Komjen Listyo Sigit dan Komitmennya dalam Menjaga Alam Indonesia

0
IPW, Kabareskrim, Rekonstruksi, KM 50, Laskar FPI, Final
Kabareskrim, Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo, saat konferensi pers di depan kantor Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, pada Selasa (15/12/2020).

Oleh: Rizqi Fathul Hakim

Sejarah kebakaran hutan yang terjadi di hutan Riau dan Kalimantan pada tahun 1997 disebut sebagai kasus kebakaran hutan terparah dalam sejarah bangsa Indonesia. Akibat terbakarnya hutan Riau dan Kalimantan yang berlangsung selama Tujuh Bulan tersebut, satu pesawat Garuda Air Bus 300 dikabarkan terjatuh di sebuah ladang warga di Deli Serdang. 234 Orang di dalam pesawat tersebut dinyatakan tewas. Sedangkan kepulan asapnya telah mencemari udara negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Brunei. Bahkan Australia pun merasakan dampaknya. Menurut seorang pengamat Lingkungan Hidup dari Universitas Riau, Tengku Ariful Amri, kejadian mengerikan tersebut telah membuat langit Asia Tenggara menjadi gelap. Dan naas, kejadian tersebut kembali mengulang di tahun 2013, sekalipun dampaknya tidak separah seperti tahun 1997.

Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan [Karhutla] memang masih menjadi persoalan serius bagi bangsa Indonesia. Penyebab utamanya tentu adalah manusia itu sendiri. Imbas dari kerakusan manusia dan korporasi, Jutaan lahan Indonesia mengalami rusak berat. Dan kerugian materi yang disebabkan mencapai Puluhan Miliar Dolar. Itu pun belum ditambah dengan dampak jangka panjang yang sebabkan menurunnya kualitas kesehatan warga negara. Namun setahun belakangan ini, semenjak Presiden Jokowi menerbitkan Instruksi Presiden No. 3 tahun 2020 tentang penanggulangan Karhutla, grafik Karhutla di Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis. 66,13 persen angka Karhutla berhasil ditekan. Dan Bareskrim Polri bersama stakeholder lainnya bisa dikatakan berhasil menterjemahkan Inpres tersebut dengan sangat baik.

Baca :  Tangkal Radikalisme, ADMI Ajak Masyarakat Istigosah

Ketegasan Bareskrim Polri
Sepanjang tahun 2020 lalu, Bareskrim Polri berhasil mengamankan 141 tersangka. Dengan rincian 139 perseorangan dan 2 korporasi. Bila dibandingkan dengan data tahun 2019, jumlah tersangka yang diamankan berjumlah 453, dengan rincian 429 perseorangan dan 24 korporasi. Artinya jumlah pelanggar mengalami penurunan sebanyak 221 persen. Selanjutnya dalam soal luas lahan yang terbakar pada tahun 2020 lalu, Bareskrim Polri mencatat hanya 535,84 hektar lahan yang menjadi korban. Namun bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hampir 15 ribuan hektar lahan yang dikabarkan rusak. Artinya telah terjadi penurunan drastis seluas 15.169,3 hektar lahan, atau turun sebanyak 2.831 persen. Bagi penulis, hal ini dimungkinkan karena adanya ketegasan hukum tanpa kompromi yang memberikan efek jera bagi para pelanggar aturan. Dan pada posisi ini, peran Bareskrim Polri sangatlah vital.

Ikhtiar Bareskrim Polri
Melihat data di atas tentu kita patut optimis. Ketegasan Bareskrim Polri di bawah instruksi Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo untuk menyelamatkan alam Indonesia dari ancaman manusia dan korporasi yang culas patut diapresiasi. Bareskrim Polri bersama stakeholders lainnya bisa dikatakan berhasil dalam melakukan pencegahan dan meminimalisir kasus Karhutla di Tanah Air sepanjang tahun 2020 lalu. Sebagaimana yang diutarakan oleh Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri, Brigjen Syahar Diantono, dampak negatif dari Karhutla tidak hanya merugikan bangsa ini secara ekonomi, melainkan juga memberikan kerugian besar bagi kesehatan, ekologi, transportasi, perdagangan, industri, pariwisata, dan bahkan persepsi negatif dunia internasional terhadap Indonesia, khususnya mengenai Sawit.

Baca :  Indonesia dan Rusia Kerja Sama Tangani Covid-19

Sejumlah inovasi telah dibuat oleh Bareskrim Polri bersama stakeholders lainnya untuk mengantisipasi meluasnya Karhutla di Indonesia. Diantaranya adalah membuat menara pantau untuk mendeteksi titik api, dan juga membangun sejumlah kanal air untuk membatasi meluasnya Karhutla. Selain itu Bareskrim Polri pun menggencarkan patroli di sejumlah hutan yang rawan Karhutla. Tercatat Bareskrim Polri telah melakukan patroli sebanyak 42.270 kali pada tahun 2020 di 6 Polda. Dan Polda Riau tercatat sebagai Polda yang paling gencar melakukan patroli sebanyak 40.297 kali. Dan yang tak kalah urgennya adalah upaya Bareskrim Polri untuk melakukan sosialisasi massif dan intensif kepada masyarakat, pengusaha dan juga pemerintah daerah setempat agar tak keliru dalam memahami dan memperlakukan alam.

Baca :  KKW: Goresan Pena Jurnalis Menjadi Saksi Kemerdekaan Indonesia

Menurunnya kasus Karhutla di Indonesia sepanjang tahun 2020 lalu memang patut kita apresiasi. Berkat keseriusan, komitmen dan kerjasama sejumlah pihak, laju Karhutla di Indonesia mampu ditekan seminimalnya mungkin. Apalagi di bulan ini, tepatnya tanggal 10 Januari 2021, kita akan memperingati Hari Lingkungan Hidup Nasional. Sebagai anak bangsa, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam, seperti tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan plastik, tidak menebang pohon, banyak menanam pohon, dan masih banyak lagi. Hal tersebut sebagai bentuk nyata agar bumi yang kita tinggali bisa tetap indah, lestari, dan nyaman untuk ditinggali hingga generasi-generasi selanjutnya. Untuk mewujudkan alam yang lestari membutuhkan kerja sama yang baik dari setiap orang. Perlu saling mengingatkan agar orang-orang di sekitar kita bisa menjaga kelestarian alam.

Judul asli: “Hari Lingkungan Hidup Nasional; Komjen Listyo Sisit dan Komitmennya dalam Menjaga Alam Indonesia”

Penulis adalah Ketua Umum PB INSPIRA/Wakil Ketua DPD KNPI Kota Bogor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here