LEAD.co.id | Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network merilis hasil temuan dan analisis survei bertajuk “Matahari Tunggal di Pilkada Banggai. Dalam Koferensi Pers ini, Herwin Yatim (HY) disebut sebagai ‘Matahari Tunggal’ karena unggul diatas 50%.
Peneliti LSI, Ikrama Masloman menerangkan, HY disebut Matahari tunggal karena memenuhi empat kriteria; Pertama, memiliki elektabilitas atau angka keterpilihan yang kokoh, yaitu didukung oleh mayoritas publik dengan elektabilitas diatas 50%.
Keterpilihan HY mencapai 50,1 jika disimulasikan 9 kandidat, bahkan jika semakin sedikit calon elektabilitas HY semakin meningkat, 55,2 pada simulasi 5 nama, dan 58% hingga 62% jika hanya disimulasikan 2 kandidat atau head to head.
Kedua, selisih elektabilitas HY dengan kompetitor terdekatnya tapaut jauh, bahkan tidak hanya diatas 30% melainkan diatas 40%. Ketiga, Ketiga total swing voters atau mereka yang belum menentukan pilihan hanya tersisa 26%, lebih kecil dari elektabilitas HY, bahwa jika kita asumsikan semua pemilih mengambang memilih lawan HY, maka tidak mengancam keterpilihan HY.
Keempat, HY memiliki pemilih militan yang cukup kokoh, pemilih yang sudah mantap pilihan pada HY jumlahnya diatas 30%. Atau secara prosentase pemilih militan dari total pemilih HY diatas 60%.
“Bahwa kandidat matahari tunggal dalam pilkada banyak terjadi pada calon petahan yang memiliki legacy, atau warisan pembangunan yang bagus, sehingga masyarakat menginginkan terpilih kembali,” papar Ikrama melalui siaran pera yang diterima LEAD.co.id, Minggu (2/2/2020).
Di Indonesia, lanjut dia, terdapat beberapa kepala daerah yang dikenang sebagai matahari tunggal dalam pilkada. Seperti Joko Widodo pada pilkada surakarta 2010 yang terpilih diatas 90%, Rita Widyasari pada Pilkada Kutai Kartanegara menang dengan 85% suara, Tri Rismaharini pada pilkada surabaya tahun 2015 yang menang dengan 86% suara, Nurdin Abdullah pada Pilkada Bantaeng 2013 menang dengan suara 83%.
Konteks mereka sama dengan Herwin Yatim hari ini, punya elektabilitas tinggi, dengan selisih lebar dengan kandidat juga, posisi pemilih mengambang dengan pemilih militan yang solid.
Ikrama menutup waktu menuju pilkada masih tersisa 7 bulan lagi, dalam 7 bulan tersebut apapun bisa terjadi, menurutnya ada 3 kondisi yang bisa mengubah peta pertarungan di Banggai. Tiga kondisi ini pun yang akan menentukan siapakah yang menang dalam pilkada nanti. Ketiga kondisi tersebut yaitu;
Pertama, kemampuan kandidat menarik simpati pemilih ragu dan pemilih yang belum menentukan pilihan (swing voters). Juga mensolidkan pemilih yang masih soft supporter menjadi pemilih Strong Voters, dari yang ragu-ragu menjadi yakin dan militan.
Kedua, kemampuan kandidat menekan tingkat golput pendukungnya. Tingkat golput pun berpengaruh pada kemenangan kandidat. Kandidat yang besar dukungannya, namun besar pula pendukungnya yang tidak datang ke TPS maka besar pula peluang kalahnya. Kandidat yang menang adalah kandidat yang mampu meminimalisir jumlah golput pendukungnya.
Ketiga, kemampuan kandidat merespon isu negatif yang menyerangnya. Isu negatif berpengaruh pula pada dukungan. Terpaan isu negatif yang massif bisa menurunkan suara seorang kandidat. Juga menghindari blunder politik, seperti penyataan polemik yang tidak simpatik, terjadi kasus asusila atau kasus dugaan korupsi. (Red)

