Oleh: Dr Apendi Arsyad
Sejak kemaren pagi, publik cukup dihebohkan dan bahkan mengejutkan, adanya pengumuman pencopotan, bahasa sopannya pemberhentian Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) sahabat saya Dr. Dadan Hindayana, Dosen Senior Prodi HPT Faperta IPB. Memang pemberitaan “buruk” (bad news) mengenai keragaan dan kinerja tata kelola program pemberian Makan BerGizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan gizi, kualitas kesehatan anak-anak bangsa dan ibu-ibu hamil agar tercegah dari pertumbuhan abnormal, yang dinamakan stunting. Sebab angka stunting memang masih cukup tinggi di Indonesia, yang merupakan salah satu “legasi” atau warisan regim Mulyono, membebani regim Wowo.
Presiden PS (Bpk Wowo) kita mengenalnya seorang sosok dan vigur pemimpin militer yang menurut saya AA, manusia cerdas, visioner, semangat nasionalisme tinggi, alias pemimpin yang sangat mencintai rakyat, bangsa dan negaranya. Salah satu program unggulan dan perioritasnya adalah MBG.
Jika tak salah saya pernah membaca di medsos, Prof DSD adalah salah seorang “pendukung” Program MBG, dan saya AA juga sepakat dengan pendapat beliau. Ada istilah yang sungguh menarik dan berkesan dalam benak saya AA, bahwa Prof. DSD mengemukakan pendapat dalam tulisan bahwa era Presiden RI Bpk PS telah menggeser paradigma pembangunan dari Oligarky driven ke arah Peoples driven, dengan menyebut program MBG adalah salah satu fakta, yang menunjukan bahwa bpk. Jenderal Purn PS sangat mencintai rakyat dan bangsanya, agar terbebas dari problem stunting yang membahayakan nasib negara-bangsa (nation state) kini dan masa depan. Dampak pembiaran stunting, gizi buruk akan menyebabkan “lose generation”, lahirnya generasi anak bangsa yang bodoh, miskin dan terbelakang, yang barang tentu jika ini terjadi, regim yang berkuasa memimpin (the ruling party) bisa-bisa menjadi penghianat bangsa dan negara, sebab bertentangan dengan jiwa dan semangat falsafah bangsa dan ideologi negara Pancasila dan landasan konstitusional UUD 1945.
Dalam kurun waktu terakhir ini, saya AA berkesempatan membaca dan mengikuti sejumlah tulisan Prof. DSD di medsos dan media cetak, bahwa beliau banyak mengkritik secara kritis-tajam, analitik-mendalam dan solutif yang menarasikan mengenai implementasi atau praktek kegiatan program SPPG-MBG yang menyimpang, melenceng dari tujuan (visi dan misi) awal yang dicanangkan dan dipidatokan Bpk Presiden RI PS, dengan dukungan data dan informasi presisi. Dengan pikiran Prof DSD seperti itu, ada nitizen di WAG tertentu, yang “menuduh” beliau seolah-olah, menolak program MBG. Menurut saya AA anggapan atau “tuduhan” tsb keliru, beliau masih konsisten membela program MBG yang “good governance” dan bebas praktek kriminal korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
Syukron, hatur nuhun kang Prof Didin S Damanhuri (DSD), GB Ekonomi Politik IPB University, beliau adalah salah seorang mentor saya di ICMI dan KAHMI Daerah Bogor. Kang Prof. Didin, pagi ini Kamis 4/6-2026, memposting, menshare sebuah gambar berjudul “Causal Loop Diagram-Ekonomi Poltik: Kegagalan MBG dan Solusi DSD”. Jujur saya AA berkata bahwa gambar flow chart dan menggambarkan kerangka berpikir based scientific ini, sungguh
Kren and mantul, okey banget.
Gambar ini mengingatkan saya AA tentang apa dan bagaimana serta mengapa sebuah fenomena sosial itu terjadi? yang pernah saya tulis dalam Disertasi Doktor saya AA di Sekolah Pasca Sarjana (SPS) IPB University thn 2007 dibawa bimbingan 4 org Profesor, yaitu Prof. Tridoyo, Prof. Rokhmin, Prof. Asep Saefudin dan Prof. Endriatmo, sedangkan penguji diluar komisi: Prof. Arif Satria dan Prof. Carunia Mulya Firdausy. Karena saya studi S3 pada program studi Ilmu Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Lautan (SPL) IPB, maka judul disertasi saya AA itu “Analisis Sistem Pengelolaan Perikanan Artisanal Berkelanjutan : Studi Kasus di Kelurahan Pulang Abang Kec.Galang, Barelang-Kepulauan Riau”. Dengan pengalaman studi ilmu pengetahuan SPL tsb, saya AA agak sedikit paham dan mengerti kerangka berpikir sistem dan holistik dalam usaha memahami sebuah fenomema sosial dan alam yang tengah berlangsung di dalam kehidupan sosial kita, termasuk gejala sosial pencopotan, atau pemberhentian sahabatku Kepala BGN RI oleh Presiden RI Bpk PS, apalagi setelah ada Gambar yang dishare di WAG Wankar MPP ICMI tentang kegagalan MBG yang dikemukakan Wakil Ketua Dewan Pakar MPP ICMI, kakanda Prof DSD.
