Oleh: Ahmad Zacky Makarim
Hari Rabu, 23 Desember 2020, Presiden Jokowi melantik menteri dan wakil menteri hasil reshuffle di Istana Merdeka, Jakarta.
Pengangkatan para menteri yang baru berdasarkan surat Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 133/P tahun 2020. Sementara pengangkatan wakil menteri berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 76/M tahun 2020 (Tirto).
Sejumlah kementerian kini memiliki wajah baru baik sebagai menteri maupun wakil menteri. Ada nama-nama populer yang kita kenal. Ada juga pemain baru sebagai kejutan.
Diantaranya Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial, Gus Yaqut Cholil Quomas menjadi Menteri Agama, Budi Gunadi Sadikin menjabat Menteri Kesehatan, dan Sakti Wahyu Trenggono menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan.
Sementara jabatan wakil menteri (wamen) yang baru diisi antara lain Letjen Muhammad Herindra sebagai Wamen Pertahanan, Pahala Mansury sebagai Wamen BUMN, Dante Saksono Harbuwono menjabat Wamen Kesehatan, Harfiq Hasnul Qalbi menjabat Wamen Pertanian, dan Edward Omar Sharief Hiariej sebagai Wamen Hukum dan Keamanan.
Wajah-wajah baru para pembantu presiden telah menjawab keraguan masyarakat akan kinerja pendahulunya yang dinilai minim prestasi. Ditambah lagi, ada 2 menteri yakni Menteri Sosial dan Menteri KKP yang terjerat kasus rasuah di saat pandemi.
Banyak pengamat mengapresiasi perombakan kabinet di penghujung tahun 2020. Meskipun terkesan terlambat.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyatakan bahwa kinerja menteri yang under perform seharusnya bisa diganti lebih awal. Namun, Presiden Jokowi tentu mempunyai pertimbangan sendiri untuk mengganti kabinetnya. Dikutip dari acara D’Rooftalk: ‘Membaca Strategi Jokowi Memilih Menteri’.
Praktis, ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para menteri yang baru. Mari kita telaah satu per satu.
Dari sisi kesehatan, Presiden menunjuk Budi Gunadi Sadikin menggantikan dr. Terawan. Publik menilai dr. Terawan gagal dalam mengantisipasi dan menangani virus COVID-19. Efeknya, kasus positif aktif dan korban kematian terus bertambah setiap harinya. Belum ada tanda-tanda perbaikan dalam menghadapi pandemi.
Menariknya, Budi Gunadi Sadikin sebagai pengganti dr. Terawan bukan dari latar belakang kesehatan. Ia adalah lulusan Teknik Nuklir dari ITB. Yang pengalamannya dihabiskan di bidang keuangan. Jabatan terakhir di korporasi adalah Dirut PT Inalum. Yang berhasil mengakuisisi saham PT Freeport sebesar 51%. Lalu ditarik Erick Tohir menjadi Wakil Menteri BUMN.
Kehadiran Pak Budi sebagai Menteri Kesehatan menuai pro kontra. Utamanya karena latar belakang studinya bukan dari bidang kesehatan. Padahal di berbagai negara seperti Selandia Baru, Singapura, Jerman dll tidak dipimpin menteri yang latar belakangnya kesehatan.
Meskipun benar bahwa Kemenkes di negara lain mempunyai peran yang berbeda dari Kemenkes di Indonesia. Di negara lain tugas Kemenkes adalah mengatur kebijakan dan manajerial kesehatan secara umum. Sementara fungsi teknis dijalankan oleh institusi yang bersifat otonom.
Sementara di Indonesia, peran Kemenkes harus mengatur kebijakan dan fungsi-fungsi teknis kesehatan. Baru Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai badan otonom yang mengurus teknis soal obat dan makanan. Selebihnya, masih melekat pada birokrasi kementerian.
Penjelasan di atas berdasarkan pendapat Irwandy, Peneliti Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, dalam wawancaranya dengan The Conversation.
Setidaknya, tugas Pak Budi akan dibantu oleh dr. Dante Saksono Harbuwono. Seorang dokter lulusan Jepang yang menjadi ahli penyakit dalam dari Universitas Indonesia. Di saat pandemi, Kemenkes dituntut untuk bisa mengatasi soal vaksinasi. Kombinasi manajerial dan ilmuwan diharapkan bisa menyelesaikan soal itu
Selanjutnya, Kementerian Sosial kedatangan nahkoda baru yakni Tri Rismaharini. Seorang Walikota Surabaya dengan segudang prestasi. Figurnya terkenal gesit, cakap, dan mau turun ke masyarakat. Sosok yang bisa menjadi konseptor dan eksekutor sekaligus.
