LEAD.co.id | Beberapa tahun belakangan ini negeri kita, bumi pertiwi kita, bumi nusantara kita seolah – olah bertambah bising dengan hingar bingar berbagai persoalan kasus atau peristiwa intoleran. Khususnya aksi teror atas nama agama atau berjubah agama yang terjadi di berbagai kota, termasuk yang terjadi di kota Bogor. Kota yang sejak dulu dikenal sejuk.
Saat ini kedamaian dan ketentraman sosial seolah menjadi barang langka alias barang mahal harganya di negeri yang kaya akan sumber alamnya dan kaya akan keragamannya. Kenyataan pahit di atas tidak sejalan dengan negeri kita yang kaya akan ulama ulama sejuk, karismatik dan berakhlak mulia sejak dulu kala.
Dakwah sejuk, adem dan penuh akhlak itu, beberapa tahun belakangan ini lambat laun mulai ada yang menggoyang, mengusik dan mengaburkan dengan gaya baru. Gaya menyalahkan orang lain. Menyesatkan orang lain. Bahkan mengkafirkan orang lain. Orang lain yang dimaksudkan di sini adalah orang orang atau pihak pihak yang tidak sejalan dengan keyakinan mereka atau tidak sejalan dengan pemikiran mereka.
Sebagai pemeluk agama Islam, kita sudah diajarkan sejak dewasa (baliqh) untuk shalat. Namun kenapa nilai-nilai luhur dalam shalat tidak kita wujudkan dalam kehidupan nyata? Bukankah jika ada imam yang salah maka makmum cukup mengucapkan pujian kepada Allah untuk mengingatkan Imam yang khilaf. Apakah musti dipermalukan atau didemo saat imam salah?
Cara lainnya, kenapa musyawarah dan tabbayun (konfirmasi) sebagai budaya dengan mudahnya lenyap, atau memang hendak di lenyapkan? Ada apa dengan bangsa ini? Apakah mau dijadikan alat proxy untuk menghancurkan diri sendiri sebagai bangsa yang besar, lantas kemudian hancur dalam konflik?.
Melihat fenomena yang buruk atau tidak sehat ini, ketua MUI kota Bogor, KH.Mustofa Abdullah Bin Nuh, mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan “Ngariung Nusantara” yang terdiri lebih dari 150 ormas keagamaan, kepemudaan, pesantren yang bertujuan untuk membuat kota Bogor menjadi “adem”tanpa ada ujaran kebencian dan hasutan.
Kegiatan prioritas yang akan dilakukan adalah “Gerakan Sholawat” yang akan dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Desember 2019, setelah shalat Jumat, di masjid raya Kota Bogor yang akan langsung di pimpin oleh KH. Mustofa Abdullah Bin Nuh sendiri.
Selanjutnya perkumpulan Ngariung Nusantara ini akan terus melakukan kegiatan demi kegiatan secara massal untuk menangkis gerakan gerakan intoleran sehingga intoleransi tidak mendapat panggung dan tidak mendapat tempat di kota Bogor ini.
Kita sebagai negara yang beraneka ragam suku, bahasa, seni, dan budaya ini, menjadi bukti kekayaan bangsa yang besar, dan akan menjadi negara besar yang kuat dan unggul di masa yang akan datang.
Masih banyak cara yang bisa di tempuh dalam menyikapi perbedaan pendapat masalah agama. Bahkan berbeda pendapat itu sah sah saja, bahkan dapat menjadi rahmat, asalkan berdasarkan tiga kriteria: 1. Didasarkan atas kompetensi dan keahlian di bidangnya. Atau dalam istilah agama Islam berdasarkan istimbat (penggalian) sohih dari Quran dan Hadits serta Ijma Ulama, 2. Tidak merasa benar dan tidak menyalahkan orang lain, dan 3. Tidak memaksakan pendapat kepada orang lain.
Semoga perkumpulan “Ngariung Nusantara”ini dapat memberikan angin segar terhadap Kota Bogor mewujudkan toleransi antar sesama, bersamaan dengan Hari Nusantara yang jatuh pada tanggal 13 Desember 2019 hari ini. (*)

