Oleh: Fera Priyatna
Indonesia merupakan negara agraris dan agro maritim yang terbentang dari Sabang sampai Merauke dari pulau Mianga hingga pulau Rote. Sebagai Bangsa yang beragaman suku, ras, agama dan golongan, memiliki warisan budaya yang terbanyak, lebih dari seribu dua ratus budaya dan sumber daya alam yang melimpah. Tentu kita semua tahu bahwa Indonesia berada di peringkat ke-4 dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, mencapai 273 juta jiwa.
Jumlah tersebut harus berbanding lurus dengan kebutuhan, dalam memenuhi kesediaan pangan masyarakat, khususnya kebutuhan daging, telur dan susu. itu pula yang menjadi persoalan bersama, sebagai generasi muda yang terus bergerak dan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa, negara dan masyarakat. Seperti yang di singgung di atas bahwa banyaknya jumlah penduduk mempengaruhi ketersediaan pangan didalam negeri.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan pada bulan Maret, Indonesia telah melakukan impor daging sapi/kerbau yang mencapai angka 266.056 ton, di susul dengan susu yang mencapai angka 205 ribu ton pada tahun 2022, ini jelas bahwa kenaikan kebutuhan sumber protein hewani dari kedua komoditas tersebut berpengaruh nyata, bahwa sumber daya manusia (SDM) kita belum siap dalam menjawab kebutuhan pasar nasional. Berbeda dengan komoditas telur, justru memberikan dampak yang baik, beberapa bulan ini memperlihatkan surplus fluktuatif, antara produksi dan konsumsi. Tentu menjadi catatan baik untuk terus dipertahankan dan dikembangkan, agar memberikan pengaruh besar bagi bangsa Indonesia.
Generasi yang akan datang tentunya menjadi peluang besar untuk bersaing dengan negara-negara eksportir ke Indonesia dari sektor peternakan, diprediksi pada tahun 2030 Indonesia mengalami bonus demografi yang signifikan diisi oleh anak-anak generasi muda yang berusia 20-45 tahun, usia produktif untuk membuka peluang sebesar-besarnya di berbagai sektor khususnya peternakan. what do next?
Pengorganisasian rakyat (peternak), menjadi penting dalam tahap konsolidasi para peternak kecil yang berceceran di nusantara ini, perlunya metode Ten Step dalam membangun kesadaran serta pengorganisasian peternak, melihat peluang yang begitu besar di depan mata, bahwa bonus demografi merupakan hal yang sangat vital untuk kita terus bergerak dan berusaha semaksimal mungkin dengan membentuk skoci-skoci kecil yang di didik agar kemudian terdidik dengan keilmuan serta sadar akan diri sendiri untuk menghimpun dan berkelompok dalam membangun tatanan dunia baru yang menghasilkan produk peternakan seperti daging, susu, dan telur.
Mengintegrasikan diri, melakukan penyelidikan sosial, merancang program yang tersistem, manajemen SOP, sering mengadakan rapat ruitn, memainkan peran sebagai peternak, dengan aksi yang nyata, kemudian melakukan evaluasi setelah berjalannya program rencana besar, refleksi kan diri agar matang strategi dan mengorganisasikan dangan legalitas yang jelas agar semua bisa membangun kesadaran kolektif peternak. Ini pula yang kemudian senada, bisa dikolaborasikan dengan agenda Sekolah Peternakan Rakyat (SPR) dalam melaksanakan rencana besar untuk memenuhi kebutuhan pangan di masyarakat, hampir mencapai 10 tahun SPR tetap konsisten dengan rencana dan agenda besarnya.
Sebagaimana yang diungkapkan (Machiavelli) dalam bukunya Prinsip Kepemimpinan ”If you wish to please me, and to bring success and honour to yourself, do right and study, because others will help you if you help yourself”.
Dosen pengampu Analisis Peternakan Kontemporer, Prof. Muladno
Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana IPB, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP)