Terlebih Kementerian Sosial sedang dilanda masalah akibat pendahulunya terkena kasus rasuah. Tidak tanggung-tanggung, dana bantuan sosial untuk masyarakat terdampak COVID-19 pun disikat untuk menambah pundi-pundi kekayaan. Tidak heran bila rakyat geram tujuh turunan melihat perilaku yang nirkeadaban itu.
Menjadi tugas bagi Bu Risma untuk melakukan turn around (mengembalikan) kepercayaan rakyat terhadap kementerian sosial. Lantaran masyarakat sangat membutuhkan transparansi dan kejelasan terkait penyaluran dana bantuan sosial tanpa adanya tangan-tangan kotor yang bermain.
Seterusnya, Kementerian Agama telah kembali ke haribaan Nadhatul Ulama. Setelah sebelumnya dipimpin oleh purnawirawan jenderal bintang empat, Fachrul Razi. Yang dinilai belum mampu mewujudkan kesejukan antar umat beragama. Akhirnya, Yaqut Cholil Qoumas yang ditunjuk sebagai Menteri Agama yang baru.
Tugasnya adalah menjaga kerukunan umat beragama. Karena belakangan ini isu populisme Islam begitu menguat. Seiring dengan hangatnya isu Islam dan negara. Di pidato awalnya sebagai menteri, Gus Yaqut menegaskan slogan pamungkas: agama sebagai inspirasi bukan aspirasi.
Kemudian, dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif juga menarik perhatian. Yakni munculnya Sandiaga Uno sebagai Menparekraf yang baru menggantikan Wishnutama. Padahal sebelumnya Sandiaga Uno berkomitmen untuk berada di luar pemerintahan. Alias sebagai oposisi.
Presiden Jokowi tentu mengharapkan kemampuan Sandi untuk melakukan pemulihan di sektor pariwisata. Dengan pengalamannya sebagai pengusaha ulung yang berkecimpung di dunia industri belasan tahun, kebijakan Sandi jelas sangat ditunggu oleh para pengusaha di bidang pariwisata.
Di sisi lain, kehadiran Sandi diharapkan akan mengembalikan marwah partai Gerindra. Setelah Edhy Prabowo tersangkut kasus korupsi benur yang membuat partai Gerindra cukup terpukul.
Seterusnya, Kementerian KKP yang baru ditinggalkan Edhy Prabowo kini sudah diganti oleh Sakti Wahyu Trenggono. Yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan membantu Prabowo Subianto.
Ia adalah lulusan ITB yang menjadi pengusaha di bidang menara telekomunikasi. Ia juga inisiator berdirinya Asosiasi Penyedia Menara Telekomunikasi Indonesia (ASPMITEL). Tidak heran bila Ia dijuluki Raja Menara di Indonesia.
Hanya saja memang bidang KKP bukanlah sektor yang digandrungi oleh Trenggono. Kendati demikian, kemampuan manajerial dan leadership beliau sangat dibutuhkan di bidang KKP. Toh, nantinya bisa menggunakan staf ahli untuk memberi masukan dan saran.
Persoalan mengenai cantrang, benur, dan kebijakan perikanan yang berkelanjutan menjadi tanggung jawabnya. Gerakannya harus sesuai dengan sustainable development goals nomor 14: life below water. Tidak hanya memanfaatkan sumber daya laut melainkan juga memperhatikan lingkungan bawah laut.
Sementara itu, Muhammad Luthfi dipanggil dari Amerika Serikat untuk menjadi Menteri Perdagangan. Jabatan yang boleh dinilai cocok dengan latar belakang beliau. Sebelumnya, Luthfi pernah menjadi Menteri Perdagangan era SBY, Kepala BKPM, dan pernah menjadi Ketua HIPMI Jakarta Raya.
Sehingga pengalaman Luthfi yang sudah berkecimpung di dunia perekonomian jelas penting untuk aspek perdagangan. Terlebih sektor ekspor-impor menjadi salah satu pemasukan negara yang cukup besar.
Penunjukkan para menteri yang baru tentu menjadi perbincangan publik. Terlepas dari pro kontranya, masyarakat perlu menghormati keputusan Presiden. Bagaimanapun reshuffle kabinet tidak semuanya bisa dipahami oleh kalangan awam.
Yang jelas, waktu yang akan menjawab apakah mereka berhasil menunaikan amanah jabatan itu dengan baik atau tidak.
Dalam situasi yang serbakelabu, masyarakat membutuhkan pejabat yang mempunyai sense of crisis. Yang mengerti masalah, mampu membuat konsep strategis, dan langkah taktis untuk recovery dari pandemi COVID-19.
Semoga kabinet yang baru akan memberikan harapan baru untuk Indonesia mendatang.
Penulis: Ahmad Zacky Makarim (Sekretaris Umum HMI Cabang Malaysia)

