Oleh: Siti Diana Laelani Rohimah
Gaya hidup yang berorientasi pada konsumsi kian menonjol sebagai karakteristik masyarakat kontemporer. Tren berbelanja daring, penggunaan barang-barang sekali pakai, serta keinginan terhadap produk terkini seakan menjadi indikator status sosial. Namun, di balik kemewahan konsumsi tersebut, timbul masalah serius yang semakin urgent: penurunan kepedulian terhadap lingkungan.
Konsumerisme masa kini ditandai oleh kebiasaan membeli bukan hanya berdasarkan keperluan, melainkan dipicu oleh pola hidup dan citra diri. Hal ini terlihat nyata dalam maraknya produk fashion cepat saji yang menghasilkan limbah kain dalam skala besar, dominasi plastik sekali pakai yang sulit dihindari, serta peningkatan penggunaan kendaraan pribadi yang memperburuk polusi udara dan emisi karbon. Orang-orang lebih mengejar kepuasan seketika daripada memikirkan efek jangka panjang bagi planet ini, sehingga prinsip keberlanjutan sering kali diabaikan.
Dampak dari kebiasaan konsumsi berlebihan ini jelas dan semakin dirasakan. Indonesia tercatat sebagai salah satu negara penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, sementara kualitas udara di perkotaan besar terus memburuk karena pertumbuhan kendaraan bermotor. Eksploitasi sumber daya alam melalui deforestasi dan penggunaan energi fosil memperburuk krisis iklim yang kini menjadi ancaman global. Jika pola ini dibiarkan berlanjut, generasi berikutnya akan menghadapi kerusakan ekosistem yang sulit dipulihkan.
Survei terkini yang dikeluarkan pada Mei 2025 oleh Global Methane Hub menunjukkan bahwa 91 persen masyarakat Indonesia mendukung langkah-langkah menangani perubahan iklim, dengan 98 persen di antaranya yakin bahwa perubahan iklim benar-benar terjadi dan 81 persen meyakini aktivitas manusia sebagai penyebab utamanya. Temuan ini mengindikasikan tingginya kesadaran publik, meskipun dalam keseharian masih banyak tindakan konsumtif yang bertolak belakang dengan semangat menjaga lingkungan.
Survei lain pada Juni 2025 juga menempatkan masalah pengelolaan sampah sebagai salah satu isu lingkungan utama yang mendapat perhatian masyarakat dari GoodStats Data. Data ini menegaskan bahwa masyarakat pada dasarnya peduli, tetapi masih memerlukan dorongan kuat agar kepedulian itu diwujudkan dalam aksi konkret.
Meski tantangan besar, ada optimisme melalui langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan bersama. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan membawa botol minum atau tas kain, memilih transportasi umum untuk mengurangi emisi karbon, mendukung produk lokal yang ramah lingkungan, serta menanamkan pendidikan tentang pentingnya merawat bumi sejak usia dini adalah tindakan kecil yang bisa membawa perubahan signifikan. Peran pemerintah juga krusial, melalui aturan ketat terhadap industri pencemar, pemberian insentif untuk produk hijau, serta kampanye nasional yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran ekologi.
Dari sudut pandang Islam, bumi adalah titipan yang wajib dijaga. Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia diangkat sebagai wakil di muka bumi, dengan kewajiban untuk tidak merusaknya. Hadis Rasulullah juga mengingatkan bahwa menanam pohon atau menjaga lingkungan merupakan bagian dari amal jariyah. Nilai-nilai ini seharusnya menjadi dasar moral bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih memperhatikan lingkungan. Dengan menggabungkan nilai spiritual dan kesadaran ekologi, gerakan menjaga bumi akan lebih tangguh dan berkelanjutan.
Era modern seharusnya tidak hanya dikaitkan dengan konsumsi, tetapi juga dengan tanggung jawab. Kesadaran lingkungan adalah dasar untuk menjaga bumi tetap layak huni. Dengan mengubah pola pikir dan kebiasaan, masyarakat bisa membuktikan bahwa kemajuan tidak harus merusak alam. Teknologi dan modernitas harus menjadi penghubung menuju keberlanjutan, bukan penghalang yang memisahkan manusia dari alam. Dengan solidaritas sosial, kebijakan yang mendukung keberlanjutan, serta nilai spiritual yang membimbing, bumi dapat tetap lestari untuk generasi mendatang.
Penutup
Kesadaran lingkungan bukan sekadar pembicaraan, melainkan tanggung jawab yang harus dilaksanakan. Di tengah gelombang konsumerisme modern, menjaga bumi berarti menjaga masa depan. Dengan langkah sederhana namun konsisten, kita dapat memastikan generasi berikutnya mewarisi bumi yang tetap hijau, bersih, dan layak huni.
Penulis adalah Mahasiswi Semester 5 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Institut Ummul Quro Al-Islami Bogor (IUQI)





