BANTEN (LEAD.co.id) – Pernyataan BEM Nusantara (Bemnus) Korda Banten terkait Aksi Buruh beberapa waktu lalu dinilai telah memperkeruh suasana. Pasalnya, pernyataan tersebut dianggap lebih pro terhadap Gubernur Banten dan menyakiti perjuangan buruh.
Khadafi Mauludin, Presma STISIP Banten Raya mengecam BEM Nusantara Korda Banten karena telah menyampaikan pernyataan yang menyakiti hati buruh yang sedang berjuang untuk menuntut kenaikan upah.
“Kami dari BEM STISIP Banten Raya mengecam kepada Korda Bemnus Banten untuk segera menarik kembali pernyataannya dan meminta maaf kepada para kaum buruh,” tegas Khadafi dalam keterangannya, pada Minggu (26/12/2021).
Pihaknya juga menyatakan bahwa, dalam hal ini harus bertindak secara jelas dan mengkaji isu yang terjadi. Karena, sebagai mahasiswa perlu ada kajian kajian yang matang sehingga bisa mengambil sikap yang relefan.
Pernyataan yang dinilai menyudutkan buruh itu disampaikan oleh Mad Hapip, Ketua Bemnus Korda Banten bersama perwakilan mahasiswa dari sejumlah kampus di Banten, pada Jumat (24/12).
Dalam pernyataan sikapnya, Bemnus Banten mengecam tindakan oknum buruh yang melakukan aksi dengan memasuki kantor Gubernur Banten. Pihaknya juga mengaku prihatin atas hilangnya marwah Pemda Banten akibat aksi tersebut.
“Kami perihatin atas hilangnya marwah Pemerintah Provinsi Banten akibat aksi anarkisme dan arogansi oknum buruh sehingga menciptakan polarisasi di masyarakat,” sebutnya.
Pernyataan Bemnus itu merespon demonstrasi buruh dan mahasiswa yang berujung menduduki Kantor Gubernur Banten, Wahidin Halim, di Serang, pada Rabu (22/12). Para buruh menuntut kenaikan upah minimum kabupaten / kota (UMK) Provinsi Banten tahun 2022.
Menurut Khadafi, kejadian itu wajar ketika buruh memperjuangan Haknya untuk kelayakan. Seharusnya, Gubernur bisa duduk bersama dan menghampiri buruh untuk menjelaskan sikap yang tidak akan menaikan upah.
“Seharusnya Gubernur bisa berdiskusi atau berdialog dengan buruh dan mahasiswa sehingga tidak akan terjadi hal seperti ini,” ungkapnya.
Kecaman juga disampaikan oleh Sekretaris Jendral Serikat Mahasiswa Sosialis Demokratik (SWOT) Cabang Serang, Juni Akbar Alfirman. Menurutnya, Bemnus lebih memilih untuk membela Wahidin Halim tapi tidak tampak batang hidungnya saat Gubernur melukai hati buruh.
“Klaim perwakilan mahasiswa tapi kok melindungi marwah penguasa yang jelas-jelas sudah menghina kaum buruh, yang sampai saat ini (buruh) sudah menjadi motor pergerakan,” ujar Juni kepada awak media, pada Sabtu (25/12).
Juni juga heran dengan sikap Bemnus yang menyatakan aksi buruh telah menghilangkan marwah Pemprov Banten. Padahal, Gubernur Banten sendiri yang menghilangkan marwah Pemprov, dengan melecehkan buruh.
“Ini yang malah menghina marwah pergerakan, yang seharusnya mereka ikut berjibaku dengan buruh menuntut keadilan,” tegasnya.
Reporter: Hasanuddin
Editor: Aru Prayogi





