Oleh: Nofria Atma Rizki
Jakarta memang selalu menarik perhatian. Sepertinya energi republik ini dihabiskan untuk meributkan Jakarta. Walaupun itu hanyalah sia-sia. Sebut saja soal Pilgub DKI hingga persoalan macet dan banjir Jakarta.
Malam tahun baru 2020 kemarin wilayah barat pulau Jawa diguyur hujan deras. Jakarta – Bogor – Bekasi – Depok – Tangerang mengalami kebanjiran. Sebenarnya keempat wilayah tersebut punya wilayah administrasi yang berbeda-beda. Provinsi DKI Jakarta, Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Namun yang paling diributkan adalah banjir Jakarta. Seolah-olah yang kebanjiran hanya Jakarta. Padahal tidak.
Tapi itu lah kita saat ini. Jakarta adalah kita. Kita adalah Indonesia. Dan Indonesia adalah Jakarta. Semua adalah Jakarta.
Setiap kali ada masalah di Jakarta gema Pilgub dan Pilpres mendengung lagi. Itu seperti luka yang belum sembuh tergores kembali. Padahal itu semua telah berlalu.
Anis yang ditingal pergi oleh Sandi hingga saat ini belum punya pengganti. Pilpres 2019 juga telah selesai. Prabowo yang dulu rival nya Jokowi kini telah bergabung menjadi pembantunya Jokowi.
Musim telah berubah. Kemarin musim kemarau sekarang musim penghujan. Tahun pun telah berganti. Sekarang sudah tahun 2020. Tapi Anis masih saja Jomblo. Netizen masih saja nyinyir dan belum bisa move on.
Bahasa ejekannya saja yang berubah. Kemarin cebong dan kampret sekarang kutu babi dan kadal gurun. Itulah kita saat ini.
Pertanyaan nya. Apakah kita hanya ingin sampai disini ? Tentu tidak.
Kita bukan hanya Jakarta. Indonesia bukan hanya Jakarta. Indonesia adalah semuanya. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Miangas sampai pulau Rote. Kota dan Desa.
Banjir sebenarnya bukan hanya di kota-kota besar tapi juga di desa-desa terpencil. Masalahnya sama. Sama-sama banjir. Penyebabnya saja yang berbeda-beda.
Kalau di Jakarta banjir disebabkan oleh daya resapan tanah yang kurang karena semua sudah di aspal dan di beton. Di desa-desa banjir disebabkan karena hutan-hutan ditambang dan digunduli secara tidak bijak sana.
Kedepan tentu kita menginginkan masalah ini dapat terselesaikan. Baik di kota-kota (Jakarta) mau pun di desa-desa.
Resolusi untuk Jakarta dan Desa-Desa
Saat ini ilmuan kita sudah mampu memperkiraankan cuaca. Untuk tahap pertama ilmuwan kita sudah berhasil membuat peta banjir. Peta banjir yang bisa di akses di HP masing-masing. Setidaknya warga bisa tahu: kawasan perumahan mereka termasuk yang mana. Sehingga mereka bisa siap-siaga dan tahu apa yang akan dilakukan jikalau hujan deras.
Kedepan dalam hal cuaca tentu targetnya bukan hanya mampu memperkirakan cuaca — tapi juga bisa merekayasa cuaca. Sehingga dampak negatif dari cuaca yang buruk dapat diminimalisir dan diatasi.
Untuk desa-desa
Desa-desa memang membutuhkan pembangunan, tapi ialah pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Jangan sampai karena alasan pemerataan pembangunan merusak tatanan masyarakat di desa. Pembangunan yang menjadi harapan malah membawa kesengsaraan.
Perumahan di gusur karena pembangunan jalan. Lahan pertanian di alih fungsikan karena pembangunan tambang. Hutan-hutan di gunduli. Maka tidak heran, hujan sedikit saja mengalami kebanjiran bahkan disertai longsor yang mengakibatkan bukan hanya korban materi — tapi juga korban jiwa.
Disinilah kebijaksanaan dan kearifan pemerintah ditanya. Desa-desa memang membutuhkan percepatan pembangunan. Tapi ialah pembangunan yang tepat sasaran, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Banjir Jakarta yang kita ributkan hari ini juga terjadi di desa-desa. Mulai saat ini mari kita berhenti meributkan Jakarta.
Indonesia bukan hanya Jakarta. Semakin kita meributkan Jakarta, semakin kita menjadikan Indonesia ini Jakarta sentris. Percuma saja ada slogan Indonesia sentris kalau belum bisa move on.
Indonesia ini bukan hanya soal Anis ataupun siapapun itu namanya yang populer saat ini. Indonesia adalah soal 74 tahun merdeka yang tak kunjung maju. 2020 mari kita camkan itu !.
Penulis adalah Wasekjend PBHMI 2018-2020





