Kesan Terhadap Budayawan Besar MH Ainun Najib

oleh -404 views
Apendi Arsyad, Kesan, Budayawan, MH Ainun Najib
Budayawan, MH Ainun Najib (Sumber Foto: Radar Jombang)

Oleh: Dr.H. Apendi Arsyad
(Dosen, Konsultan dan Pemerhati Sosial)

Terima kasih bang Idrus atas kiriman postingan karya puisi MH Ainun Najib di WAG.IKKS kesayangan ini. Saya tertarik untuk memberikan sedikit ulasan sebagai kesan saya terhadap seniman-budayawan besar MH Ainun Najib.

Luar biasa pilihan kalimat dan kata2 (prosa) dalam karyanya:
“..Pilih BH ukuran 36 B atau ISI-nya ukuran 36 B..” (by MH Ainun Najib), yang sebenarnya sudah banyak viral di media sosial sejak lama.

Arti dan makna bahasanya karya2 budayawan ini.. begitu….hidup tergambar di dalam berbagai tulisan budayawan besar MH Ainun Najib tsb. Kita terkadang terkagum-kagum, terkesima dibuatnya karena kecerdasan dan berpenampilan serta gaya bahasanya.

Saya adalah salah seorang pengagum beliau. Ketika saya kuliah di IPB doeloe pada thn 1983-1985, saya pernah memimpin (Ketua) grup diskusi lintas Perguruan Tinggi (baik negeri maupun swasta) di Kota Bogor, grup diskonya bernama “Forum Latihan dan Pengembangan Muslim Intelektual” disingkat FOLAPMI. Kiyai kanjeng mas MH Ainun Najib ini pernah kami undang beberapa kali untuk berceramah dan berdiskusi di FOLAPMI yg bermarkas di asrama Felicia IPB, Jln Sempur No.20 Kota Bgr. Acara diskusinya yg membahas topik “Islam Kontemporer” berlangsung cukup alot dan mencerahkan, berlangsung di malam hari dimulai bakdah sholat isya hingga tengah malam di ruang tengah asrama.

Baca :  Inmemorial Prof Nanat Fattah Natsir

Beliau datang jauh dari Jogyakarta, naik kereta api, dengan menenteng sebuah tas-ransel tempat beberapa halai pakaian saja, sehingga beliau pun waktu itu bersedia menginap di asrama kami bersama dengan para mahasiswa.

Orangnya merakyat, komunikatif, tidak berjiwa feodal, rambut agak gondrong dgn kumis terawat apik , memang agak “nyentrik”. Bicaranya runtut dan bernas, kejeniusannya begitu tampak dalam cara berpikir dan bertutur-katanya (seorang pembelajar autodikdak, dan maaf, konon katanya di masa kuliah pernah drop out di UGM). Mendengar tausyiahnya, berdasarkan pengalaman, bisa merasuk ke relung-hati bagi mereka yg tekun mengikuti ceramahnya.

Memang Kiyai Kanjeng ini kemampuan berkreatifitas dan berinovasi seni-budaya memang hebat-luar biasa, serta didukung pula pemahaman dan penguasaan ajaran agama Islam (Dinnulislam) bersumber QnS yang sangat baik sekali. Manula Kiyai Kanjeng ini sebenarnya sudah mencapai predikat ulama, tetapi beliau enggan dipanggil ustadz, kiyai atau tuan guru, beliau kurang ‘nyaman’ dengan predikat itu. Kayaknya dan maunya “ubaru” saja (maaf kata saya, mudah2an kleru). Ini membuktikan budayawan besar MH Ainun Najib memiliki karakter baik dan unik, orangnya “rendah hati” (tawadduak), egaliter, hidup sederhana (cukup), berakhlak mulia, dan beliau kurang tertarik dengan simbol2 duniawi, yang terkadang bisa menyesatkan dalam kehidupan sosial seperti perangkap budaya feoadalisme agama etc

Baca :  Pentingnya Sosok Ibu Kandung Lansia dalam Keluarga Samarah

Beliau membaca ayat2 suci Al Quran begitu pasih (tajwid, nahu syarafnya, qiroatnya, etc), dan menjelaskan makna ayat2 suci sangat kontektual, suasana kikiniannya sangat terang-benderang, padat dengan kritik2 sosial, berani tanpa beban, dan bagi orang yg mendengar dan menyimak ceramah/tausyiahnya akan tercerahkan dan sekaligus terhibur..krn secara spontan kita audiensinya banyak yang… geeeerrr nya. Tausyiahnya selalu disertai “banyol2an” yang lucu, seger tapi penuh makna dan hikmahnya.

Hingga sekarang saya pribadi sangat menyukai alias “tidak bosan2nya” mendengarkan tausyiahnya Kiyai Kanjeng di medsos. , beliau adalah makhluk “manula” manusia yang langka, yg dimiliki Indonesia saat ini. Sudah sepantasnya negara memberikan appresiasi dan penghargaan kepada budayawan besar ini seperti para tokoh parpol lainnya, etc.

Baca :  Bang Aznan: Dialog Kemajuan dan Peradaban Cerenti Madani

Kehebatannya juga sdh pernah terbukti, ketika pak Harto mau lengser dari kekuasaan sebagai Presiden RI di masa awal reformasi karena tuntutan mahasiswa, beliau Kiyai Kanjeng adalah salah seorang dari 7 orang Cendekiawan Indonesia, yg dipanggil ke istana Presiden untuk diminta saran dan nasehatnya oleh Presiden RI bapak Jenderal Besar H.Muhammad Soeharto (pemimpin NKRI di era Orde Baru selama lk 32 thn)

Demikian kesan saya tentang seniman dan budayawan besar MH Ainun Najib, semoga beliau panjang umur, hidup berbahagia bersama keluarganya, dan selalu bisa berkontribusi untuk mencerdaskan kehidupan ummat dan bangsanya yg mayoritas masih tercebak pada kejumutan dan sempalan. Maaf apabila ada narasi yg kurang berkenan. Sukron, barakallah.. Amin3 YRA.

Penulis adalah Ughang Caghonti, tinggal di Bogor sejak 1980

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *