Kisah Inspiratif Lilis Kustriani, 40 Tahun Mengabdi di Dunia Pendidikan

oleh -716 views
Lilis Kustriani, Dunia Pendidikan, Kisah Inspiratif
Tenaga Pendidik Kota Bogor, Lilis Kustriani

BOGOR (Lead.co.id) – Sosok yang ramah, murah senyum dan enerjik ini merupakan lulusan sekolah pendidikan guru (SPG) tahun 1981. Menyandang sebagai Guru Teladan, Lilis Kustriani (60) mengawali karirnya sebagai guru Taman kanak-kanak Tunas Muda IV di Bogor dibawah naungan Hankam.

Baginya, mengajarkan anak-anak butuh kesabaran dan ketelitian serta kedisiplinan merupakan hal yang paling diutamakan bagaimana membangun kedekatan dengan murid-muridnya hingga melakukan hal yang sangat simpel namun berkesan.

“Saya merasa bersyukur menjadi bagian dari pegawai dilingkungan ABRI dari tahun 1981-1983 mengajar di TK Tunas Muda IV dan Alhamdulillah di tahun kedua mendapatkan kesempatan meraih juara ketiga sebagai guru teladan,” kenang Lilis Kustriani di Bogor belum lama ini.

Berbekal pembinaan mengenai attitude dan keterampilan sebagai pengembangan pengetahuan, Lilis Kustriani mendaftar sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan diangkat per 1 Mei 1983. Ia pertama kali ditugaskan di SDN Papandayan 2 kota Bogor yang pada masa itu SDN Papandayan 1,2 dan 3 masih dalam satu komplek.

Lilis Kustriani bercerita, banyak pengalaman yang sangat menyenangkan di SDN Papandayan 2 kota Bogor kala itu, salah satunya ketika ikut serta dalam pelatihan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan Proyek Pengembangan (PPPG IPA) di Bandung.

Pelatihan PPPG IPA dilaksanakan setiap tahun selama 5 tahun. Setiap selesai pelatihan IPA, maka disiapkan dan menyiapkan materi yang didapat untuk disampaikan kembali kepada guru-guru di kecamatan Bogor Utara.

Tidak hanya pelatihan IPA, pelatihan lain seperti kesenian yang menuntut supaya dapat menciptakan sebuah tarian bagi anak sekolah dasar untuk dilombakan. Saat itu lomba cipta tari yang diikuti oleh siswi SD Negeri Papandayan meraih Juara 1 tingkat Kota Bogor yakni “Tari Cikibung” yang menceritakan anak-anak perempuan mencuci baju dan mandi di sungai sambil bermain air.

pengetahuan ini didapatkan karena dirinya tak pernah menolak apabila Kepala Sekolah menugaskan untuk mengikuti pelatihan-pelatihan, sehingga keilmuan dan keterampilan dalam mendidik dan mengajar siswa siswi di sekolah selalu terus berkembang

“Hal yang sangat membahagiakan bagi saya apabila dapat mempersembahkan yang terbaik untuk sekolah tempat dimana mengajar,” ujar guru yang menggunakan hijab.

Disisi lain, Lilis Kustriani tidak hanya fokus di bidang mengajar, ia pun giat menulis, mengikuti berbagai perlombaan, menerbitkan buku hingga membuat lagu. Karya tulis itu ia dikirim ke media seperti “Bhineka Karya Winaya” atau “Mingguan Pelajar” yang sekarang media itu sudah tidak ada lagi.

Tak terlewatkan jika ada lomba menulis selalu berusaha untuk ikut meski tidak mendapat juara, setidaknya ada penghargaan bagi peserta lomba. Juara lomba menulis diperoleh di Jakarta sebagai perwakilan dari Dharma Wanita istri PLN Kramat Jati. Karya tulis itu mengenai Keluarga Berencana, yang diadakan oleh BKKBN Pusat.

Baca :  Gagas Pendidikan Anti Korupsi, PGK Bogor Raya Disambut Wakil Walikota

“Mewakili Dharma Wanita Jakarta Timur saya mendapat juara 1 dan mewakili Kota Jakarta mendapat juara 3 tingkat Nasional,” ucapnya bangga.

Bahkan dari hobi menulis itulah dirinya membuat buku pelajaran. Contoh tulisan untuk buku pelajaran itu dikirim ke penerbit Erlangga bagian pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) untuk buku pelajaran kelas 3.

“Tahun 1998 diterbitkanlah buku pelajaran IPS itu di kota Bogor,” kata Lilis Kustriani.

Kustriani melanjutkan, pada tahun 2000 dimutasi dari SD Negeri Papandayan ke SD Negeri Gunung Gede. Disana dirinya merasa harus memulai lagi dari awal setiap kegiatan, tetapi itu merupakan tantangan baginya bahwa menjadi guru harus baik dan kompeten.

