Inspirasi dari Kasus Allah Lemah Vs Allah Kuatnya Ferdinand Hutahaean
Oleh: Khotimi Bahri Al-Manduri
5 SM (5 abad sebelum masehi) hiduplah seorang bijak bestari dari Yunani yang berhasil meletakan dasar-dasar kearifan sikap. Dialah Socrates guru dari Plato. Plato sendiri merupakan guru Arestoteles rujukan rasionalisme, realisme, dan rumus silogismenya dipelajari dikampus-kampus perguruan tinggi sampai detik ini.
Ditengah-tengah dominannya mitologi (mitos) ‘pemberontakan’ Socrates bukanlah sesuatu yang mudah dan terbukti Socrates harus dihukum mati dengan minum racun.
Konon, ada peluang bagi Socrates untuk melarikan diri dari penjara. Tidak sedikit murid-murid sang bijak-bestari ini yang siap membantu dan menjadi tameng pelarian Socrates jika mau.
Tapi Socrates tidak mau melakukan itu. Ia berkeyakinan bahwa pengorbanannya justru akan menjadi persemaian yang subur bagi lahirnya kearifan, kebijaksanaan, dan bibit pemberontakan terhadap dominasi mitos dalam keseharian masyarakat Yunani.
Salah satu murid utamanya Plato merekam sikap kritis dan logis Socrates dalam bentuk dialog berjudul Euthyphro. Plato membayangkan percakapan antara gurunya dengan Euthyphro (konon bukan tokoh nyata) sebagai berikut :
Socrates: Bukankah pengorbanan terdiri dari memberikan hadiah kepada para dewa, dan juga doa yang isinya mengajukan permintaan kepada mereka (para dewa)?
Euthyphro: Ya, memang begitu.
Socrates: Jadi menurut pandangan ini kesalehan tak ubahnya menjadi ilmu meminta dan memberi?
Euthyphro: Anda memahami maksud saya dengan sempurna, Socrates.
Socrates: Kalau begitu, bukankah prosedur yang benar dalam meminta adalah mengajukan sejumlah apa yang kita butuhkan dari mereka?
Euthyphro: Apa lagi yang bisa kalau bukan begitu?
Socrates: Dan demikian pula, bukankah prosedur yang benar dalam memberi adalah memberi mereka (para dewa) imbalan dengan apa yang mereka butuhkan dari kita?
Euthyphro: Benar sekali, Socrates.
Socrates: Jadi kesalehan tampaknya, menjadi semacam seni perdagangan antara dewa dan manusia.
Euthyphro: Ya, jika Anda suka lebih baik menggambarkannya begitu.
Socrates: Saya tidak menyukainya. Tapi beri tahu saya, manfaat apa yang sebenarnya didapat para dewa dari hadiah yang diterima dari kita? Apa yang dewa berikan jelas bagi kita, karena kita tidak memiliki apa-apa kecuali sesuatu yang baik, yang mereka (mereka) berikan kepada kita; tapi apa manfaat yang mereka (dewa) dapatkan dari apa yang mereka terima dari kita?
Dalam kehidupan kita saat ini, potret mitologi yang menguasai masyarakat Yunani 5 SM (5 abad sebelum masehi) hadir dalam bentuk yang berbeda. Mitos melenial saat ini bukan lagi dewa zeus, dewa matahari, dewa hujan, dewa api dan lain-lain. Mitos melenial menjelma menjadi narasi penista agama, buzzer, liberal, syiah, kriminalisasi ulama dan lain sebagainya. Kenapa semua itu menjadi mitos? Karena sudah menjadi dogma sosial yang tidak pernah bisa dijelaskan secara logis.
Pemantik doktrin mitos melenial ini adalah kaum oprtunis berjubah agama. Mereka mampu membuat apik gerakan mereka dengan bungkus doktrin agama. Mereka sebenarnya pialang politik tapi menjualnya dalam bentuk kemasan agama. Korbannya adalah masyarakat luas yang tidak memahami peta geopolitik tapi fanatik dalam beragama. Maka benarlah sebuah ungkapan, jika ingin menguasai orang bodoh, bungkuslah gerakannya dengan baju agama.
Panggung dakwah hanyalah media caci-maki, hoax, dan penebar kebencian. Tapi jangan sekali-kali anda menuntutnya karena anda akan disebut melakukan kriminalisasi ulama.
Jangan coba-coba anda melakukan counter narasi, karena anda akan dituduh liberal, syiah, mungkin juga komunis.
Dan tidak mudah anda memaparkan fakta-fakta, karena anda akan dituduh sebagai buzzer bayaran. Lucu memang.
Dan selalu dicari celah dari siapapun yang tidak sejalan dengan gerakan dan pemikiran mereka untuk diberi lebel penista agama. Tidak peduli wacana dan diskursus apa yang sebenarnya sedang terjadi, yang penting tuduh, pojokkan, dan giringan masyarakat luas dalam pusaran opini mereka. Bukankah agama menjadi obyek paling seksi, paling sensitif yang mudah menggerakkan masyarakat. Toh tidak penting bagi sebagian masyarakat untuk melakukan verifikasi (tabayun).
Mungkin perlu lahir Socrates melenial yang berani melawan kepongahan mitos melenial dengan segala resikonya. Apakah mungkin ungkapan satir Ferdinan bahwa Allah mereka lemah sehingga perlu dibela. Sedangkan Allah dia Maha Kuat dan tidak perlu dibela. Artinya ketika mereka “seakan-akan” membela Allah (agama) sebenarnya mereka sedang memainkan sesuatu dan berharap sebuah keuntungan besar sebagaimana prinsip kesalehan Euthyphro kawan dialog Socrates. Bukankah ini sebenarnya sedang melemahkan Allah (agama) karena menjadikan Yang Maha Kuat alat kepentingan dan dan batu loncatan. Wallahu a’lam bi showab. Tulisan ini tidak untuk menuduh dan menghakimi siapapun. Tapi sebatas opini yang bisa disanggah, dikritik, dan tidak mesti sepakat.
Penulis adalah Wakil Ketua Umum Barisan Ksatria Nusantara (BKN)





