Oleh: Musawir Al Fayd
Sore itu sehabis pulang kantor, saya mampir di sebuah kedai Soto Ayam di Jalan Mata Ie Pasar Keutapang. Saya memesan semangkok soto ayam dan langsung duduk sambil membaca chat WhatsApp menunggu hujan yang belum juga berhenti, maklum nasib karyawan yang pulang kerja hanya pakai motor jadul tidak seperti teman teman lain yang pakai mobil, hujan dan panas tak jadi masalah.
Kembali ke cerita Soto, Saya suka sekali makan soto apalagi di musim hujan begini hehehe…
Seorang ibu setengah tua dengan 2 anaknya yang kira kira berumur 3 dan 5 tahun, dengan penampilan sederhana tiba-tiba masuk ke kedai.
“Pak, berapa harga semangkok soto ?” tanya si ibu tersebut.
“14.000, Bu” jawab penjual soto sambil tersenyum…
” Kedua anak saya sungguh ingin makan soto, tapi uang saya hanya ada 10.000 rupiah, maaf pak apa bisa dibuat 2 porsi walau hanya kuah dan sedikit bihun, gak jadi masalah ” tanya si ibu sedikit ragu-ragu…
” Oh, mari bu silakan duduk ” kata bapak penjual soto..
Lalu nggak sampai 5 menit, 3 mangkok soto berukuran besar sudah dihidangkan di depan…
” Tapi uang saya hanya 10.000… Pak ?” Tanya ibu sekali lagi dengan sedikit ragu,..sang ibu masih punya harga diri untuk tidak meminta penuh…
” Oh..nggak apa apa bu, ibu bertiga makan saja dan simpan uang ibu “. . Ibu itu tersenyum dan kemudian membungkukkan tubuhnya sebagai tanda berterima kasih.
Saya tersenyum kagum, melihat kebaikan penjual soto.. saya pun kembali meneruskan makan soto yang sudah saya pesan.
Sekitar 15 menit, si ibu dan kedua anaknya pun beranjak pergi sambil mengucapkan terimakasih yang tidak terhingga kepada si bapak penjual soto.
Kemudian seorang pemuda sepertinya seorang pegawai kantoran yang dari tadi duduk cuek di pojokan yang sambil main HPnya tiba-tiba membayar kepada si penjual soto dengan uang Rp. 100.000 dan kemudian pergi begitu saja.
“Bang, ini kembaliannya”, ujar si penjual soto.
“Saya makan 1 mangkok dan 1 bungkus kerupuk sama teh manis ya Pak. Naah.. sisanya untuk bayar soto si ibu dan 2 anaknya tadi ya Pak”, kata pemuda itu sambil menghidupkan sepeda motor maticnya dan kemudian beranjak pergi sambil menerobos hujan…
….
Saya benar-benar terpesona, dengan kebaikan-kebaikan yg dihadirkan Tuhan di depan mata saya… Saya belajar banyak dari kejadian yang saya saksikan..
Kata orang belajar itu tidak mesti di bangku sekolah, belajar dari mengamati apa yang dilihatpun kita bisa belajar, itulah belajar dari universitas kehidupan.
…
Si ibu yang kurang cukup uang, yang jujur serta tidak meminta-minta..
Si bapak penjual soto yang baik hati serta Pemuda yang pemurah. Dan saya sendiri ikut kecipratan kebahagiaan karena melihat kejadian itu…
Jika saja setiap orang tidak melulu menggunakan Hukum Dunia, Untung dan Rugi. Tentu pintu-pintu kesempatan, keberkahan akan banyak dibuka oleh Allah Yang Maha Kuasa.
Jika saja setiap orang lebih dahulu MEMBERI bukan meminta, dunia akan punya banyak WARNA yang INDAH..”