Hobi menulis pun selalu dipupuk dengan banyak membaca buku-buku di perpustakaan dan membeli buku yang memang diperlukan. Karena menurutnya, media yang ada di dinas Provinsi Jawa Barat sudah tidak ada lagi, maka ia mengirim tulisan ke Radar Bogor yang kebetulan waktu itu masih baru pada Kolom opini yang ada di Radar Bogor membuatnya selalu ingin menulis dan mengirimkan tulisan.

“Sepertinya apapun ingin saya coba, begitu juga dengan menulis syair lagu. Sebagai rasa sayang kepada SD Negeri Gunung Gede maka saya coba membuat “Mars Gunung Gede” yang saat itu selalu dinyanyikan oleh siswa-siswi SD Negeri Gunung Gede setiap selesai Upacara Bendera,” tuturnya.

Tahun 2013, Lilis Kustriani bersama Nurdahniar mendapatkan kesempatan mengikuti tes Calon kepala Sekolah dan dinyatakan tes itu lolos, hingga mengikuti pelatihan kepala sekolah di Lembaga Pelatihan Kepemimpinan Kepala Sekolah (LPKKS) di Solo selama 10 (sepuluh) hari. Pulang dari Solo diangkat menjadi KS di SD Negeri Kampung Sawah.

Perjuangan Membangun SDN Kampung Sawah Kota Bogor

Menjadi kepala sekolah bukan hanya anak didik yang dihadapi, tetapi juga dengan guru-guru bagaimana cara bekerjasama untuk menjadikan sekolah yang diminati masyarakat sekitar.

Dirinya heran ketika pertama kali berjalan menuju sekolah melihat banyak anak-anak berseragam SD berjalan berlawanan arah, mereka (siswa) sekolah diluar lingkungan kampung sawah. Ia pun bergauman ada apa gerangan?

Ternyata, SD Negeri Kampung Sawah kondisinya sungguh sangat memprihatinkan. Ia melihat satu bangunan sebagai ruang guru dengan langit-langitnya memang benar-benar langit. Sehingga bila hujan turun, ruangan itu terguyur air hujan, basalah kursi-kursi yang ada di ruangan itu walaupun kursinya sudah tidak bagus lagi karena memang sudah benar-benar rusak.

Bahkan, lemari guru yang ada diruang kelas keadaannya sudah tinggal sepotong, karena lemari itu sudah keropos bagian bawahnya sehingga lemari itu dipotong dan tangan pintunya ada dibawah supaya lemari itu masih bisa digunakan.

Melihat dinding-dinding kelas penuh dengan karya siswa yang dipajang. Ia sempat berpikir, kreatif sekali guru-guru untuk memajang hasil karya siswa. Namun, ternyata hasil karya yang dipajang itu hanya untuk menutupi tembok-tembok yang bolong, sehingga anak-anak kelas sebelah tidak mengintip melalui tembok yang bolong itu.

Baca :  Perdana, IUQI Bogor Laksanakan PkM Internasional di Yala-Thailand

Diawal kegiatan yang dilakukan adalah membuat proposal untuk mendapatkan perhatian dari Dinas Pendidikan kota Bogor supaya merehab SD Negeri Kampung Sawah.

Hal lain adalah bekerjasama dengan orang tua siswa untuk bersama-sama membangun sekolah. Saat itu komite sekolah kurang aktif. Maka dibentuklah komite sekolah yang baru yang benar-benar peduli kepada sekolah dan terpilihlah bapak R.Satriana,S.Pd.

Dengan bantuan komite maka terbangunlah ruang guru yang atapnya bukan langit lagi, tetapi benar-benar langit-langit. Sehingga ruang guru itu tidak banjir lagi jika turun hujan. Dengan berjalannya waktu terbangun juga ruang mushola dan perpustakaan.

“Miris lihatnya dengan keadaan sekolah yang seperti itu,” ujar Lilis Kustriani sambil berkaca-kaca.

Ketika SD Negeri Kampung Sawah sudah mulai terlihat bagus dan terawat, jumlah murid dari tahun ke tahun terus bertambah. Namun, yang menjadi kendala adalah ruang kelas yang kurang dikarena jumlah rombongan belajar ada 9 rombel sedangkan jumlah ruang kelas hanya ada 6, sehingga ada siswa yang masuk siang.

Kegiatan ekstrakurikuler di SD Negeri Kampung Sawah pun digiatkan, kegiatan lomba-lomba diikutsertakan. Walaupun hanya mencapai juara 3 dan juara harapan, tetapi cukup membuat orang tua dan anak-anak senang.

“Yang penting mereka (siswa) berani tampil didepan umum, sebab pengalaman yang tidak akan pernah terulang,” katanya sambil tersenyum.

Dimutasi ke SDN Malabar

Disaat SD Negeri Kampung Sawah sudah mulai bagus, Lilis Kustriani di mutasikan ke SD Negeri Malabar. Menurutnya, kondisi saat datang kesana memang keadaan ruang cukup baik. Ada 3 ruang yang masih bagus karena memang baru direhab. Kelas yang lain masih kondisi baik walau itu kelas yang lama.

