BOGOR (LEAD.co.id) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengganggu aktivitas warga di kawasan Tanjung Hulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Asap membuat udara tidak nyaman untuk dihirup dan menghambat kegiatan warga di luar rumah.
Fajar Putra Ramadhan, warga Tanjung Hulu sekaligus mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, mengatakan asap sempat menebal ketika karhutla terjadi. Kondisi tersebut mengurangi jarak pandang dan membuat udara terasa tidak nyaman untuk dihirup.
“Untuk berpergian harus memakai masker dan asapnya pun sampai masuk ke rumah,” ujar Fajar saat diwawancarai melalui pesan tertulis pada 17 Oktober 2026.
Menurut Fajar, hujan sempat membuat kondisi udara membaik. Namun, perbaikan tersebut tidak berlangsung lama karena asap kembali terasa ketika kebakaran masih terjadi di wilayah lain.
“Setelah turun hujan udara sudah mulai membaik tapi tidak lama membaiknya karena masih ada daerah daerah lain yang belum turun hujan dan titik hotspotnya masih ada yang mengakibatkan asap datang lagi dan kualitas udara buruk kembali,” katanya.
Fajar juga menyampaikan bahwa hingga 17 Oktober 2026, kawasan di sekitar tempat tinggalnya masih berkabut dan asap masih terasa. Menurutnya, kondisi tersebut berkaitan dengan kebakaran yang masih terjadi di daerah lain.
Sementara itu, laporan Pontianak Post pada 14 Oktober 2026 menyebutkan bahwa jumlah titik panas di Kalimantan Barat mencapai 419 titik, turun dari sekitar 700 titik sehari sebelumnya. Data tersebut merupakan gambaran kondisi di tingkat provinsi dan tidak secara khusus menunjukkan jumlah titik panas di kawasan Tanjung Hulu.
Pengalaman Fajar menggambarkan dampak kabut asap terhadap aktivitas sehari-hari warga di Tanjung Hulu. Meski hujan sempat membuat udara terasa lebih baik, asap masih menjadi gangguan ketika kebakaran berlangsung di wilayah lain.
Hari : Berita ditulis, Minggu, 18 Oktober 2026
Narasumber : –
- Nama : Fajar Putra Ramadan
- Keterangan : Warga Tanjung Hulu, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.
Mahasiswa Program Studi Kehutanan, Universitas Tanjungpura.
- Teknik wawancara : Wawancara tertulis melalui pesan daring, 17 Oktober 2026.
Kontributor : (Magang UIB Bogor)
- Dede Dina Muhlisoh (NIM: F202306456)





