Site icon LEAD.co.id

Kenapa Kemunafikan Bisa Meng-upgrade Dirinya Sendiri

Kemunafikan, Upgrade Diri, Musawir

Oleh: Musawir Al Fayd

Saya baru menyadari beberapa tahun belakangan bahwa ada yang aneh dengan kepribadian saya. Saya tidak tahu apakah itu termasuk penyakit mental atau tidak. Mudahan-mudahan setelah saya bercerita ada dari teman-teman, bapak/ibu, dan saudara berkenan memberi saya pencerahan.

Saya jarang sekali terharu pada hal-hal besar atau pada momen yang bagi kebanyakan orang dianggap penting seperti kelahiran, menamatkan jenjang pendidikan, pernikahan, bahkan kematian.

1. Ketika saya wisuda atau menghadiri wisuda orang lain; saya tidak terkesima pada toga, ijazah, atau pun papan bunga. Saya justu terpukau pada hal-hal receh seperti bunyi ikonik penjual es, suara telur gulung sedang dimasak, sayup rengek anak-anak minta dibelikan mainan, serta langgam bahasa khas orang-orang dusun yang begitu polos menjadi oase di tengah keramaian kaum urban yang bicaranya digaul-gaulkan.

Saya merasa tidak ada yang istimewa pada potret keluarga wisuda dengan senyum studio, senyum yang dipandu oleh 1, 2, 3, ciss itu. Saya malah terharu pada cucu dan nenek yang kadang terlupakan dalam foto keluarga. Nenek yang lebih memilih duduk menepi dari hiruk-pikuk, menggendong-menidurkan cucunya dengan dendang-dendang lama.

2. Saat proses pernikahan di mana kebanyakan orang deg-degan, gugup, dan keringat dingin menuju adegan sakral ijab-qabul, saya justru merasa ringan seperti sedang menjentikkan jari ke meja saat main koa, atau perasaan biasa saat memberi dua ribuan pada tukang parkir.

Sakral pernikahan malah saya rasakan pada momen remeh-temeh. Saya mengalami “perasaan” sudah menikah untuk pertama kalinya justru ketika token kontrakan berbunyi minta diisi dan saya mesti mengeluarkan uang untuk itu. Adegan mengisi token bagi orang kebanyakan adalah hal biasa tapi bagi saya itu adalah momen penasbihan sebagai suami yang mesti dilakukan dengan kusyuk. Saya mengisi token dengan perasaan bangga, heroik, dan penuh tanggung jawab seolah-olah sedang bersalaman dengan calon mertua.

3. Ketika Bapak saya meninggal, saya tidak menangis, saya biasa saja melihat janazah Bapak dibujurkan di tengah rumah. Bahkan saya masih sempat menggendong keponakan dan bermain ayunan di halaman.

Pikir saya enteng saja waktu itu: bukankah mengantar manusia menuju Kekasihnya mesti dirayakan? Bapak telah meninggal dunia sebagaimana lazimnya manusia meninggalkan dunia, malah untung, beliau tak merasakan sakit asma lagi. Saya ayunkan keponakan saya, ayunan riang membelah angin seperti bandul nasib; bertukar tangkap dengan lepas.

Setelah bapak dikuburkan, orang semakin ramai berdatangan ke rumah. Mereka bercerita tentang kebaikan-kebaikan Bapak. Saya tidak bangga atau pun haru.

Hari berlalu begitu saja. Saat malam ketika hendak tidur, saya melihat sarung bewarna merah hati tersangkut di balik pintu, sarung yang biasa dipakai Bapak untuk salat–yang seminggu lalu beliau minta cucikan–belum sempat saya cuci sampai beliau meninggal.

Tanpa sadar dua garis lurus membelah pipi saya, rasanya asin seperti laut. Benarkah airmata itu asin karena ia garam kehidupan, Buya?

Saya tak berduka melihat jenazah Bapak tapi kenapa kain sarung yang tak sempat dicuci itu justru membuat saya kuyup?

4. Pun saat Ibu meninggal, saya juga tidak bersedih melihat kuburan beliau (saya tidak sempat melepas dan menyelenggarakan jenazah beliau). Dada saya justru hangat dan senang melihat kuburan menjadi sepasang yang biasanya cuma kuburan Bapak. Adakah yang lebih menakjubkan dari kata sepasang?

Sudah tiga malam orang ngaji yasin di rumah, perasaan saya masih biasa saja; tak bersedih. Sampai ketika saya baru menyadari; setiap semester kuliah saya bertambah, setiap itu pula obat Ibu berkurang. Kuat dugaan saya beliau mengurangi obat demi biaya kuliah saya.

Setiap kali mengingat itu, saya seakan menginjak tulang Ibu yang sedang sembahyang. Setiap kali saya mendengar bunyi kriuk dipan tidur, setiap itu pula saya mendengar lirih batuk Ibu.

Surga saya telah dibawa orang dalam keranda dan dimiringkan menghadap kiblat. Saya si bocah durhaka hanya mampu berdoa; puisikanlah keduanya sebagaimana keduanya mempuisikan saya di waktu kecil, aamiin.

Keanehan pada kepribadian (boleh disebut cacat mental) saya itu berdampak negatif pada cara saya berkomunikasi. Saya jadi jarang bahkan takut mengucapakan selamat atau berbelasungkawa. Selain karena saya menganggap itu suatu yang lazim, juga karena cara komunikasi saya yang sering dihantui perasaan keliru memilih kosa kata: saya selalu kehilangan cara memberi ucapan selamat dengan porsi yang pas; tidak terlalu menyanjung, ala kadar tapi tetap bersahaja dan membahagiakan. Seperti halnya saya selalu mati kata untuk menunjukkan rasa belasungkawa dengan takaran yang tepat; tidak membuat tersinggung, sederhana tapi tetap penuh doa dan menenangkan.

Jadi bagi teman-teman, bapak/ibu, dan saudara yang sedang bersuka atau pun berduka yang belum atau tidak saya beri ucapan bukan berarti tak peduli, tak acuh, dan mengabaikan. Segala yang baik selalu saya sematkan pada itu semua dengan lain cara.

Saya benar-benar minta maaf atas kecacatan komunikasi saya tersebut; saya belum bisa hadir sebagai pemberi selamat yang baik sekaligus belum mampu datang sebagai pelipur duka yang ulung.

Atau jangan-jangan itu semua adalah wajah lain dari ragam kemunafikan yang saya pasang begitu rupa untuk menutupi sifat malas, pelit, enggan, dan angkuh saya?

Kenapa kemunafikan selalu bisa mengupgrade dirinya sendiri, bahkan tanpa paket data dan wifi. Sementara kesadaran merangkak lamban sekalipun dilecuti khutbah-petuah saban hari.

Sekarang saya berdiri dengan kaki yang pincang, yang senjang, yang sungsang di atas garis samar antara dalil dan dalih. Sebelum saya terjermus, tersungkur, terjeremab pada liang kemunafikan yang lain; adakah yang mau mengulurkan tangan atau manjulurkan sebait puisi. Bukankah gapai mesti berumah dalam genggam?

Pada akhirnya berilah hamba titik tengah; sebongkah tanah tempat berpijak antara khauf dan raja’.

Exit mobile version