“Jumlah ruang cukup banyak, ada 12 ruang , tetapi jumlah siswa lebih sedikit dari SD Negeri Kampung Sawah, sehingga ada ruang yang digunakan untuk tempat menyimpan alat-alat kesenian walaupun kondisi alat-alat itu sudah tidak bagus lagi karena tidak dipergunakan,” ungkapnya.

Baru beberapa bulan di SD Negeri Malabar kata Lilis Kustriani, Indonesia bahkan dunia terlanda Covid, sehingga semua kegiatan dihentikan, termasuk kegiatan belajar di kelas. Semua belajar di rumah, guru-guru bergantian ke sekolah dengan diberlakukannya WFH -WFO. Hampir semua kegiatan berbasis digital. Rapat -rapat dan pertemuan melalui zoom. Sepertinya dunia terasa sepi, tanpa celoteh anak-anak murid di sekolah.

” Banyak siswa maupun guru yang terkena covid, sehingga harus benar-benar diisolasi. Tak terkecuali saya,” tuturnya sedih.

Tahun 2021 Terkena Covid Hingga Dirawat di RSUD

Selama 12 (duabelas) hari di RSUD kota Bogor sungguh merupakan kejadian yang sangat mengerikan bagi Lilis Kustriani. Bagaimana tidak, dalam ruang yang berjumlah 8 pasien covid itu, setiap malam selalu ada yang meninggal sampai pada malam yang keempat, bahkan dirinya merasa mungkin malam ini gilirannya, karena saat itu seluruh tubuhnya merasa lemah dan lupa.

Baca :  Penilaian Penjaskes, SDIT Birru Wattaqwa dan TK Al-Furqon Gelar Studi Wisata

“Segala tasbih dan zikir yang biasa saya bisikan tidak dapat terucap karena lupa. Ingatan saya terasa kosong tak ada satupun zikir yang ada dalam ingatan, kecuali astagfirrallahaladzim,” katanya Lilis Kustriani mengingat pengalamannya itu.

Entah dihari keberapa, ingatannya mulai kembali semua tasbih dan zikir yang selalu dibisikan perlahan mulai terucap dan melihat pasien-pasien dikiri kanan sudah berganti lagi.

“Saya mulai ada semangat, sudah mulai bisa ke kamar mandi sendiri, sudah mulai bisa memberi semangat kepada pasien yang lain. Alhamdulillah saya bersyukur, setelah 12 hari dirawat di RSUD kota Bogor akhirnya bisa pulang ke rumah, begitu pula dengan suami,” Kata dia.

Setelah kembali beraktifitas di sekolah sungguh sangat menyenangkan. Bertemu dengan guru-guru dan anak-anak di sekolah. Setelah covid berlalu, kegiatan kembali digalakkan, segala ektrakurikuler dan belajar di luar kelas dan di luar sekolah. Kegiatan lomba-lomba mulai diikuti kembali. Baik di lingkungan Dinas Pendidikan kota Bogor maupun diluar Dinas Pendidikan.

Satu tahun setelah terkena covid saya dirawat kembali, kali ini menurut dokter karena adanya TBC Otak atau maningitis ringan dan harus berobat selama satu tahun kedepan.

Alhamdulillah sampai memasuki masa pensiun masih bisa beraktifitas walau harus terbatas, karena keadaan penyakit yang menuntutnya tidak boleh dalam keadaan lelah.

Terima SK Purna Tugas

Pada tanggal 1 Mei 2023 menerima SK Pensiun. Tamatlah sudah riwayat perjalanan selama 40 tahun mengabdi sebagai guru sampai disitu. Menurutnya, tidak ada yang lebih baik lagi yang dapat persembahkan untuk dunia pendidikan dan Dinas Pendidikan Kota Bogor.

“Saya berharap semoga semua kerja yang dilakukan semuanya baik dimata Allah. Aamiin,” ucapnya.

Sebelum mengakhiri, Lilis Kustriani berpesan kepada guru-guru yang masih aktif dan masih muda jangan pernah merasa lelah untuk berusaha dan belajar. Apalagi di masa digital seperti ini harus mau selalu belajar dan mengikuti perubahan.

“Seperti pesan sebuah iklan di TV : ikuti perubahan atau ketinggalan zaman. Guru-guru jangan pernah menolak apabila mendapat tugas pelatihan atau seminar maupun tugas tambahan lain, karena itu merupakan kesempatan yang tak akan terulang,” ujar Lilis Kustriani memotivasi.

Biodata
Nama : Lilis Kustriani
Tempat, tanggal lahir : Bogor, 19 April 1963.
Prestasi :
-Juara 3 Guru Teladan Taman Kanak-Kanak.
-Juara 1 Lomba Menulis tingkat Jakarta Timur dan Juara 3 Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh BKKBN Pusat.
-Penulis buku pelajaran IPS Kelas 3 Penerbit Erlangga Tahun 1998.
-Juara 2 Guru Berprestasi tingkat kecamatan Bogor Tengah Tahun 2013.