melalui perbuatan, maka tidak ada sulit terlebih ketika masing-masing menyadari bahwa kita ada karna sama-sama diciptakan oleh Allah SWT.

Semoga kebersamaan seperti poto di atas bisa tetap dipertahankan… dan sebagai contoh bagi generasi milenial yang sekarang sudah mengalami degradasi moral dan akhlak.

Penulis adalah aktivis sosial

Exit mobile version