Site icon LEAD.co.id

Karakter Bukan Garis Tangan: Menggugat Mitos Bawaan Lahir

Oleh: Rendy Dwi Maulana

Sering kali kita mendengar ucapan yang seolah mematikan semangat untuk berubah: “Ya mau bagaimana lagi, memang sudah bawaan orok.” Kalimat ini seolah menjadi tembok yang mengurung kita, sebuah vonis bahwa sifat manusia adalah barang jadi yang sudah kaku. Namun, bagi saya, karakter bukanlah “hadiah” yang sudah selesai saat kita lahir.

Saya percaya pada satu hal: jika manusia lahir diibaratkan sebagai kertas kosong, maka karakter hari ini adalah jejak dari setiap jalan yang kita lalui. Kita tidak lahir dengan “cetakan” sifat yang permanen. Kitalah penulisnya.

Gagasan ini berakar pada pemikiran John Locke. Dalam karyanya, An Essay Concerning Human Understanding (1689: 48), ia menegaskan bahwa jiwa manusia pada mulanya adalah kertas putih yang kosong dari sifat apa pun. Segala sesuatu yang membentuk kepribadian kita berasal dari satu sumber: pengalaman. Artinya, dunia yang memberikan tinta, dan cara kita menjalani hiduplah yang menuliskan baris-baris sifat di atas kertas putih tersebut.

Mungkin ada yang bilang kalau otak kita sudah “setelan pabrik”. Namun, Norman Doidge dalam buku The Brain That Changes Itself (2007: 45-47) membawa kabar baik. Ia membuktikan bahwa otak manusia itu elastis—bisa dibentuk kembali seperti plastisin, bukan keras seperti batu selamanya.

Sifat yang selama ini kita sebut “bawaan” sebenarnya hanyalah kebiasaan saraf otak yang paling sering kita gunakan. Jika kita memilih untuk berubah, otak kita secara fisik akan mengikuti dan membentuk jalur yang baru. Kita tidak sedang dipenjara oleh gen kita sendiri (Doidge, 2007).

Bahkan soal keturunan atau DNA, ilmu pengetahuan terbaru punya sudut pandang berbeda. Nessa Carey dalam The Epigenetics Revolution (2012: 12) menjelaskan bahwa gen hanyalah “naskah mentah”, tetapi lingkungan hidup adalah sutradaranya. Seseorang mungkin punya bakat lahir untuk menjadi pemarah, tetapi pendidikan dan lingkungan yang tenang bisa “mematikan” sifat tersebut. Karakter adalah hasil kerja sama antara apa yang kita bawa lahir dengan kenyataan hidup yang kita pilih.

Sebagai pendidik, saya merasa menyalahkan “bawaan lahir” adalah cara untuk lari dari tanggung jawab. Viktor Frankl, psikolog yang bertahan di kamp tawanan, menulis dalam Man’s Search for Meaning (1946: 121) bahwa di antara apa yang terjadi pada kita dan bagaimana kita menanggapinya, ada sebuah ruang. Di ruang itulah terletak kebebasan kita untuk memilih. Karakter yang asli lahir dari pilihan-pilihan sadar di ruang tersebut, bukan dari kode genetik semata.

Karakter kita bukanlah barang antik yang sudah berdebu. Ia adalah cerita yang masih ditulis. Sebagaimana B.F. Skinner (1974: 189) menekankan bahwa kebiasaan dibentuk oleh lingkungan, saya ingin menambahkan: kitalah yang memegang pena di atas kertas kosong kita masing-masing.

Jangan biarkan kata-kata “memang sudah dari sananya” menghentikan niat Anda untuk berkembang. Karena pada akhirnya, karakter bukanlah soal dari mana kita berasal, tapi soal ke mana kita memilih untuk melangkah.

Exit mobile version