Gambar yang dishare tsb menunjukan kompleksitas problem kasus tata kelola SPPG-dapur MBG yang dianalisis melalui teori, konsep dan aplikasi system permodelan, software yang digunakan Analisis Structural Equation Modelling (SEM) dan Interpretative Structural Modelling (SEM). Dari “Gambar Loop Diagram” yang menjelaskan faktor-faktor penentu keberhasilan atau kegagalan pengelolaan program MBG untuk pencapaian pengurangan angka stunting, cukup jelas dan tegas ditinjau dari perspektif saintifik. Tetapi kemudian, mengapa? temuan dan pemikiran kaum inteleltual muslim sekelas kepakaran Prof. DSD, kurang dihiraukan, atau bahkan gagasan briliyan tsb tidak terpakai dalam melahirkan, memutuskan, melaksanakan, memonev dan melaporkan dalam berbagai aktivitas sistem managemen SPPG-MBG yang dikepalai Dr. Dadan, yang kini menjadi “persakitan” dan ditahan pihak Kejaksaan Agung RI, karena dituduh gagal dalam menjalankan visi dan misi MBG sebagaimana tujuan mulia, yang sekaligus merupakan Visi dan Misi Capres RI Bpk. Jenderal PS pada Pemilu Pilpres thn 2019 yg lalu.
Melihat fenomena sosial “kegagalan” Implementasi program MBG yang telah memakan korban 3 orang top leader BGN, ini membuktikan bahwa lk dalam satu dasa terakhir pada kepemimpinan Presiden RI Mulyono dan Wowo, sebagaimana saya AA pernah menulis dalam sejumlah artikel saya AA yang sudah beredar viral di beberapa medsos (WA) bahwa..”The public policy and regulacy of Indonesia is not scientific approach”.
Jadi, masuk diakal kita (our common sense), ada yang berpikir, hipotetik, kiranya gejala-gejala sosial tata kelola pemerintahan Negeri Kanoha-Mapioso bin bulus dan fulus, semakin memburuk (bad governance) dan menghawatirkan kita sebagai warga bangsa yang mencintai Indonesia, akibat regim penguasa (the ruling party) yang alergi dan anti terhadap kritik para Cendekiawan Indonesia–sekelompok WNI yang terdidik dan terpelajar serta peduli terhadap nasib dinamika perjalanan negara-bangsanya (nation state), bernama Indonesia Raya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Saya AA dan kita berkeyakinan bahwa jika “public policy and regulacy, implementation programs based on scientific approach” dilakukan seperti SPPG-MBG, InsyaAllah akan bisa terlaksana dan sukses mencapai Visi dan Misi Presiden RI ke 8, Yml Bpk PS, sehingga Kang Dr. Dadan Hindayana, Kepala BGN tidak sampai dituduh dan dituding telah mengalami “kegagalan” menjalankan tugas dan amanah yang diberikan Bpk Presiden RI. Konsekwensinya, bahwa kerangka berpikir sistem dan holistik Prof. DSD yang telah viral sudah seharusnya menjadi rujukan oleh Kepala BGN RI yang baru dilantik. Kita berharap bak ungkapan pepatah orang etnis Melayu Riau yang bijak, istilahnya “janganlah sampai Keledai terjerembab atau masuk ke lubang yang sama”, namanya kegagalan. wallahu aklam bissawab.
Demikian narasi tentang kegagalan program MBG sehingga Kepala BGN RI sampai ditangkap dan ditahan Kejagung RI, kemaren setelah acara sertijab di Kantor BGN RI. Harapan kita semoga pengalaman pahit pengelolaan program MBG bisa dijadikan sebuah pelajaran (a lesson learned) dan hikmah, sehingga tak terulang kembali. Akhirulkalam, semoga Allah SWT senantiasa menunjukan, membimbing kita hamba-hambaNya kepada jalan yang benar dan lurus (sirotol mustaqiem), syukron barakallah, Aamiin-3 YRA.
Save Rakyat, Bangsa dan Negara-NKRI.
Gallery and Ecofunworkshop, Kp Wangun Atas Rt 06 Rw 01 Kel. Sindangsari, Botim City, West Java, Kamis 4 Juni 2026.
Penulis adalah salah satu Pendiri ICMI di Malang thn 1990, Ketua Wanhat MPW ICMI Orwil Khusus Bogor merangkap Wasek Wankar MPP ICMI, Pendiri dan Dosen Universitas Djuanda thn 1986-2024, Dosen Tamu SPS IPB University, Konsultan K/L negara, Pegiat dan Pengamat serta Kritikus Sosial melalui Tulisan-Tulisannya di Medsos dalam rangka ikutserta berkontribusi mewujudkan Visi dan Misi Indonesia Emas thn 2045





