Oleh: Dr Apendi Arsyad
Cukup ramai “bad news” di medsos bahwa Gubernur Riau (Gubri) ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kita hanya bisa mengelus dada..sambil bergumam kesal.ala maak. .”malang betul” kita menjadi orang asal Riau, tak ada yang dibanggakan para pemimpin daerahnya.
Sayang… ngak menjaga diri berdasarkan marwah Santri Ponpes.. PKB/Nadiyin.. Selama ini para politisi Riau, hidup mewah (hedonic style) saya mendengar rumor, mereka mengumpulkan financial capital, selain mengintil dana APBD berupa proyek2 fisik dan pengadaan barang dan jasa berupa fee commisi sekian persen, juga bergerak dalam jaringan mapia tambang illegal spt Peti di DAS Kuantan, dan lahan2 perkebunan, makanya sangat sulit memberantas Peti, illegal mining, dan illegal logging.
Bak kato urang Melayu Riau, “Enyo juo disitu/mapia” mereka bermain sandiwara…ndak mungkin penyakit KKN bisa hilang, sirna, karena bak pribahasa “pagar makan tanaman”.
Oknum.Pejabat dan oknum APH bagian dari jaringan illegal mining and illegal loging, etc.
Memang, ada problem struktural yang akut yang sedang melanda kehidupan negara-bangsa (nation state) Indonesia menjadi “negeri Kanoha bin Mapioso”. Salah satu faktor utama penyebab terjadinya negara bayangan (shadow state) adalah sangat kuatnya peran dan fungsi segelintir pemilik modal besar (oligarky) menjadikan oknum para pejabat dan kepala deerah spt Gubernur dan Bupati yang ada di Provinsi Riau, sebagai “jongos” intrumental korupsi yang efisien dan efektif, akhirnya ditangkap tangan KPK, sebagaimana yang terjadi pada diri Gubri Abdul.Wahid saat ini.
Kita sungguh prihatin dan merasa ikut malu, bahwa lulusan Ponpes/santri setelah mendapat amanah Gubri, tidak berakhlaq mulia (akhlaqul karimah) sbgmana perintah agama Islam (dinnulIslam) based on.Al Quran dan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW. Gubri Abdul Wahid sekarang menjadi pengikut seitan, rakus dan serakah (greedy) alias “edan binti bulus dan fulus”, bukan lagi karakter Santri yang berwatak terbaik (best character) yaitu berperilaku Waras bin Tulus dan Ikhlas karena Allah SWT, akhlaqul karimah.
Demikian narasi saya AA tentang latar belakang, mengapa Gubri Abdul Wahid terperosok ke sarang seitan dan ditangkap KPK karena korupsi yang dilakukannya. Sepertinya agak sulit kita mengatakan bahwa Gubri Abdul Wahid digelandang ke Jakarta, hanya sekedar diminta keterangan. KPK tsb yang kita kenal bekerja menunaikan tugasnya profesional. Semoga kita bisa menarik pelajaran dan hikmah dari kasus memalukan Korupsi Gubri yang untuk kesekian kalinya, jika tak salah sudah yang ke 4 orang Gubri masuk penjara, astaghfirullah halaziem.
Save Rakyat dan Save Nagori Melayu Bermarwah based on QnS.
Gallery and Ecofunopoly, Kp Wangun Atas Rt 06Rw 01 Kel.Sindangsari Botim City, West Java, Selasa 4 Nop 2025
Penulis adalah Dosen, Konsultan, Pegiat, Pengamat dan Kritikus Sosial melalui Tulisan-Tulisannya di Media Sosial dalam Rangka ikutserta berkontribusi keberhasilan visi dan misi Indonesia Emas 2045





