Oleh: Ace Sumanta
Membicarakan Islam di Nusantara memiliki sejarah panjang. Pro dan kontra dan silang pendapat para ahli agama, dan sejarawan terus mencari referensi.
Para ahli dari arkeolog pun turut mengungkap soal artefak dan bukti-bukti peradaban. Hal tersebut karena didasarkan pada eksistensi Para Wali Songo berdakwah di Pulau Jawa sejak abad ke-14. Penulis telah memaparkan di artikel terdahulu.
Para ahli tidak bisa membantah atas kehadiran penyebar Agama Islam dari China yaitu Cheng Ho atau Zheng He yang lahir 23 September 1371. Pernah Profesor BJ Habibie menyampaikan dalam kuliah umum di ICMI bahwa penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari sosok Cheng Ho. Para ahli arkeologi, antropologi dan sosiologi maupun sejarahwan terus mencari bukti secara konkret.
Berdasarkan berbagai referensi penulis juga menelaah bahwa berdasarkan catatan sejarah bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-11 yakni di masa Fatimah binti Maimun abad ke 11 yang mana secara arkeologis makamnya ditemukan di Gresik Jawa Timur.
Banyak pendapat adalah suatu yang logis karena perkembangan ilmu dan teknologi. Semakin terkuak dan dapat terpatahkan dengan berbagai dalil.
Nah, ada yang amat menarik setelah penulis Ketua Lembaga Pusaka Pakuan dengan Prof Dr Didik N sebagai Rektor Universitas Pakuan Bogor di sela banyak acara selalu sempat diskusi soal peradaban manusia dan ke-Islaman dalam acara Bogor Dayeuh Ulama di Lt. 10 Aulia Gedung Universitas Pakuan.
Begitu juga dalam kesempatan lain Profesor yang giat meneliti dan mengkaji Ayat Al-Qur’an juga mengatakan bahwa jauh sebelum Fatimah binti Maimun datang ke Nusantara abad ke- 11 sudah ada sejak zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW. Buat penulis sungguh termotivasi untuk mengkaji Ayat Al-Qur’an lebih mendalam.
Insyaallah Allah saya juga akan menulis dalam kajian dan penelitian khusus tentang “Peradaban Islam di Nusantara”. Maka dari itu, melalui artikel kecil ini bisa bermanfaat dan ada orang yang akan meneliti lebih mendalam.
Kapan Tepatnya Islam Masuk ke Nusantara?
Melalui diskusi terbatas dan pernah penulis mengikuti Seminar Nasional di Jakarta dan menghadirkan Pakar Intelektual Prof. Nurcholish Majid dan intelektual dari Universitas Harvard yaitu Profesor Syaid Husen Nasr. Sangat menarik diskusi saya sebagai penulis dengan tokoh keduanya, tentu di tempat terpisah. Banyak rujukan yang mereka sampaikan untuk memotivasi penulis saat masih muda.
Kembali pada penggalian peradaban Islam di Nusantara mari kita ungkap secara seksama. Ketika saya sebagai penulis di undang dalam studium general sebagai pembicara di Universitas Unsyiah Aceh di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan dan berapa Universitas sebagai pembicara walau tidak secara khusus membahas tema yang dimaksud.
Kontroversi bakal terjadi, tapi fakta harus mulai diungkap. Nusantara adalah suatu kawasan yang sangat menarik para wisatawan dan pelancong tidak hanya orang Barat (Eropa), ASIA dan negara yang berkepentingan terhadap syiar maupun penelitian suatu kawasan.
Dikabarkan pada abad ke-7 hadir seorang Syekh bermaksud untuk berdakwah ke Nusantara. Hanya kebetulan Kapal/perahunya terdampar di daerah Barus. Hal tersebut menjadi kejutan yang luar biasa. Bahkan buat masyarakat sekitar sangat berbahagia.
Diketahui lebih lanjut Syekh Mahmud dari Yaman yang diutus Khalifah Umar bin Khattab. Jadi lebih detail lokasi Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah.
Tentu saja bisa kita diskusikan dan sebagai rujukan awal bahwa diduga Islam sudah masuk ke Nusantara sejak abad ke-7. Jika dikaitkan dengan Raja Sunda saat itu pada zaman Sri Maharaja Tarusbawa (670-723 M).
Penulis adalah Ketua Umum Yayasan Budaya Hanjuang Bodas, koordinator Pusaka Pakuan, Sastrawan dan Budayawan Pituin Bogor





